Wednesday, 20 October 2010

Ketika Perempuan ‘Gaul’ Berbicara


Judul : Dunia Padmini
Pengarang : Trie Utami
Penerbit : Pustaka Sastra, kelompok LKiS Yogyakarta
Tebal : xxiv + 254 halaman
Cetakan : Pertama, Oktober 2010
Harga : Rp 50.000,-
Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP


Satu lagi buku yang berbicara tentang perempuan dan seluk-beluknya lahir di tanah air Indonesia. Kali ini buku prempuan ini lahir dari tangan seorang seniman terkemuka di nusantara. Tentu cara si penulis menuturkan juga berbeda. Bisa saja dengan bahasa seni atau literer serta bisa pula dengan bahasa yang lebih serius.
Perempuan, bagi Trie, sosok yang seharusnya tidak melulu lemah dan objek yang dilindungi oleh kaum lelaki. Pada suatu ketika, kenapa tidak terjadi sebaliknya. Subordinasi terhadap perempuan sudah sepatutnya dikikis habis. Paradigma yang mengharuskan perempuan fokus untuk kerja pada bidang domestik, sudah selayaknya dibumihanguskan. Dengan buku ini Trie bercerita panjang tentang kehidupan berbagai sikap dan sifat perempuan yang pernah ditemui dan dikenalnya.
Dapur, kasur, dan sumur adalah peribahasa turun temurun bangsa ini, ini berkaitan erat dengan pola domestifikasi perempuan, sebagai cerminan struktur berpikir masyarakat yang patriarkhi. Pandangan ini telah diimplant ke alam bawah sadar kita sejak kecil sehingga dipercaya sebagai suatu kebenaran yang bersinggungan langsung dengan agama dan adat istiadat, dalam kaitannya dengan kodrat, dan itu adalah kebenaran Tuhan yang secara de-facto, memang benar perempuan memiliki tugas reproduksi yang spesifik.
Namun demikian, bukan berarti menelan mentah-mentah semua itu. Ketika lahir ke permukaan bumi, baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama dibekali dengan hati nurani dan kejernihan berpikir. Lantas, hanya karena konstruksi sosial tentang perempuan yang harus ‘mengabdi’ pada tiga ranah tadi adalah semacam harga mati yang tak boleh ditawar. Pandangan ini tidak hanya mengerdilkan kaum perempuan, namun juga lelaki.
Dari yang kita ketahui, Trie Utami, seorang seniman dengan berbagai talenta, yang kemudian menerbitkan sebuah buku, menarik untuk dibaca dan dipahami bagaimana alur berpikir Trie tentang perempuan di negeri ini. Latar belakang kehidupan Trie, yang jika tak mau dikatakan ‘tragis’, lebih ‘dahsyat’ dan kompleks bisa dipahami dari buku ini. Berbagai peristiwa kehidupan, khususnya tentang perempuan, dialami Trie dan dengan mudah kita ketahui melalui pemberitaan di media massa.
Melalui buku ini, Trie mencoba memberikan ‘semangat juang’ kepada kaum perempuan bagaimana memerdayakan semua potensi yang dimiliki tanpa pernah ragu, sungkan, dan takut ditentang. Padmini, tokoh sentral perempuan yang ia ciptakan dalam buku ini, menyuguhkan semua problema perempuan dan bagaimana mengatasinya tanpa menyakitkan kedua belah pihak, perempuan dan laki-laki.
Padmini dilahirkan sebagai perempuan modern yang tak mau sesuka sosial memaknai dirinya. Ia mencoba mendobrak semua pakem yang telah terpaku dalam masyarakat. Salah satu jalannya mengoptimalkan potensi diri, melalui pendidikan. Padmini tidak menyalahkan kenapa laki-laki selalu dan dianggap hebat. Dengan kata-katanya ia mencoba membangkitkan agar terlahir perempuan hebat, cerdas, brilian, dan dipuja sepanjang masa justru karena ia mampu mengangkat derajatnya dengan gigih belajar.
Buku ini semacam sugesti bagi kaum perempuan untuk selalu bisa mengambil titik proporsional dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan arif. Mempelajari semua kemampuan sebagai manusia, menggali semua potensi, dan kemudian melahirkan keyakinan dalam diri bahwa sebagai manusia, perempuan memiliki daya dan energi untuk melanjutkan hidup. Mampu berkata tidak ketika tidak berkenan, sanggup menolak hal-hal yang tidak disukai, tanpa harus memusuhi laki-laki, tanpa harus membenci laki-laki, tanpa harus menggempur laki-laki, dan tanpa harus bersikap dan bertindak seperti laki-laki.
Demikian Trie menjabarkannya kepada kita, kaum perempuan. Buku ini disertai dengan sub-sub judul, seperti Padmini dan anak Perempuan, Padmini dan Keperempuanan, Padmini dan Ketololan Perempuan, Padmini dan Poligami, serta sub judul lainnya yang tak kalah menarik untuk direnungkan. Buku yang handy ini cocok dibaca ketika senggang maupun menjelang tidur. Bahasanya yang sederhana, menyentuh, terkadang lucu mungkin memang sedikit menggambarkan watak si penulis. Desain sampul yang unik, ‘tajam’, disertai lukisan janin kembar sejoli, nyaris menduga buku ini bak buku primbon, namun tidaklah demikian.

Tuesday, 19 October 2010

Chemistrynya Mana?

“Chemistrynya mana tuh doi?” Tanya Irfan kepadaku.
“Bagaimana mungkin aku mabuk kepayang pada cewek yang punya lingkar pinggang 75 cm hah?” lanjutnya sambil memelototkan biji mata kepadaku. Seolah-olah benda bundar itu ingin melompat keluar dari sarangnya. Aku kaget alang kepalang. Sejak kami berkawan, baru kali ini Irfan berang dan kebakaran jenggot seperti mau kiamat saja. Suaranya lantang mencoba mengalahkan deru ombak.
“Kamu gila!” hardiknya sambil berlalu meninggalkanku termangu di bibir pantai. Apa benar aku sudah gila? Pikirku beberapa saat kemudian setelah punggung Irfan tak tertangkap lagi di ekor mataku.
***
Itu kali terakhir aku menawarkan sang pujaan hati, tentu cewek, diharapkan mampu mengobati patah tulang, eh patah hatinya Irfan kepada Fani. Fani, remaja gedongan asal ibukota, ibukota Jawa Barat, yang sudah sebulan ini mencuri pandang semua cowok di sekolah kami. Termasuk Irfan. Kalau aku, itu rahasia.
Fani memang manis. Tak satu pun para cowok tidak sepakat dengan simpulan itu. Bagaimana tidak, dia punya rambut panjang, hitam, dan sedikit bergelombang. Poninya nakal, kadang rela menampakkan mulus keningya kadang tidak. Kami, para cowok penasaran, di balik poni itu adakah sebongkah gunung merah bernana? Jerawatkah? Oh ternyata, kata Lastri ajudan Fani, takkan pernah ada. Kami lega.
Itu baru rambut, belum lagi mata, hidung, dagu, pipi, serta bibir dan giginya. Artis Tamara, Luna Maya, Dian Sastro, atau Paris Hilton, tak sebanding kawan. Jangan samakan Fani dengan selebritis yang kerap celebrate itu. Tak sepadan. Setidaknya pendapat ini masih dianggukkan banyak para cowok di sekolah kami. Fani, Fani, dan Fani.
“Fani benar-benar memiliki chemistry yang sesungguhnya,” ungkap kami.
Begitu juga Irfan yang tak pernah lupa memikirkan Fani. Agonia cinta Irfan kepada Fani memang berat dan tragis. Setidaknya kata ini sering kami ungkapkan untuk menggambarkan betapa Irfan tak bisa hidup tanpa Fani. Sejak Fani menginjakkan kaki ke sekolah kami, Santi dan antek-anteknya tak lagi dilirik para cowok. Aku paham betul kenapa Santi dieliminasi dalam iven yang bernama perebutan cinta dan kecantikan.
Irfan yang memang memiliki tongkrongan keren, baik tampang maupun yang mendukung tampang, seperti kendaraan, merk baju, sepatu, handphone, dan sepadannya tak perlu buang waktu lama untuk menjemput Fani ke dalam pelukannya. Cukup dua minggu lebih dua hari, Irfan dan Fani sudah seperti jalak dan kerbau. Simbiosis mutualisme, saling menguntungkan.
Berkat kami, tentunya keberhasilan Irfan menggaet Fani. Namun dalam benakku, bukannya aku sombong, akulah faktor penentu keberhasilan itu. Tanpaku Irfan bak macan ompong yang hanya mampu mengaum tapi tak bernyali menggigit.
“Alamak, tanpaku kau tak apa-apa,” lirihku.
“Chemistryku jauh di atas Irfan sesungguhnya,” bisikku mantap.
***
Dan sekarang, setelah Fani mencampakkannya, giliran aku yang dimakinya. Sialan benar Irfan di mataku saat ini.
Bak jalak dan kerbau, setelah jalak kenyang ia akan terbang tinggi dan meninggalkan kerbau yang masih sibuk mengurusi kutu-kutu yang tersisa serta pedihnya bekas patukan si unggas. Begitu pula Fani. Hanya sepekan simbiosis mutualisme berjalan, lebihnya Fani benar-benar berubah parasit jadi kutu pada Irfan. Tapi tetap saja Fani masih manis. Ini tak merubah simpulanku.
Sejak kejadian di pantai Irfan dan aku jarang bersua. Padahal kami sekomplek, sekelas, dan sama-sama sering ke wc pada jam pelajaran. Irfan berang padaku karena aku menawarkan Wati si big, sebagai pengganti Fani. Yah, waktu itu aku kehilangan akal, siapa lagi yang akan aku tawarkan untuk Irfan. Pada sisi lain aku selalu didesak untuk segera dan dalam tempo sesingkat-singkatnya harus menemukan Fani yang kedua. Kalau tidak Irfan akan memutuskan pertemanan kami. Aku tak mau ambil akibat itu.
Nyatanya Irfan menolak mentah-mentah sebelum bertemu Wati. Mendengar namanya saja dia mual dan menggigil, begitu katanya waktu itu. Apalagi harus merentangkan kedua tangannya dan menyambut Wati ke dalam pelukan Irfan. Oh my god, no! itu katanya dulu.
***
Adi, Rusli, dan Ika terbahak-bahak mendengar ceritaku. Mereka juga menepuk-nepuk bahuku. Kisah ini kuceritakan pada mereka, orang-orang yang ikut serta memenangkan Irfan menggaet Fani waktu itu, tapi tidak untuk Wati.
“Apakah aku salah? ” tanyaku.
“Salah sih nggak, tapi keliru dodol,” kata Rusli.
“Dasar bencong, gak bisa bedain mana yang aduhai dan mana hancur, hahaha,” sela Adi.
“Tapi Wati juga manis kok, setidaknya ia punya jari jempol semua.” Belaku.
“Itu dia chemistrynya, hahaha” kata mereka serempak.

Diplomasi atau Konfrontasi?

Banyak cara dalam menyelesaikan suatu masalah yang sedang dihadapi. Salah satunya dengan mengedepankan diplomasi dalam proses pencarian solusi. Demikian pula yang ditawarkan Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam pidatonya di Markas Besar TNI di Cilangkap Jakarta, Rabu (1/9) malam lalu, menyangkut hubungan yang kian menegang antara Indonesia dengan Malaysia.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat, diplomasi didefinisikan dengan 1 urusan atau penyelenggaraan berhubungan resmi antara satu negara dan negara yang lain; 2 urusan kepentingan sebuah negara dengan perantaraan wakil-wakilnya di negara lain; 3 pengetahuan dan kecakapan dalam hal perhubungan antara negara dan negara; 4 kecakapan dalam menggunakan pilihan kata yang tepat bagi keuntungan pihak yang bersangkutan (dalam perundingan, menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat, dsb).
Selain diplomasi tentu ada jalan lain yang bisa ditempuh dalam mencari solusi. Manyangkut hubungan Indonesia dengan Malaysia, banyak pendapat beredar jalur diplomasi tak efektif lagi. Banyak pula pendapat yang menawarkan konfrontasi dengan Negeri Jiran tersebut tak ada salahnya. Kenapa tidak melakukan cara yang pernah dilakukan Presiden Soekarno tempo dulu? Berkonfrontasi dengan Malaysia.
SBY memilih jalur diplomasi dalam menyelesaikan sengketa antara Indonesia dan Malaysia dengan banyak pertimbangan. Salah satunya mempertimbangkan kepentingan nasional serta citra dan jati diri bangsa Indonesia yang bermartabat di mata dunia internasional. Menurut SBY, Indonesia menjadi contoh negara yang mampu menyelesaikan suatu masalah dengan damai oleh negara lain. Sebagai contoh, setiap keputusan dan tindakan yang akan dilakukan memang harus ekstra hati-hati dan meminimalisir aksi-aksi yang mengarah kepada tindakan kekerasan serta mengedepankan emosi semata.
Kedua negara pada dasarnya saling membangun kerja sama yang saling menguntungkan. Sekitar 2 juta jiwa rakyat Indonesia berada dan bekerja di Malaysia, serta sekitar 13 ribu pelajar dan mahasiswa Indonesia sekolah di Malaysia. Begitu pula sebaliknya. Malaysia membutuhkan tenaga kerja baik domestik maupun bidang perkebunan, serta tempat berinvestasi di Indonesia. Walaupun begitu, sengketa dan permasalahan tetap menggerogoti kedua negara apakah menyangkut perbatasan negara, klaim ini itu, serta saling tuduh culik-culik ikan di laut yang entah siapa tuannya.
Sayup-sayup terdengar kabar, Malaysia siap menghadapi ancaman baik yang datang dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Subjektif penulis, negara tersebut siap berkonfrontasi atau perang. Nah, bagaimana dengan Indonesia? SBY yang berpidato di depan ratusan bahkan ribuan perwira TNI tak sedikit pun menyinggung-nyinggung kesiap-siagaan baik tentara maupun persenjataan di tanah air. Tenang dan berwibawa, SBY menyampaikan pidatonya dengan inti menyelesaikan sengketa ini di atas meja perundingan atau diplomasi.
SBY sebagai kepala negara sekaligus yang menjalankan roda pemerintahan memang sifatnya tak mau mengeluarkan statement yang memicu terjadinya instabilitas nasional. Isi pidatonya terkesan normatif dalam menanggapi ketegangan yang dihadapi kedua negara yang sedang bertikai. Diksi dalam berdialektika digunakan secara halus dan menenangkan. Orang-orang menyebutnya pintar beretorika. Seolah-olah tak terjadi apa-apa antara Indonesia dan Malaysia.
Namun sampai kapan cara seperti ini efektif digunakan? Masyarakat geram dengan sikap Malaysia. Ini bukan lagi masalah bilateral, tak lagi masalah negara serumpun, tapi masalah satu kawasan dan tak salah melibatkan negara lain di ASEAN sebagai perantara dalam penyelesaiannya. Bukankah Indonesia pernah terlibat menyelesaikan sengketa antara Vietnam dan Kamboja. Menghadapi Malaysia harus tegas, jalur diplomasi sudah buntu, surat SBY tak dihiraukan, dan jangan lagi memberi lampu hijau kepada negara tersebut.
Indonesia jika ingin mengedepankan citra dan jati diri yang bermartabat, sebaiknya tak selalu adem ayem dalam menyelesaikan masalah. Politik luar negeri yang bebas dan aktif tidak hanya untuk negara lain, namun bagaimana pula menerapkannya secara aktif dalam proses penyelesaian dengan Malaysia. Setidaknya Pak Presiden dan pemerintah lebih tangkas dan tegas menyelesaikan permasalahan ini. Tidak menunda-nunda waktu. Kalau tidak, bisa jadi lemparan-lemparan kotoran manusia akan semakin banyak bertebaran dan (mungkin) inilah jati diri bangsa kita.

Mudik, Eksodus yang Membudaya

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita di tanah air, seminggu menjelang Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, masyarakat kita berbondong-bondong mudik, pulang ke kampung halaman guna merayakan Lebaran bersama dengan keluarga besar. Mudik menjadi sesuatu yang, kebanyakan, wajib dilakukan. Miskin kaya, tua muda, besar kecil, merayakan mudik penuh suka cita. Jika tidak, ada sesuatu yang kurang lengkap ketika merayakan Hari Kemenangan tanpa saudara, sanak famili, atau keluarga besar.
Hampir setiap tahun, detik-detik menuju tanggal 1 Syawal, di seluruh penjuru tanah air perpindahan secara besar-besaran penduduk (eksodus) dari rantau menuju ke kampung halaman menjadi suatu kemenarikan untuk disimak. Seminggu sebelum dan setelah Lebaran, mudik selalu menjadi bahan perbincangan tak habis-habisnya, baik di surat kabar maupun di tempat-tempat lainnya.
Setiap tahun pula pemerintah memfokuskan diri dalam penyelenggaraan bagaimana mudik yang aman, lancar, dan terkendali. Jasa transportasi massal darat, laut, dan udara menambah fasilitas guna memenuhi kebutuhan masyarakat mudik yang melonjak tinggi. Di mana-mana jalan diperbaiki, posko-posko mudik didirikan pada tempat-tempat yang tidak biasanya, lembaga-lembaga non pemerintah lebih bergiat membantu para pemudik baik dari segi kesehatan, keamanan, dan lainnya.
Di Indonesia mudik sudah menjadi budaya. Uniknya, hal ini terjadi secara besar-besaran hanya di tanah air. Euforia mudik terasa begitu kental di setiap kampung, desa, serta kota. Desa-desa yang sebelumnya sepi, tiba-tiba ramai dan semarak oleh orang-orang rantau. Kampung-kampung yang dulu ‘termarginalkan’ seketika gegap gempita diramaikan oleh orang-orang yang baru pulang dari tanah seberang. Setiap sudut, setiap kedai, ada saja orang baru yang baru datang dari rantau.
Mudik, menjadi simbol kedigdayaan peran Lebaran di nusantara. Hal ini tentu berkaitan dengan Indonesia, negara Islam terbesar di dunia. Perayaan Idul Fitri menjadi momentum tersendiri untuk berkumpul, bercengkerama, serta bermaafan satu dengan lainnya. Jika jarak selama ini menjadi penghalang untuk bertemu muka, maka Lebaran adalah satu-satunya jalan untuk bersua. Tak ada lagi alasan untuk tak pulang kampung. Berbagai upaya agar mudik tetap berjalan. Apakah itu menyewa mobil bersama, hanya dengan kendaraan roda dua, ataupun lainnya. Semua dilancarkan dengan menepikan alasan-alasan. Pokoknya tahun ini kita mudik.

Demam Korea

Merebaknya kegemaran anak muda atau remaja Indonesia akan artis-artis kawakan dari Negara-Negara Matahari Terbit seperti Cina, Jepang, ataupun Korea, memberikan keasyikan tersendiri untuk disimak. Berawal dari kegandrungan mengikuti serial filmnya baik di televisi maupun membeli VCDnya, hingga meniru gaya sang idola.
Tak sampai di situ, untuk mengikuti sepak terjang sang aktor dan aktris dalam kehidupan sehari-hari, tak sedikit remaja bela-belain membeli majalah yang memuat idola mereka atau bahkan mengaksesnya di dunia maya, salah satunya mem-follow sang idola pada jejaring sosial seperti twitter ataupun facebook.
Dari sekian banyak aktor dan aktris tersebut, aktor yang berasal dari Korea lebih mendapat tempat. Genre musik dan style tersendiri dari personilnya kelihatan lebih menarik dari yang lain. Mulai dari penampilan aksi panggung sang idola, keterlibatan idola dalam sebuah talk show versi Korea, dan berbagai iven lainnya yang mengikutsertakan sang idola. Walaupun subtansinya hanya sekedar lucu-lucuan. Sang idola dan pemandunya kebanyakan hanya mengadakan acara semacam games yang membuat penonton tertawa.
Demam Korea pun merebak ke Sumatra Barat. Tidak sedikit remaja di Kota Padang menggandrungi band-band asal Korea serta performancenya di atas panggung. Selain mengoleksi lagu-lagu dan videonya, jangan heran ada juga yang mengoleksi foto-foto sang idola. Tidak sediki pula yang mencoba mempraktikkan pola tari serta lagu dari sang idola.
Lalu apa yang didapat dari deman Korea ini untuk para remaja? Menguntungkankah atau sebaliknya. Berkaca kepada apa yang telah terjadi, yang didapat dari deman Korea, pertama memuaskan keinginan menonton, melihat, dan mengamati sang idola dengan segala aktingnya. Memang jika memandang dalam segi ketampanan dan kecantikan, terlepas apakah mereka sudah menjalani operasi plastik atau tidak, orang-orang Korea ataupun sejenisnya jauh lebih menarik dari negara lainnya. Wajah orientalis mereka memang menggemaskan, bahasa remajanya ‘cute’, ‘imut’ dan sepadannya.
Film-film, lagu, dan sebagainya yang berasal dari sang idola, jika ditonton kadang melahirkan sebuah kecanduan tersendiri untuk ingin selalu disimak hingga tamat. Remaja atau penonton secara tak langsung patuh mengikuti setiap seri dari serial film sang idola. Dampaknya, jika tak hati-hati dan cermat, kegiatan ini tentu hanya membuang-buang waktu remaja. Hal ini dikarenakan tidak banyak yang ditampilkan oleh sang idola yang mengandung nilai-nilai edukasi, seperti kearifan budaya Korea, sistem sosial di sana, ataupun lainnya.
Dengan demikian, tak salah jika seorang remaja demam Korea. Namun jika sampai melalaikan belajar, kegiatan bersama dengan teman-teman atau bahkan orang tua, akan menjadi sebuah trouble yang perlu segera dicarikan way outnya. Selain itu, demam Korea di tanah air ataupun di Ranah Minang, juga memberikan tantangan tersendiri bagaimana trik jitu agar band-band tanah air atau sejenisnya juga mampu merebut hati remaja untuk lebih ‘cinta’ dan tertarik pada mereka. Bagaimanapun juga mencintai ‘produk’ tanah air jauh lebih penting, bermakna, dan sangat nasionalis daripada berpaling ke ‘produk’ negara lain.