Thursday, 29 July 2010

Jadi Jurnalis Profesional, Tak (Lagi) Kuli Tinta





Memilah-milah sumber atau ide berita yang menarik, penting, dan bermakna untuk ditulis merupakan suatu hal yang harus diperhatikan oleh seorang jurnalis atau wartawan. Hal ini disampaikan Yurnaldi, Redaktur Harian Kompas, dalam workshop menulis feature, Minggu (4/7) lalu di lokal GL 9 UNP.
Seorang wartawan, tambahnya, dituntut untuk jeli bagaimana mengemas berita yang diperlukan dan bermakna bagi masyarakat di tengah persaingan media massa yang begitu ketat. Selain itu, wartawan harus mempunyai manajemen berita, mulai dari perencanaan, peliputan ke lapangan, menyeleksi data, penulisan, dan kemudian evaluasi. “Seorang wartawan harus kaya gagasan,” terang Yurnaldi di depan 40 peserta workshop.
Penulis buku best seller Menjadi Wartawan Hebat ini, juga menjelaskan tentang etika-etika yang harus dihormati wartawan sebagai pekerja publik. Seperti kejujuran, independensi, kebal suap, keseimbangan meliput dua sisi (cover both side), serta tetap menghormati undang-undang dan hukum yang berlaku. “Bekerjalah sebagai wartawan profesional dan tidak tukang atau kuli tinta,” tutupnya dalam penyampaian makalah yang berjudul Menggali Sumber Berita, Menulis dengan Luar Biasa.
Dalam workshop ini, Yurnaldi mencontohkan bagaimana menulis feature dengan mengangkatkan hal-hal kecil yang ada di lingkungan sekitar. Seperti mengungkapkan keunggulan bengkoang dari Kota Padang, yang menjadikan bengkoang sebagai cirri khas kota ini. Kearifan dan produk-produk lokal bisa dijadikan sumber tulisan. “Tinggal bagaimana penulis mengemasnya menjadi sebuah tulisan yang menarik,” jelasnya.
Sementara itu, Yurnaldi juga mengenai sosok wartawan yang diperhitungkan baik oleh sesama wartawan, media tempatnya bekerja, serta pihak lain. Seorang wartawan dituntut tidak hanya mampu melahirkan ide-ide bernas, tetapi juga mampu menuliskannya dengan sangat apik, cerdas, dan bermanfaat bagi pembaca atau khalayak ramai.
Dalam menuliskan ide-ide yang telah didapat, tambah Yurnaldi, adalah bagaimana wartawan menulis mencakup, menjelaskan, ringkas, dan menarik. Rumusannya tentu tidak berubah dari 5W + 1 H (what, who, when, where, why, dan how). Dalam 5W + 1H tersebut, menyajikan berita dengan peristiwa, dan menyajikan peristiwa dengan jalan cerita. “Pendeknya Don’t tell, but show,” kata Yurnaldi.
Sebenarnya tidak hanya bergantung kepada 5W + 1H, ia juga menjelaskan mengenai pembuatan lead atau teras berita. Untuk lead hindari menggunakan kalimat-kalimat yang panjang. Jumlah kata dalam lead usahakan tidak lebih dari 30 kata, serta menampilkan lead yang ‘bicara’. “Gunakan kalimat yang pendek, enak dibaca, dan langsung kepada pokok tulisan,” kata Yurnaldi.
Walaupun demikian, tambah Yurnaldi, belajar menulis berita atau feature dengan kaidah-kaidah yang diajarkan tidak selalu mudah ketika mempraktikkan. Dalam dunia jurnalistik, seni jurnalistik juga ada. Seni tak bisa diajarkan, namun seni ini bisa diperoleh oleh seorang wartawan jika wartawan gigih berlatih atau mempraktikkan. “Seni hanya tumbuh dalam praktik terus-menerus,” katanya.
Mengenai hal ini, Yurnaldi langsung menyuruh peserta mempraktikkan menulis feature kemudian membahasnya bersama-sama. Adapun Workshop ini diadakan oleh Surat Kabar Kampus Ganto Universitas Negeri Padang (UNP) Sumatra Barat dalam rangka meningkatkan kemampuan dan memotivasi mahasiswa UNP untuk menulis.

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^