Monday, 20 December 2010

Sisir

Pagi-pagi buta, aku sudah heboh kepada kakak perempuanku yang masih meringkuk dengan selimutnya di ranjang. Kubongkar rak yang berisi segala pernak-pernik perhiasaan yang biasa kami gunakan kemana-mana. Lemari pakaian semakin berantakan setelah kuobrak-abrik. Rak-rak buku pun tak ketinggalan kujamah. Mana tahu terselip di antara buku-buku. Aku berputar-putar mencari ke sana kemari. Namun, sisir sial itu tak kunjung kutemukan.
Hari ini aku akan ada pertemuan dengan orang-orang penting dari Jakarta. Pertemuan ini menyangkut masa depan beberapa orang di tempatku, termasuk aku. Banyak hal yang akan dibicarakan, masa lalu, masa sekarang, dan masa mendatang. Semuanya harus tampak lebih baik dan sempurna dari segi apa pun. Termasuk kerapian rambut, yang kata orang sebagai mahkota perempuan.
Nah, bagaimana dengan aku yang pagi ini tak juga menemukan sisir? Bagaimana mungkin aku keluar rumah dengan rambut acak-acakan seperti kucing habis bertengkar. Apa kata orang-orang itu kelak. Wajah pas-pasan, rambut panjang namun tak seperti mayang terurai, tetapi seperti mayang disapa angin puting beliung. Berantakan, tercecer kemana-mana, kusut, gatal, dan sangat membosankan. Duh emak, kali ini aku benar-benar pusing membayangkannya.
Seandainya sisir telah di tanganku, tentu aku takkan sepanik ini. Segera kusisir rambutku dari atas hingga ke bawah. Berulang-ulang itu kulakukan, agar rambutku semakin rapi dan mudah ditata. Tak ketinggalan kuusapkan pelembut rambut, gunanya selain mengharumkan rambut juga membuat rambut tak mudah patah. Terakhir aku akan menjepitkan sebuah jepitan rambut merah muda di sebelah kanan. Jepitan ini akan membantu penglihatanku agar lebih jelas karena tak lagi terhalangi poniku yang mulai memanjang. Tentu penampilanku akan semakin menarik dan menawan, bukan?
Akan tetapi sisir tak juga menampakkan diri. Waktu terus berjalan. Kakakku pun tak menghiraukan kecemasanku. Seharusnya ia bangun dan coba membantuku menemukan sisir itu. Jika tidak, sekurang-kurangnya ia menghiburku dan memberikan usul dari tempat tidur, bagaimana kalau dipinjam dulu sisir tetangga. Sisir tetangga? Hatiku berkata, mana ada tetangga sudi membukakan pintu pagi-pagi buta ini hanya untuk meminjamkan sisir. Lain halnya jika aku memberikan dua mangkuk bubur ayam hangat untuk sarapan mereka. Ini traktiran ulang tahun. Ah omong kosong.
Lalu seharusnya apa yang aku lakukan? Menyisir rambut dengan sepuluh jari tangan, bak artis-artis ketika bernyanyi di televisi itu. Bisa saja. Namun, rambut mereka telah disisir terlebih dahulu, sedangkan rambutku masih awut-awutan. Rambut mereka jauh lebih lembut, harum, dan kuat. Perawatan yang mereka lakukan lebih sempurna. Mereka tentu lebih kerap ke salon dengan perlengkapan terlengkap daripada aku yang ke salon murahan hanya pada tanggal muda. Sepuluh jari tangan ini takkan menjinakkan rambutku yang bebal, bisik hatiku.
Aku kehabisan tenaga mencari sisir dan merenungkan semua kemungkinan-kemungkinan tadi. Kakakku ternyata tak kunjung bangun. Ia masih asyik dengan mimpi-mimpi subuhnya. Jam beker telah menunjukkan pukul enam pagi. Aku tak ingin terlambat. Kusisir rambutku dengan jari-jari tangan seadanya. Kuangkat, kurapikan, dan kuikat rambutku dengan karet warna-warni. Cermin pun memantulkan wajahku dengan senyum dipaksakan. Tak apalah. Kali ini rambutku memang mirip mayang terburai-burai.

Tak Dapat Ilmu Sertifikat pun Jadi

Sekelompok orang memasuki ruangan sambil bercakap-cakap. Sesekali diselingi derai tawa. Kedua tangan mereka penuh dengan berbagai tentengan. Ada map berisi beberapa helai materi, buku catatan, pena, dan jadwal kegiatan. Sedangkan tangan yang lain menenteng nasi kotak. Di leher pun tergantung kokarde merah, kuning, biru, dan hijau. Dengan kokarde itu, menunjukkan bahwa mereka sebagai peserta pelatihan yang diadakan oleh sebuah lembaga.
Sejak beberapa tahun belakangan, pelatihan kerap diadakan oleh berbagai lembaga, baik lembaga pemerintah maupun nonpemerintah. Tujuannya meningkatkan keterampilan karyawan serta mutu kerja baik secara personal maupun berkelompok. Selain itu, juga menjadi poin penting dalam menunjang kenaikan jabatan dan tentunya gaji bagi karyawan atau peserta pelatihan, salah satunya ditandai dengan pemerolehan sertifikat pelatihan.
Berbagai ajang pelatihan pun digelar. Tak jarang sebuah pelatihan memakan biaya, waktu, serta tenaga yang tidak sedikit. Penyelenggara pun kerap mendatangkan pembicara yang tidak hanya cerdas, luwes, namun juga menghibur. Hal ini menjadi poin penting, karena sifat pelatihan biasanya lebih santai, terbuka, dan harusnya tidak membosankan.
Akan tetapi, banyak pula pelatihan diadakan hanya sebagai rutinitas tahunan atau seremonial tanpa mementingkan capaian-capaian tertentu. Pelatihan diadakan hanya sebagai pelengkap dari program kerja yang telah dicanangkan setahun lalu atau menghabiskan anggaran dana yang masih tersisa. Walaupun demikian, tetap saja pelatihan-pelatihan seperti ini ramai dikunjungi peserta. Tentu saja tujuannya tidak lagi menimba ilmu dan keterampilan, namun hanya untuk melengkapi koleksi sertifikat.
Motivasi penyelenggara dan peserta pelatihan yang telah bergeser ke arah lain, menjadikan pelatihan hanya sebagai kerja sia-sia. Ketika pelatihan usai, semua materi dan keterampilan yang diberikan pemateri tak jarang hanya tertinggal di dalam map. Hari-hari yang dihabiskan selama mengikuti pelatihan terbuang begitu saja. Hasil-hasil pelatihan pun hanya memenuhi memori kepala dan tak teraktualisasi dengan jelas. Kondisi ironi yang memiriskan hati.
Fenomena ini menggambarkan betapa sikap praktis (pragmatis) dan langsung (instan) masyarakat terhadap apa-apa yang diinginkan semakin kental. Sikap orang-orang yang menginginkan sesuatu dengan jalan pintas dan tak mengikuti proses serta tahap-tahap kegiatan (prosedur) tertentu. Padahal yang melakukan berasal dari kalangan terdidik dan tak jarang pula menjadi pedoman di masyarakat.
Sikap ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada acara-acara pelatihan. Tetapi juga merebak ke bidang lain yang lebih besar, seperti pendidikan, bidang usaha, kepolisian, departemen, atau bahkan kementerian negara. Sikap jalan pintas ini pun ikut mewarnai kehidupan berbangsa. Bahkan dalam beberapa keadaan, jalan pintas sudah dianggap biasa dan sah. Padahal sikap ini berbahaya dan merugikan tidak hanya diri sendiri tetapi juga orang lain.
Muara dari jalan pintas cenderung ke arah korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tiga sikap inilah yang memporak-porandakan Tanah Air hingga saat ini. Dengan jalan pintas seseorang dengan mudah, percaya diri, dan tanpa rasa bersalah melanggar aturan serta mengabaikan kewajiban dan hak-hak orang lain.
Jika diperhatikan lebih seksama dalam sebuah pelatihan, jangan heran beberapa peserta berbisik kepada panitia, “Saya tak bisa hadir, si kecil sakit. Tapi besok saya akan jemput sertifikatnya, bisa kan?”. Panitia yang dibisiki mengangguk. Semua beres.

Pelatihan Nan Mencerahkan

Apa yang terbayang ketika mendengar kata pelatihan, workshop, ataupun training? Sekumpulan orang menenteng map berisi beberapa helai materi, notebook, pena, dan jadwal kegiatan. Tak ketinggalan di leher tergantung kokarde merah, kuning, biru, atau hijau. Saban hari, biasanya, berkutat dengan teori-teori, pendekatan, hipotesis, dan sedikit latihan dalam ruangan ber AC yang melenakan. Setidaknya seperti itu gambaran pelatihan yang kerap dilaksanakan baik oleh badan pemerintahan ataupun badan usaha atau lembaga nonpemerintah.
Sementara itu, sejauh apakah penularan ilmu dari pemateri atau instruktur kepada peserta selama pelatihan berlangsung? Apakah ilmu yang diperoleh dapat diterapkan langsung pada lembaga dimana peserta bekerja? Atau hanya sebagai penyegaran bagi peserta pelatihan? Keefektivitasan pelatihan pun disangsikan.
Pelatihan yang dilaksanakan oleh suatu lembaga, guna meningkatkan keterampilan karyawan serta mutu kerja baik secara personal maupun berkelompok, tak jarang memakan biaya, waktu, dan tenaga yang tidak sedikit. Penyelenggara juga kerap mendatangkan pembicara yang tidak hanya cerdas, luwes, namun juga menghibur (entertainer). Hal ini menjadi poin penting, karena sifat pelatihan biasanya lebih santai, terbuka, dan harusnya tidak membosankan.
Fenomena pada kehidupan nyata, bagi penyelenggara, kebanyakan pelatihan hanya sebagai pelengkap dari program kerja yang telah dicanangkan setahun lalu. Pelatihan juga kerap menjadi ajang seremonial dan rutinitas lembaga, atau menghabiskan anggaran dana yang masih tersisa. Sedangkan bagi peserta sendiri, pelatihan dibatasi hanya sebagai penambah wawasan dalam bidang tertentu. Bahkan ada yang berpendapat, pelatihan hanya sebagai pengisi waktu lowong peserta. Sehingga jangan heran dengan pendapat hampir seluruh pelatihan memberi manfaat perluasan wawasan pada peserta, demikian juga hampir seluruh pelatihan gagal membenamkan kompetensi yang melekat dan terpakai untuk kurun waktu yang lama bagi peserta pelatihan.

Beberapa pendapat baik dari penyelenggara maupun peserta pelatihan, kedua belah pihak terang-terangan menepikan isi atau subtansi pelatihan itu sendiri. Padahal selayaknya konsep pelatihan tidak hanya terfokus menambah wawasan peserta, sebanyak mungkin menerangkan kearifan atau kebijaksanaan, atau perbincangan yang penuh dengan teori-teori. Namun, yang menjadi target utama adalah pemerolehan dan penguasaan keterampilan atau skill peserta yang nantinya bisa diadu setelah keluar dari ruangan pelatihan.
Selain keterampilan, pembelajaran juga menjadi sasaran pokok yang harus dipupuk dalam pelatihan. Dua hal ini tak bisa dengan mudah diabaikan, karena di sinilah letak berhasil atau tidaknya sebuah pelatihan. Poin penting pada pembelajarn dan keterampilan, menjadikan peserta lebih berpeluang dan tidak segan-segan menerapkan ilmu yang didapat di tempat peserta berasal.
Untuk mewujudkan hal ini, sejak semula ditekankan adanya kesepakatan-kesepakatan antara penyelenggara pelatihan dengan peserta pelatihan. Hubungan pelatih dengan siapa yang dilatih harus sesuai dan tidak bertentangan. Penyelenggara pelatihan harus mampu menggabungkan (sinergi) tujuan-tujuan pelatihan pada masing-masing pihak. Hal ini bertujuan untuk menyerentakkan (sinkron) kebutuhan pelatihan dengan proses pembelajaran sebagai bekal peserta untuk diterapkan nantinya. Dengan demikian tidak ada materi yang disampaikan berlebihan atau kurang dari apa yang dibutuhkan peserta pelatihan.
Momok selanjutnya adalah pascapelatihan. Setelah mengikuti pelatihan tidak sedikit pengetahuan yang didapat peserta tertinggal di dalam map atau sudah tak ingat sama sekali. Hasil-hasil pelatihan pun hanya memenuhi memori kepala dan tak teraktualisasi dengan jelas. Salah satu penyebabnya adalah lingkungan kerja yang tidak mendukung. Dalam kondisi ini evaluasi dari organisasi pun dinantikan. Organisasi sebaiknya jemput bola atau menagih pembelajaran dan keterampilan yang telah didapat peserta sewaktu pelatihan. Alhasil, pelatihan yang diikuti akan memberikan pencerahan, tidak hanya bagi individu tetapi juga organisasi.

PERTAMINI ANAK ECERAN PERTAMINA? Bukan


As (25 th), pemilik kios bensin yang terletak di Desa Lubuk Sanai, Kecamatan XIV Koto, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu ini (19/11), mengaku bahwa nama kios bensin miliknya ini adalah bagian dari strategi dagang pribadinya. Tidak ada hubungannya dengan Perusahaan Tambang Minyak Indonesia (Pertamina), “Orang-orang penasaran, jadi beli minyak (bensin) ke saya.” Jadi, siapa bilang plesetan hanya bisa dijual oleh dan di pulau Jawa, di atas selembar kaos Dagadu misalnya? Jangan-jangan strategi ini memang khas milik Nusantara.

Jika Telah Senja

Setelah sepertiga abad pengabdian, tiba saatnya bagiku menyingkir dari semua tetek bengek berbau penelitian, seminar sana sini atau membuat jurnal. Kegundahanku terhadap perangai mahasiswa di tempat selama ini mengajar, tak lagi menyerang. Tiga bulan lalu, pasangan hidup teramat aku cintai tak lagi menemani hari-hariku. Istriku, dalam keadaan sehat-sehat saja, tiba-tiba tersedak dan meninggalkan kehidupan fana ini.
Waktu itu, adalah masa-masa tersulit bagiku. Usiaku yang merangkak senja, membuatku lebih cepat lelah dari sebelumnya. Pemikiranku katanya selalu kontroversi di kampus, tak kupungkiri dan aku semakin membutuhkan seseorang yang mampu memahamiku luar dalam. Keberadaan istriku, selalu menghangatkan pemikiran-pemikiranku. Kesediaan istriku terkasih, selalu melapangkan semua kesesakan yang mendera. Istriku tempat bertanya sekaligus pasangan luar biasa yang pernah aku miliki. Namun kini berbeda.
Sejak itu, separuh dari roh kehidupanku lamat-lamat menguap dan hilang. Pagi-pagi buta, seperti kebiasaan kami dulu, aku bersama istri menghabiskan subuh menonton berita, berbincang tentang cucu nan lincah dan lucu, serta keluhan pekerjaan di kampus sambil menyeruput teh bercampur ampas buatannya. Subuh ini, dengan sisa-sisa tenaga, kucoba tuangkan air panas dari termos ke dalam mok yang biasa kupakai. Tertatih-tatih tubuh renta ini menggapai remot tivi di atas lemari. Memilih chanel, menyimak seadanya, menikmati teh, namun tak ada bincang-bincang karena ini bukan pada rumah dahulu.
Waktu-waktu seperti ini, anak, menantu, dan tiga cucu kecil-kecil yang menemani, tepatnya aku menemani mereka, masih terlelap. Kesibukan anakku sebagai wartawan, menyita hampir seluruh waktu dalam sehari. Jarang terjadi perbincangan hangat dan panjang. Sekalipun itu di saat-saat makan. Sebagai kuli tinta, anakku acap kali tidak pulang, toh kalau pun pulang sudah larut malam. Keadaan ini, sengaja atau tidak, memberi jarak tersendiri bagiku. Mungkin anakku tidak merasa, namun bagiku adalah sebuah cambuk di hari tua. Aku masih ingin mendengar cerita-ceritanya seperti dulu.
Tak ada pilihan waktu itu. Aku harus sedia dibopong ke tanah Jawa, tempat kediaman anak sulungku. Surat pensiun memang telah kuterima sejak dua tahun lalu. Namun, aku memilih tetap aktif di kampus. Bergumul dengan dunia akademik memang tak pernah membuatku bosan atau kalah. Keadaan ini berubah ketika istriku menghadap Sang Khalik. Kali ini aku benar-benar pensiun. Aku memilih haluan lain. Tak lagi tertarik dengan dunia ilmiah, diskusi isu terbaru, atau pun mengkritisi kebijakan pemerintah yang acap kulayangkan dalam sepucuk surat, waktu dulu. Aku hanya di rumah. Dan tak mencoba menghubungi kolegaku di pulau ini. Aku begitu tertarik pada koran dan tivi.
Sesekali aku berjalan-jalan sore di sekitar kompleks perumahan ditemani cucuku. Dengan kaos oblong putih dan celana hitam panjang, kuberharap kalau-kalau ada lelaki seusiaku yang hobi memelihara burung atau bersenang-senang dengan koleksi batu akik, yang dulu pernah aku geluti. Setidaknya hal tersebut dapat menyejukkan pikiranku sejenak setelah jenuh dengan tontonan yang sama. Tapi kadang-kadang aku juga mengenakan peci dan kain sarung. Bagaimana pun aku tetap berusaha menikmati kehidupan baruku. Sekalipun aku dipaksa berpikir ulang dengan sikapku ini.
Bagaimana bisa seorang profesor yang dikenal cerdas dan tangkas, tiba-tiba seperti kehilangan akal pikiran? Berbuat seperti orang yang tidak memiliki pedoman hidup. Padahal secara fisik dan mental, aku masih mampu berpikir dan bepergian ke tempat jauh. Pergi ke tempat dimana aku bisa menyalurkan semua keinginan dan kebutuhan yang selama ini aku minati. Hanya karena ditinggal mati istri, semua sendi-sendi kehidupanku lumpuh. Alahkah mengibakan nasib sang guru besar. Pikiran-pikiran ini kerap meracau dalam rongga benakku. Tapi dengan cepat kuhalau.
Enam bulan berlalu. Rutinitasku itu-itu saja. Hari-hari hanya dihabiskan di sekitar pekarangan rumah. Jika selama pengabdian, aku sering ke luar, bersua rekan-rekan kerja, dan bercengkerama tentang apa saja, namun saat ini semua membatu. Aku pun tak menyangka kehidupanku akan sebeku ini. Sebagai orang terbiasa sibuk, aku merasa ada sesuatu yang hilang serta berubah dari dalam diriku.
Aku sungguh-sungguh mulai bosan. Kesepian mendera. Acap kali aku panik dan hilang kontrol. Malam-malam dihabiskan kalau tidak menonton hingga dini hari atau hanya merenung. Tidurku pun tidak selelap dulu. Setiap mata akan terpejam, berbagai wajah dan suasana datang bergelayut. Kegelisahan pun bersarang hingga subuh. Ada saja yang menggelisahkanku. Ada saja yang menyita waktu lelapku. Atau kadang aku harus bolak-balik kamar tidur dan kamar mandi. Tiba-tiba aku merasakan betapa sengsara atau naifnya kehidupanku beberapa waktu ini.
Kenangan dengan mendiang istri selalu mengunjungiku. Mengingat-ingat berbagai kegiatan yang kulakukan bersama istri selama menjabat semakin kuat. Derai tawa dan teriakan mahasiswa-mahasiswaku pun ikut serta mengiang-ngiang memenuhi selaput kepalaku. Bayangan-bayangan diskusi alot tak ketinggalan melayang-layang di pelupuk mata. Semua menyatu. Kerinduan itu terulang kembali. Kerinduan yang mencabik luka lama. Jantungku berdetak cepat, perih di hulu hati, dan baru kusadari mataku acap kali basah beberapa waktu ini. Ah aku kekanak-kanakan sekali.
Tak terelakkan, kondisi ini menyebabkan tekanan darah dan kadar gula darahku pun meningkat. Pagi-pagi sekali, suara benda keras membentur pintu, bertubrukan dengan lemari dan seketika jatuh ke lantai membangunkan anak dan menantu. Itu aku. Aku tak kuasa membuka mata. Badanku berkeringat dan mengernyit menahan sakit. Raut tua nan lemah tentu begitu kentara dari mimikku. Denyut jantungku pun memburu. Dadaku sesak. Kucengkeram agar tak menjalar kemana-mana, dan tangan kiriku mengais-ngais sesuatu untuk berpegangan. Sebagian pakaian lusuhku basah dan amis. Ah kali ini sang profesor benar-benar kalah.
Seminggu sudah aku dirawat di rumah pesakitan. Untuk menurunkan hipertensiku dibutuhkan pola makan dengan gizi, vitamin, kadar gula, karbohidrat, serta protein yang selalu terjaga dengan baik. Begitu juga untuk mengembalikan kadar gula darah kepada keadaan normal. Semua itu dikerjakan dengan apik dan telaten oleh perawat. Jangan sampai ada kekurangan atau kelebihan. Kalau tidak aku akan semakin payah.
Perawatan ini tak bisa dilakukan oleh menantuku. Aku tahu menantuku tak bisa terus menerus menyiapkan makanan lengkap untuk diriku ini. Tiga buah hatinya menuntut menantuku lebih banyak di rumah dan mengemong bocah-bocah itu. Hanya tiga atau empat kali dalam seminggu, kalau tidak salah, menantuku membesuk dan membawakan makanan serta beberapa potong pakaian buatku. Selebihnya waktuku diisi bersama para perawat.
Sementara anakku yang wartawan itu, aku pun jauh lebih paham. Sebagai pekerja lapangan dan tonggak utama suatu media, sulit sekali bagi anakku mendapatkan libur atau cuti atau curi-curi waktu untuk membesukku. Untuk menggambarkan betapa kesibukan anakku menyita semua waktu, tak perlu kuperjelas sekali. Di mataku anakku itu seperti mesin. Itu saja. Namun, pagi ini perawat jagaku bercerita kalau semalam anakku datang berkunjung. Tak lama. Apalagi melihatku telah terlelap. Kata perawat itu, anakku hanya menanyakan kondisiku dan kapan aku bisa dibawa pulang. Kemudian anakku pergi setelah berpamitan.
Di tepi kolam yang kukira cukup dalam ini, kembali aku mengingat-ingat hal itu. Enggan rasanya aku kembali ke rumah. Memberatkan kehidupan anakku dan menantu. Acap kali pikiran ini melintas dalam benakku. Sejujurnya, dalam keluarga besarku, tak ada seorang ayah menumpang di rumah anak lelaki. Janggal dan tidak sesuai budaya kami. Ada juga di rumah anak perempuan, jika tidak di rumah keponakan. Sistem ini hidup dan kental dalam darah kami. Terakhir, timbul penyesalan kenapa aku mengiyakan ajakan menantuku tempo hari.
Apalagi menimbang kondisiku sekarang. Semua keperluanku, mandi, makan, istirahat dibantu perawat. Kemana-mana aku didorong bersama kursi roda. Untung saja perawatku di sini tidak mudah cemberut. Ya, karena memang itu sudah menjadi tanggung jawab mereka dalam bekerja. Selain berbaring, aku juga sering keluar kamar dan berjemur di taman gedung besar ini. Satu-satunya yang dapat kulakukan, memandang sekeliling dan meremas-remas tanganku yang selalu basah. Semakin mengiris bukan?
Sejauh ini anakku maupun menantuku belum menampakkan tindak tanduk kekesalan atau jemu denganku. Bagiku merawat seorang pensiunan guru besar yang sekarat sepertiku bukanlah hal mudah. Di tengah hiruk pikuk dan sibuknya kota beserta isinya, mana ada seorang jongos rela bekerja menjadi perawat kekek tua sepertiku. Masih banyak pilihan pekerjaan lain di luar sana. Aku gamang jika aku dikembalikan pada anak dan menantuku.
Seandainya aku tidak mengiyakan ajakan menantuku waktu memperingati seratus hari kepergian istriku, aku takkan semeranggas ini. Bayangan kampung halaman selalu melintas. Sebagai orang disegani, sekaligus penghulu, hakikatnya aku tak pantas bertingkah seperti ini. Kupahami, waktu-waktu kritis ini aku benar-benar butuh perlindungan dan perhatian khusus dari keluarga dekatku. Anak sulungku yang wartawan itu, mungkin satu-satunya. Bagaimana nanti jika tiba-tiba aku sesak napas, susah bicara, kejang, kemudian rohku melayang? Siapa yang akan menuntunku mengucapkan kalimah Allah? Atau di malam buta aku ingin bercerita dan berpesan, siapa yang akan menyimaknya? Beberapa ikan kecil-kecil tiba-tiba menyembul dari dasar kolam.
Kuredam semua gulana itu. Jangan lagi mendatangiku. Cukup sudah. Demi mengembalikan kepulihanku, biarlah aku di sini. Bersama anak lelakiku. Toh orang kampung tak melihat hidupku lagi. Mereka tahu apa tentang penyakitku. Kalaupun tahu, mana mungkin mereka datang kemari dan membantu membayar pengobatanku. Impossible.
Suara lain menyahut, entah dari mana. Tapi, aku telah mengorbankan harga diri sebagai seorang ayah, mertua, penghulu, dan orang cerdik yang paham adat serta budaya kami. Kenapa aku harus melanggar itu. Hanya demi tak tahan hidup tanpa istri, aku lebih memilih menumpang hidup dengan anak lelakiku jauh di seberang. Kemudian membiarkan saja anak gadisku di kampung, hanya karena ia ditinggal mati suaminya dan enggan menikah lagi.
Yang lain berbisik. Ya, kenapa pula aku harus tinggal dengan anak gadis yang janda itu. Apa kata orang. Ayah dan anak perempuan tinggal serumah yang sama-sama ditinggal mati istri dan suami. Itu tidak arif. Tidak patut dan bukanlah pekerjaan seorang cerdik pandai yang selama ini jadi panutan orang-orang. Salah anak gadisku, kenapa tidak menerima pinangan dari salah satu mahasiswa magisterku dulu. Padahal aku telah susah payah mencarikan pengganti menantuku yang mati tertabrak kereta api itu.
Akan tetapi, bukankah seharusnya aku menjadi tempat berlindung, bersandar, dan tumpuan anak gadisku waktu itu, gumam suara lain. Masa aku tega menelantarkan anak gadisku dalam keadaan pahit. Bagaimana juga dengan pandangan arwah istriku. Apakah ia sakit dan sesenggukan di alam sana? Melihat putrinya ditinggal pergi oleh sang suami dalam keadaan begitu terpukul. Ah istriku, maafkan aku. Waktu itu yang terpikirkan, aku hanya ingin dekat dengan cucu-cucu kita. Makhluk-makhluk mungil yang mampu melupakan kerinduanku padamu.
Entah bagaimana, aku tak lagi merisaukan bagaimana keadaan dan keseimbangan adat di kampung kita. Tak lagi mengidahkan bagaimana pandangan orang kampung terhadap keluarga kita, kaum kita, dan anak gadis kita sekarang di sana. Mungkin di sana aku dimaki, dicaci, dan disesali. Dan tentu yang merasakannya anak gadisku itu. Oh, pasti dia lebih merasakan sakit yang dalam daripada yang aku rasakan saat ini. Seharusnya aku malu dan kembali ke kaumku. Kemudian memperbaiki keadaan. Bukan justru berlama-lama di sini.
Berkecamuk semua dalam benakku. Tak tahu lagi suara mana yang kupedomani. Sekelilingku sepi. Ini waktunya mandi bagi pasien sepertiku. Perawat yang sedari tadi memperhatikanku dari sepelemparan batu aku berjemur, kusuruh ke ruangku mengambilkan sebutir jeruk. Ingin sekali aku mengudapnya. Ikan-ikan kecil tak tampak lagi. Namun, dadaku mulai sesak dan semakin sesak. Semua berputar-putar. Halusinasi orang-orang kampung semakin menyeruak. Raut isak istriku jelas di riak kolam. Tubuhku sempoyongan dan hilang kontrol. Terjerembab ke dalam kolam. Dan semua menjadi jelas, ayahmu tak secerdik dulu.

2010 Padang 17. 20 PM