Monday, 20 December 2010

Tak Dapat Ilmu Sertifikat pun Jadi

Sekelompok orang memasuki ruangan sambil bercakap-cakap. Sesekali diselingi derai tawa. Kedua tangan mereka penuh dengan berbagai tentengan. Ada map berisi beberapa helai materi, buku catatan, pena, dan jadwal kegiatan. Sedangkan tangan yang lain menenteng nasi kotak. Di leher pun tergantung kokarde merah, kuning, biru, dan hijau. Dengan kokarde itu, menunjukkan bahwa mereka sebagai peserta pelatihan yang diadakan oleh sebuah lembaga.
Sejak beberapa tahun belakangan, pelatihan kerap diadakan oleh berbagai lembaga, baik lembaga pemerintah maupun nonpemerintah. Tujuannya meningkatkan keterampilan karyawan serta mutu kerja baik secara personal maupun berkelompok. Selain itu, juga menjadi poin penting dalam menunjang kenaikan jabatan dan tentunya gaji bagi karyawan atau peserta pelatihan, salah satunya ditandai dengan pemerolehan sertifikat pelatihan.
Berbagai ajang pelatihan pun digelar. Tak jarang sebuah pelatihan memakan biaya, waktu, serta tenaga yang tidak sedikit. Penyelenggara pun kerap mendatangkan pembicara yang tidak hanya cerdas, luwes, namun juga menghibur. Hal ini menjadi poin penting, karena sifat pelatihan biasanya lebih santai, terbuka, dan harusnya tidak membosankan.
Akan tetapi, banyak pula pelatihan diadakan hanya sebagai rutinitas tahunan atau seremonial tanpa mementingkan capaian-capaian tertentu. Pelatihan diadakan hanya sebagai pelengkap dari program kerja yang telah dicanangkan setahun lalu atau menghabiskan anggaran dana yang masih tersisa. Walaupun demikian, tetap saja pelatihan-pelatihan seperti ini ramai dikunjungi peserta. Tentu saja tujuannya tidak lagi menimba ilmu dan keterampilan, namun hanya untuk melengkapi koleksi sertifikat.
Motivasi penyelenggara dan peserta pelatihan yang telah bergeser ke arah lain, menjadikan pelatihan hanya sebagai kerja sia-sia. Ketika pelatihan usai, semua materi dan keterampilan yang diberikan pemateri tak jarang hanya tertinggal di dalam map. Hari-hari yang dihabiskan selama mengikuti pelatihan terbuang begitu saja. Hasil-hasil pelatihan pun hanya memenuhi memori kepala dan tak teraktualisasi dengan jelas. Kondisi ironi yang memiriskan hati.
Fenomena ini menggambarkan betapa sikap praktis (pragmatis) dan langsung (instan) masyarakat terhadap apa-apa yang diinginkan semakin kental. Sikap orang-orang yang menginginkan sesuatu dengan jalan pintas dan tak mengikuti proses serta tahap-tahap kegiatan (prosedur) tertentu. Padahal yang melakukan berasal dari kalangan terdidik dan tak jarang pula menjadi pedoman di masyarakat.
Sikap ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada acara-acara pelatihan. Tetapi juga merebak ke bidang lain yang lebih besar, seperti pendidikan, bidang usaha, kepolisian, departemen, atau bahkan kementerian negara. Sikap jalan pintas ini pun ikut mewarnai kehidupan berbangsa. Bahkan dalam beberapa keadaan, jalan pintas sudah dianggap biasa dan sah. Padahal sikap ini berbahaya dan merugikan tidak hanya diri sendiri tetapi juga orang lain.
Muara dari jalan pintas cenderung ke arah korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tiga sikap inilah yang memporak-porandakan Tanah Air hingga saat ini. Dengan jalan pintas seseorang dengan mudah, percaya diri, dan tanpa rasa bersalah melanggar aturan serta mengabaikan kewajiban dan hak-hak orang lain.
Jika diperhatikan lebih seksama dalam sebuah pelatihan, jangan heran beberapa peserta berbisik kepada panitia, “Saya tak bisa hadir, si kecil sakit. Tapi besok saya akan jemput sertifikatnya, bisa kan?”. Panitia yang dibisiki mengangguk. Semua beres.

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^