Tuesday, 30 November 2010

SKS dan Revolusi

Sejak diberlakukannya Sistem Kredit Semester (SKS) bagi mahasiswa dimulai sekitar tahun 1978 hingga sekarang, kegiatan mahasiswa di kampus memang lebih banyak terfokus bagaimana menuntaskan beban SKS tersebut dan segera tamat. Beban SKS, untuk mahasiswa SI minimal 140-160, cukup membuat mahasiswa tak bisa berpaling ke bidang lain selain akademik. Mahasiswa diikat dan didera dengan bagaimana menuntaskan seratusan lebih SKS tersebut dalam rentang waktu 8 hingga 14 semester, yang tentunya dengan nilai IPK atawa predikat memuaskan. Kalau tidak, drop out pun menunggu.
Alhasil kerja mahasiswa selama kuliah hanya belajar dan segera mencapai target kelulusan. Padatnya jadwal kuliah serta bejibun tugas akademik semakin memberi jarak mahasiswa dengan kegiatan-kegiatan sosial kampus dan kegiatan berorganisasi. Mahasiswa harus berpikir seribu kali untuk ikut dalam sebuah organisasi, apalagi organisasi berbasis pergerakan. Mereka tak lagi punya waktu banyak untuk mengurusi fenomena masyarakat. Hingga sampai saat ini terkesan pergerakan mahasiswa mandul jika dibandingkan dengan masa Orde Lama maupun Orde Baru.
Kesibukan belajar seolah-olah mematahkan sense of social mahasiswa terhadap realita di masyarakat. Pemikiran-pemikiran mahasiswa cenderung pragmatis dan lena dengan keadaan yang ada. Peran mahasiswa sebagai agent of change, control social, dan iron stock yang digadang-gadangkan juga habis dilumat oleh kerasnya tuntutan akademik di kampus. Padahal sejarah mencatat bagaimana gerakan mahasiswa, baik pada penggulingan Orde Lama tahun 66, gerakan mahasiswa 74, dan gerakan mahasiswa dalam rentang 80-an hingga yang teranyar Reformasi 98 lalu, mampu membangun people power yang meruntuhkan tatanan otoriter penguasa. Hal ini bisa menjadi semangat baru bagi mahasiswa untuk menghidupkan kembali pergerakan-pergerakan dan mengkritisi serta meluruskan kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat.
SKS ini dinilai banyak pihak, katakanlah itu aktivis serta pengamat pergerakan mahasiswa, salah satu cara pemerintah mengerdilkan kegiatan-kegiatan atau pergerakan mahasiswa untuk lebih peduli dan ngeh dengan berbagai kebijakan serta manuver dari pemerintah. Di sisi lain, tak jarang pemerintah memandang suara mahasiswa adalah suara yang selalu merongrong jalannya roda pemerintahan. Oposisi kelas kakap, namun kadang cukup mudah untuk dilumpuhkan dengan berbagai intrik, baik politik maupun lainnya.
Meskipun demikian, bebas SKS yang jauh semakin lebih besar, hendaknya bukanlah penghalang bagi mahasiswa untuk selalu eksis dalam pergerakan yang dikontruksi dengan masif. Para pendahulu telah menunjukkan taring, bagaimana peran mahasiswa mampu merubah tatanan pemerintah secara fundamental di negeri ini. Pledoi-pledoi akan beratnya beban kuliah, tuntutan ini itu yang bukan berlandaskan asas sosial dan rakyat bukanlah ide jitu untuk memalingkan muka dari peran mahasiswa seyogyanya. Tatanan demokrasi bagi Indonesia baru yang diidam-idamkan telah diusung, kini tinggal bagaimana mahasiswa mengeksekusi agar harapan dan impian ini tercapai. Atau diperlukankah sebuah revolusi?

Wednesday, 3 November 2010

Psikoterapi Islam


Judul : Obat Hati
Menyehatkan Ruhani dengan Ajaran Islami
Pengarang : Khairunnas Rajab
Penerbit : Pustaka Pesantren, kelompok LKiS Yogyakarta
Tebal : xvi + 138 halaman
Cetakan : Pertama, Agustus 2010
Harga : Rp 32.500,-
Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP


Seiring perkembangan zaman, sepuluh tahun terakhir, perkembangan teknologi dan pengetahuan semakin canggih dan pesat. Perkembangan ini menimbulkan permasalahan tersendiri bagi orang-orang. Apakah itu semakin tingginya tuntutan kerja, beribadah kepada Sang Khalik, ataupun fenomena alam yang semakin menakutkan. Tidak sedikit dari perkembangan zaman ini ‘memakan’ korban. Bukan korban secara fisik tetapi secara mentalitas, seperti depresi, stress, kegalauan, psikoneorosis, psikopathologi, kecemasan, kegalauan, dan kerisauan lainnya.
Alumnus Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang ini mengetengahkan sebuah metode pengobatan psikoterapi ala Islam, namanya psikoterapi Islam. Psikoterapi Islam semacam metodologi yang berupaya menggali nilai-nilai dan potensi yang terdapat pada pasien, baik tentang hubungannya dengan Tuhannya, sesama makhluk, dan dengan alam lingkungannya. Psikoterapi ini berorientasi pada penguatan hubungan emosional diri sendiri selaku pribadi, peningkatan ketakwaan pada Tuhannya, mewujudkan solidaritas sosial dalam komunitas, serta memperbaiki dan melestarikan kehidupan bagi lingkungan sekitarnya..
Alquran memberikan bimbingan, pengajaran, dan perawatan melalui kekuatan iman dan takwa terhadap perilaku buruk, membimbing umat manusia untuk berperilaku terpuji. Melalui buku ini penulis menawarkan kepada pembaca mengenai konsep-konsep yang bisa dimanfaatkan dalam ajaran Islam secara komprehensif, seperti konsep tauhid, konsep imam, dan konsep sufisme bagi pengobatan hati para pasien.
Buku ini menjabarkan bagaimana terapi-terapi psikoterapi Isami diterapkan pada pasien dengan beragam metode. Ada metode preventive (pencegahan dan pengawasan), curative (pengobatan dan perawatan), dan reconstructive and rehabilitative (bimbingan dan pembinaan). Metode-metode akan membantu pasien mengurangi ‘penyakit-penyakit hati’ tersebut. Buku yang handy bisa dibaca sewaktu senggang dan santai. Bahasanya yang ringan dan mudah dipahami, cocok bagi pasien yang mengikuti psikoterapi ini.