Thursday, 29 July 2010

Tiga Pengemis dan Lelaki Berpiyama


"Bocah itu, kemarin yang meminta-minta padaku.”
"Kamu kasih berapa?"
"Ogah ah, emang aku bodoh."
"Heheheh, kirain."
Sangat jernih kata-kata yang diucapkan bocah-bocah itu. “Minta duit Bang. Buk. Pak”. Anak-anak jalanan, mungkin juga tidak. Mereka, suka minta-minta pada orang-orang. Kadang di pasar, di terminal, di SPBU juga. Tak takut.
Pakaian seadanya. Celana pendek tambalan di paha, kaos oblong lusuh, dan kaki tak beralas. Kadang membawa plastik, isinya beras, dan macam lainnya. Kadang juga lenggang kangkung. Ketiganya laki-laki, belum beruntung. Si tua, sekitar 13 tahun, tengah, 10 tahun, dan yang kecil 8 tahun. Sama-sama plontos.
Hari itu, mereka di pasar. Awalnya, pagi hari tak bawa apa-apa. Celingak-celinguk di belakang orang-orang yang sedang jual beli. Tangan dibelit di belakang pinggang. Jalan beriringan. Jangan berpisah. Dan jangan takut nanti kalau tak makan. Sudah biasa. Kalimat terakhir, kalimat iseng dari kami.
“Kamu sering lihat mereka?” Tanya Arman padaku.
“Tiga kali. Di terminal, dan dua kali di sini.”
Sudahlah, lanjutkan saja apa yang akan kita beli pagi ini, pintaku pada Arman. Dia hanya mengangguk. Baru dua hari kami menginjakkan kaki di kampung ini. Aku dan Arman, mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) selama enam bulan dari salah satu perguruan swasta di kota kabupaten, 398 kilometer dari sini.
Aku sudah melarang Arman agar tak lagi mencurahkan perhatiannya pada si bocah yang lalu lalang di kerumunan orang pasar. Dan aku sudah jelaskan apa dan bagaimana tentang kehidupan si bocah ingusan pada temanku ini. Info yang aku peroleh, bocah-bocah ini anak piatu. Tak punya bapak. Sudah dua tahun katanya. Tetap saja teman satu kampusku ini mengekori bocah-bocah tersebut. Aku tak ambil pusing.
Aku lelah. Kami berhenti sejenak. Arman masih mencari si bocah dengan sudut matanya. Aku pun sibuk dengan es kelapa muda di tangan. Ah, biarlah. Nanti dia juga tak tartarik lagi, capek. Pikirku dalam hati.
“Kamu tahu nama-nama mereka?”
“Belum,” tolehku pada Arman.
“Aku mau kenalan dengan mereka,” ujarnya sambil menyeringai.
“Mending sama gadis desa di sini, Man. Lebih afdol,”
“Mana tau mereka bisa dijadikan teman,” alihnya.
“Teman apaan?”
“Disuruh beli rokok,” ucapnya sambil berlalu.
Aku diam saja. Tidak mengerti. Dan tak kuhiraukan.
***
Arman, temanku sejak tiga tahun lalu. Baru menginjak perguruan tinggi tersebut, aku telah mulai berkawan dengannya. Asal, ibu kota Jakarta. Sekolah Menengah Atas di Depok. Kota yang cukup rindang jika dibanding Jakarta. Sejuk, dan tempat berdirinya perguruan tinggi terbesar di Negeri ini, Universitas Indonesia. Itu cerita Arman padaku suatu waktu di musim ujian lalu.
Awal kuliah, Arman selalu menjadi acuan teman-temanku. Khususnya bahasa yang ia gunakan sehari-hari di kampus. Dialek Jakarta banget. Belum lagi pakaian dan sepatunya. Selain dari otaknya yang cukup encer juga keterampilannya memainkan alat musik, gitar, sebagai bassist. Cukup menghipnotis para gadis jika sedang manggung di atas panggung. Seperti Ariel ‘Peterpan’ kata teman gadisku, suatu hari dimusim lalu. Itu Arman di awal kuliah.
Sekarang, aku dan Arman, telah menginjak semester delapan. Banyak berubah, dan itu mungkin kesengajaan. Mengingat tuntutan kami jauh lebih besar dibanding tahun-tahun lalu. Menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang semakin banyak dan tentunya lebih berat. Belum ditambah dengan kegiatan-kegiatan lain, seperti pelatihan, seminar, dan temu-temu lainnya. Entah untuk apa. Sampai saat ini aku belum memetik manfaatnya.
Kini, sudah lima bulan aku tak banyak berkomunikasi dengan Arman. Tak seperti awal kuliah beberapa tahun lalu. Aku hanya bercakap dengannya jika ada keperluan penting saja. Atau hanya kebetulan. Aku lebih memfokuskan diri pada penyusunan tugas akhir kuliah. Kuambil penelitian bersifat kuantitatif, Arman kualitatif. Perbedaan yang signifikan, pikirku. Bahan dan referensi penyusunan tugas akhir pun tak bisa ditemukan pada satu tempat. Namun kami bisa disandingkan pada satu desa sewaktu KKN ini. Ini aneh bagiku.
Sebenarnya Arman tak butuh hal-hal yang berbau kuliah kerja nyata, magang, dan lain-lain. Toh tugas akhirnya bisa dikerjakan dengan tanpa cara ini.
“Tapi saya ingin jalan-jalan, dan nemenin kamu, suntuk!”
“Ini baru sohib,”
“Aku senang sekali, Man,” lanjutku.
Dan sampailah kami di desa ini.
Dulu, keseharian Arman setelah tidak lagi tergabung dengan teman-teman bandnya, hanya duduk di koridor jurusan kami. Duduk di sana, berlama-lama, dan betah sekali. Aku dengar dari beberapa teman lamaku perihal Arman. Walau aku tak bisa langsung bertemu muka dengannya, namun apa saja kegiatan yang ia lakukan, aku selalu tahu.
Setahuku, sejak kami telah jarang berkomunikasi, Arman semakin disibukkan dengan teman-teman mayanya. Sepertiga dari waktunya acapkali dihabiskan di depan komputer jinjing. Hampir setiap hari ia lakukan hal itu. Dengan sukacita ia selalu memberi kabar tentang dirinya dan menanyakan balik. Bercengkerama, berbagi cerita, dan saling mengirim pesan.
Arman kadang menceritakan kenikmatan berinteraksi dengan teman-teman mayanya kepadaku. Setiap ada kesempatan kami berjumpa, Arman menerangkan apa saja yang ia lakukan dalam dunia mayanya. Mulai dari perkenalan konyol sampai pada keinginan akan melamar seorang dari mereka. Namun dilain hari, Arman telah memutuskan mereka, bahkan menyumpahi. Hal ini tak asing bagiku. Begitulah Arman, di mataku.
***
“Man, tolong ambilkan asbak di kakimu,”
“Rokoknya habis ya,”
Aku mengangguk. Kutawarkan agar Arman membeli rokok lagi. Namun ia hanya diam. Melihatnya tak bereaksi, aku kembali pada bukuku. Kularutkan pikiran dalam tata kelola sebuah ruangan yang akan menjadi objek penelitian dari tugas akhirku. Tata kelola ruangan sebuah rumah megah abad 15. Peninggalan leluhur bangsa Indonesia yang sampai sekarang tidak dikenal banyak generasi. Generasi terlalu sibuk dengan dongeng tempo dulu yang indah dan jaya-jaya. Tapi lupa pada hakikat sebuah perjuangan.
Sebentar saja, pikiranku sudah melayang kemana-mana. Mulai dari teman-teman di kampus, orang tua, gadisku yang menjauh, dan berujung pada Arman. Kutolehkan pandangan pada tempat duduk teman sekampus ku ini, Arman tak di situ lagi. Kemana dia? Kubiarkan saja ia menghilang. Sebentar lagi matahari turun. pak tani yang biasa lewat pagi hari di samping rumah ini akan kembali lewat, pulang ke rumahnya. Arman akan kembali. Kupicingkan mata, mengingat masa indah dengan gadisku yang menjauh di sana dan terlelap.
Jam beker hitam, di atas meja bersama tumpukan buku-buku menunjukkan tepat pukul delapan malam. Aku baru terjaga dari tidur lelap dengan gadisku. Pandangan di luar jendela gelap. Tak ada bintang apalagi bulan. Kuangkat tubuh yang lunglai ini. Kubiarkan jendela menganga. Kebiasan baru kami di rumah ini. AC alam, terang Arman pada malam pertama kami menginap.
Mataku mencari-cari Arman. Sudah malam begini, di tengah desa sepi dan kerlap-kerlip lampu kecil, masih juga keluyuran. Apa yang dicari pukimae itu, umpatku. Berat hati, kuturunkan kakiku dari lantai rumah ini. Kususuri jalan setapak, tak lupa menutup pintu. Dengan bantuan senter baterai kumulai bergerilya mencari lelaki jalang di kampung ini. Begitu kunamai Arman malam itu. Sesekali kuberpapasan dengan orang-orang desa, kebanyakan bapak-bapak, berkain sarung dan berbaju panjang lengan. Itu saja, menuju kedai menghilangkan penat setelah seharian bergumal dengan tanah dan kerbau.
Dimana Arman. Tidak biasanya ia pergi semalam ini dan tak mengajakku. Sudah dua puluh rumah, kakiku beranjak dari tempat hunian. Di ujung jalan ini ada surau. Arman tak pernah ke surau selama di kampung ini. Namun kujejali juga surau yang mulai sepi itu. Kiri kanan surau ada lorong lepas, langsung berbatasan dengan rumah penduduk. Lorong kanan kosong, sedikit temaram karena di sampingnya rumah warga berpenghuni. Lorong kiri juga kosong, sekilas. Gelap, hanya samar-samar cahaya dari surau. Tak ada Arman.
Tiba-tiba, dua bocah lari terbirit-birit ketakutan dari samping kananku. Segera mereka meninggalkanku tanpa sapa. Langkah kakinya membuatku menoleh, aku sangat yakin mereka bocah peminta-minta di pasar tempo hari. Malam-malam begini masih berkeliaran. Kudekati arah kira-kira dimana mereka keluar. Lorong kiri. Tempat segelap ini. Sebelum kutinggalkan lorong tak berguna itu, sayup-sayup kudengar suara tertahan dari balik semak-semak rumah warga yang kosong. Bergoyang-goyang dengan frekuensi tak menentu. Hentakan-hentakan kebinalan. Serta rintihan kepasrahan.
Kemeja putih dengan garis-garis hitam vertikal, mencengkeram benda bulat, kepala manusia. Kudongakkan kepalaku di sela-sela dedaunan. Senyum kepuasan mengembang dari raut wajah laki-laki yang seminggu ini satu peraduan denganku. Sedetik pikiranku tak terkendali, dan didetik lain kutelah kembali pada jasadku. Tak butuh waktu lama, kutinggalkan tempat jahanan itu. Kerongkonganku tercekal, mataku memanas dengan tangan terkepal.
Pagi-pagi sekali aku terbangun. Sebuah benda melingkari pinggangku, Arman, pulas dengan piyamanya. Aku terpaku. Dan jendela menganga melukiskan awan hitam nan berat.


Padang 2010

Apresiasi untuk ‘Pahlawan Ceplas-ceplos’

Apresiasi untuk ‘Pahlawan Ceplas-ceplos’


Judul : Gus Dur: Islam, Politik, dan Kebangsaan
Pengarang : Mahfud MD
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Tebal : xiv + 268 halaman
Cetakan : Pertama, Mei 2010
Harga : Rp 75.000 ,-
Resensiator : Adek Risma Dedees, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia BP 2007 UNP



Siapa yang tak kenal Gus Dur? Siapa yang tak kenal dengan sosok yang kerap melemparkan ungkapan gitu aja kok repot? Ya, ia adalah Abdurrahman Wahid, salah satu guru bangsa di tanah air yang begitu nyentrik, unik, dan tentunya mengesankan baik ketika berbicara maupun pola berpikirnya. Namun, sekarang ia telah tiada.
Pascawafatnya mantan presiden Gus Dur, kira-kira pukul 18.40 WIB pada 30 Desember 2009 lalu, pemberitaan media massa tentang obituari Gus Dur dari berbagai dimensi yang penuh talenta disiarkan dengan besar-besaran hingga berhari-hari. Ekspresi kesedihan, simpati, perhatian, dan duka yang mendalam datang tidak hanya dari masyarakat dalam negeri, akan tetapi juga datang dari dunia internasional.
Begitu juga dengan isi buku ini. Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, adalah salah satu tokoh nasional yang dikenal memiliki kedekatan tersendiri dengan Gus Dur. Pada saat Gus Dur menjabat presiden RI (1999-2001) ia dipilih menjadi Menteri Pertahanan dan Kehakiman-HAM, hingga sekarang menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Dalam buku ini Mahfud MD mengupas semua tentang Gus Dur dalam bentuk artikel dan kolom yang sebelumnya telah dipublikasikan oleh media-media nasional, seperti Jawa Pos, Kompas, Majalah Tempo, Gatra, dan lainnya.
Pada dasarnya tulisan-tulisan Mahfud MD dalam buku ini terbagi dalam tiga bagian: 1) Gus Dur, Islam, dan Kebangsaan; 2) PKB, Politik, dan Konflik; dan 3) Membenahi Konstitusi Membangun Indonesia. Bagian pertama buku ini, pembaca disambut dengan percakapan Gus Dur dan Megawati semasa menjadi partner di Istana Merdeka tentang menu sarapan sang presiden yang langsung disiapkan oleh wakil presiden setiap Rabu pagi, kemudian disebut oleh media massa sebagai sarapan politik. ‘Ritual’ Rabu pagi ini menggambarkan kepada pembaca bagaimana hubungan Gus Dur baik secara pribadi maupun secara dinas dengan Megawati, yang nantinya turut mewarnai sikap politik masing-masing.
Tidak hanya itu, Mahfud MD dalam buku ini juga mengisahkan bagaimana Gus Dur menyoroti Peraturan Daerah (Perda) Syariah, memberlakukan syariat Islam di beberapa daerah. Awalnya, sebelum Gus Dur belajar ke Mesir, Irak, dan bekerja beberapa tahun di Eropa, Gus Dur sangat mengagumi dan ingin menerapkan gerakan Islam radikal di tanah air. Namun setelah pulang dari luar negeri, Gus Dur justru berubah menjadi sosok dengan visi pluralisme yang sangat liberal dan sangat anti-formalisasi Islam dalam kehidupan kenegaraan. Dan buktinya, visi ini mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia, walau tidak secara keseluruhan.
Mengenai kecintaan terhadap bangsa, Gus Dur sesuai pemaparan penulis, kecintaannya kepada NKRI adalah harga mati. Harga mati yang tak ada tawar menawar. Gus Dur di hadapan menterinya dengan gamblang menyatakan mempertahankan negara Indonesia dengan dasar pancasila. Pada waktu itu pemerintah ‘dipaksa’ untuk memberikan ‘lampu hijau’ kepada daerah guna menerapkan Perda Syariat Islam. Putusan tersebut diambil penuh pergulatan baik dengan pemerintahan maupun dengan Nahdatul Ulama (NU) sendiri.
Sementara itu, perpolitikan yang dibangun Gus Dur dalam tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tentu sangat sarat kontroversi. Misalnya, ketika PKB mendukung pasangan Wiranto-Gus Sholah sebagai capres-cawapres pada pemilu 2004 lalu. Belum lagi keberangan Gus Dur atas keluarnya SK KPU No. 26 tahun 2004 yang akan mengganjal dirinya untuk lolos menjadi capres. Teriakan untuk bersikap golput dan berada di luar sistem (PKB), terutama dari Gus Dur sendiri memutuskan secara aklamasi. Namanya demokrasi, tentu ada yang mendukung dan ada yang menolak.
Dari judul buku ini, terkesan isinya sangat serius dan berat. Namun kenyataannya bukanlah demikian. Di sela-sela tulisannya, Mahfud MD menyempatkan mengomentari dunia sepak bola seperti Piala Dunia. Bagi Mahfud MD, menikmati sepak bola kelas dunia dengan segala keindahannya. Walaupun tim nasional Indonesia tak ikut dalam ajang akbar tersebut. Akan tetapi Indonesia memiliki komentator-komntator yang hebat-hebat walau menurut Mahfud MD hanya untuk lucu-lucuan.
Satu sisi dengan buku ini pembaca akan lebih banyak tahu tentang Gus Dur, Islam, Politik, dan Kebangsaannya. Penulis mencoba menjabarkan semua itu dengan apik, ringan, dan tentunya menarik. Namun, karena buku ini adalah kumpulan tulisan-tulisan penulis, ada beberapa pokok persoalan tercakup dalam beberapa tulisan selanjutnya. Walaupun demikian, setidaknya buku ini mampu mengingatkan pembaca kepada sosok Gus Dur yang dikagumi bangsa Indonesia yang kini telah tiada.

Bisakah Indonesia Ikut Piala Dunia 2022?

Euforia Piala Dunia 2010 segera berakhir. Namun tidak untuk tim nasional (timnas) Spanyol empat tahun ke depan sebagai the winner yang berhak membawa trofi piala dunia dan memboyong hadiah lainnya. Kemenangan yang dipetik tim Matador bukanlah sebuah kado cuma-cuma yang dihadiahkan Belanda. Perjuangan yang gigih, tangguh, dan apik adalah kunci untuk memperoleh kesuksesan tersebut.
Sebanyak 32 negara mengikuti ajang akbar tersebut. Semua corong negara pun membicarakannya setiap hari selama kompetisi berlangsung, atau bahkan sepanjang masa. Tentu tak ketinggalan Indonesia. Walau hanya sebagai penonton dan komentator, yang tak kalah hebatnya, setidaknya kita (Indonesia_red) merasakan euforia tersebut.
Beberapa tahun silam, wacana yang digulirkan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) adalah Indonesia akan mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia tahun 2022 kelak dengan tema Road to Green World Cup Indonesia 2022. Begitu optimis. Sayangnya, setelah wacana ini singgah di Istana Merdeka, Andi Mallarangeng, juru bicara presiden dan sekarang Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, menyarankan dan memikirkan kembali akan mencanangkan wacana tersebut.
Menurutnya tantangan terbesar timnas Indonesia adalah bagaimana bisa berjaya tampil di depan negara-negara Asia Tenggara serta Asia secara keseluruhan. Setelah itu baru percaya diri mencalonka diri ikut ajang sepakbola sejagat tersebut. Jangankan menang melawan Jepang, melawan Laos saja dalam Sea Games, Indonesia tak berkutik. Begitu merosotnya dunia persepakbolaan di tanah air.
Kalau ingin mengingat sejarah, Indonesia pernah ikut berlaga pada Piala Dunia 1930 hingga 1934 yang pada waktu itu bernama negara Hindia Belanda. Kesohoran Indonesia pada waktu itu cukup menjanjikan. Namun pascatahun 1990-an prestasi sepakbola tanah air pun semakin merosot.
PSSI yang dinilai serta diharapkan mampu melahirkan pemain-pemain tangguh, hebat, dan menjanjikan bagi timnas, harus segera mereformasi visi dan misi serta benar-benar serius untuk mewujudkannya. Kongres Sepakbola Nasional Indonesia di Kota Malang, Jawa Timur, pada 30-31 Maret 2010 lalu, merekomendasikan tujuh poin penting sebagai pekerjaan rumah PSSI. Ketujuh poin tersebut meliputi reformasi dan restrukturisasi, pembangunan dan peningkatan infrastruktur olah raga, pembinaan atlet usia dini, serta poin penting lainnya.
Namun hingga saat ini rekomendasi tersebut tidak memberikan arti kepada dunia sepakbola nasional. Stagnasi persepakbolaan tanah air tak dapat dihindari. Rekomendasi tinggal rekomendasi. Asumsi PSSI ditunggangi oleh kepentingan dan kekuasaan yang kuat, dalam hal ini kapitalistik, bisa saja tak terbantahkan. Pengaruh ini menyebabkan PSSI tak mampu lagi menentukan jalan ‘hidupnya’; melahirkan timnas yang berprestasi. Walaupun di luar sana sering mendengung-dengungkan sistem administrasi dan manajemen yang bagus, tetapi dalam segi prestasi diragukan, sama saja dengan omong kosong.
Dunia sepakbola tanah air tak bisa dibiarkan melempem begitu saja. Jika PSSI tak mampu lagi, campur tangan pemerintah harus ada di sini. Pemerintah seharusnya menagih rekomendasi kongres di Malang kepada PSSI. Ada saat-saat tertentu pemerintah harus campur tangan dalam urusan dapur PSSI dan hal tersebut harus dilakukan dengan penuh ketegasan.
Jadi apakah Indonesia (mampu) bergabung dalam Piala Dunia 2022? Jawabnya, berkaca pada kondisi sekarang, jauh panggang dari api. Atau tak buruk jika ingin bertanya kepada Paul Si Gurita.

Surat Cinta, Abad XXI, dan Keterampilan Menulis

Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Harris Effendi Thahar, M.Pd


Masih adakah gadis remaja kita sekarang yang menerima surat cinta dari kekasihnya seperti Hayati menerima surat cinta Zainuddin dalam roman Tenggelammnya Kapal Van der Wijck karya Hamka yang terkenal itu? Begitu juga dengan surat-surat mahasiswa kepada orang tua di kampung, minta dikirimkan uang segera karena keperluan mendesak, juga tidak ada lagi sekarang.

Demikian kalimat pembuka pidato pengukuhan guru besar Prof. Dr. Harris Effendi Thahar, M.Pd., yang berjudul ‘Merangkai Kata Membangun Indonesia: Membenahi Pembelajaran Menulis di Sekolah’ di depan sekitar 100 tamu undangan yang hadir di Ruang Serba Guna Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang (UNP), Kamis (24/6) lalu. Hari itu Harret, begitu ia disapa, dikukuhkan langsung oleh Rektor UNP Prof. Dr. Z. Mawardi Effendi, M.Pd., didampingi para guru besar lainnya di selingkungan UNP.
Dalam pidatonya, Harret, menyampaikan bahwa tradisi menulis surat atau menulis dalam kerangka yang lebih luas semakin langka dan jarang pada dunia remaja atau anak muda sekarang. Remaja kini tak lagi mengenal Sahabat Pena, atau bahkan tak pernah lagi melihat perangko dan kegunaannya. Kedatangan tukang pos pun tak lagi selalu dinanti-nantikan.
Hal ini semakin mencemaskan Harret, bahkan yang membaca naskah pidatonya misal Mawardi, dengan keadaan pemerolehan nilai ujian nasional (UN) mata pelajaran bahasa Indonesia yang menurun drastis. “Banyak siswa SMA tidak lulus UN karena nilai bahasa Indonesianya tidak memenuhi standar,” ungkap Harret.
Sebelum mengukuhkan Harret sebagai guru besar, Mawardi menyayangkan kondisi remaja sekarang yang memang terkesan kurang tertarik dalam dunia tulis menulis. Padahal dunia tulis menulis tidak kalah menarik dan bergengsinya dari dunia lain. “Dunia bahasa sama pentingnya dengan pengetahuan ekonomi, teknologi, dan lainnya,” jelas Mawardi.
Sekarang, tambah Harret, adalah abad XXI. Orang-orang menyebutnya abad milenium. Saling berkirim surat tak lagi menggema. Pada abad ini ada sms, facebook dan lainnya. Setiap orang bisa berinteraksi dengan siapa saja. Tak perlu bertatap muka, apalagi memakai sarana surat menyurat dalam berkomunikasi. “Tak lagi menggunakan bahasa yang indah, cukup bahasa spontan dalam ragam gaul,” tutur pengarang Si Padang ini.
Aktivitas menulis, jelas Harret, merupakan salah satu dari empat aspek berbahasa yang diajarkan di sekolah. Keempat aspek itu, adalah mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Mendengarkan dan membaca adalah aktivitas reseptif, sementara berbicara dan menulis merupakan aktivitas produktif.
Di sisi lain, Harret menjelaskan kemajuan teknologi bagi sebagian masyarakat Indonesia ternyata tidak mendukung keterampilan menulis, justru ‘melumpuhkan’ minat menulis. Hal ini tercermin dari minat remaja dalam menulis. Sebenarnya tidak hanya remaja, para guru dan dosen di Indonesia pun kurang berminat menulis dan menuangkan ide-ide kepada khalayak melalui media massa. Jika pun harus menulis tulisan ilmiah, hanya untuk kepentingan persyaratan naik pangkat. “Dan kalaupun tulisan itu dimuat, hanya dengan pertimbangan pertemanan dan ‘rasa kasihan’,” jelas Harret.
Sehubungan dengan hal itu, Ketua Umum Dewan Kesenian Sumatra Barat ini, menawarkan langkah-langkah yang bisa digunakan. Di antaranya, mendirikan sanggar menulis sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler, menyelenggarakan lomba-lomba menulis baik ilmiah maupun nonilmiah, menggiatkan majalah dinding di sekolah-sekolah, serta melengkapi koleksi buku di perpustakaan dengan karya sastra terbaru dan mewajibkan para siswa membacanya. Akhir kata, selamat atas pengukuhan guru besar UNP Prof. Dr. Harris Effendi Thahar, M.Pd., dan selalu berkarya.

Biasakan Berpikir Alternatif



Solusi pemecahan masalah yang hanya melahirkan satu cara, salah satu penyebab semakin suburya perilaku mencontek. Dalam hal ini, membiasakan diri berpikir alternatif menjadi sangat urgen dan cukup menjanjikan. Jika dalam pemecahan suatu masalah mahasiswa telah terbiasa mencarikan dua, tiga, atau empat solusi, jadi takkan ada kata untuk menjiplak ide dari orang lain. Berpikir alternatif, akan membiasakan diri untuk melihat solusi suatu masalah dari berbagai sudut pandang. Pertimbangan-pertimbangan yang diambil pun biasanya lebih dalam dan beragam. Keterkaitan salah satu unsur dengan unsur yang lain semakin mematangkan mahasiswa dalam cara berpikir dan pengambilan keputusan.

Rusunawa Jangan Dibisniskan

Di tengah mahalnya sewa kos-kosan dan kontrakan, keberadaan asrama mahasiswa dan atau rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang dikelola pihak kampus, sudah seharusnya sebagai penolong bagi mahasiswa yang kurang mampu. Asrama dan atau rusunawa memang harus dikelola dengan baik, mengutamakan rasa kekeluargaan, sosial, sekaligus edukasi. Alhasil, selain memberikan fasilitas hidup yang murah kepada mahasiswa, asrama dan atau rusunawa bisa dijadikan sebagai ‘lembaga’ pendidikan nonformal bagi mahasiswa. Belajar mandiri, berinteraksi, dan berkarya, yang kesemuanya cukup representatif bagi mahasiswa di asrama dan atau rusunawa. Sayangnya, fakta yang bergulir, asrama mahasiswa dan atau rusunawa nyatanya tak jauh berbeda dengan penyedia jasa kos-kosan pada umumnya, yang hanya berorientasi pada uang. Jarang ada asrama mahasiswa yang gratis. Namanya saja asrama. Begitu pula dengan sewa rusunawa, yang kadang cukup mencekik leher. Pola pikir kampus yang kapitalistik segera dikurangi, kalau memang tak mau menghapuskan. Hendaknya pihak kampus lebih melek dengan kehidupan sekitar khususnya kehidupan mahasiswa, baik secara moril maupun materil. Tidak hanya bisnis melulu.

IPK vs Pengalaman Organisasi

Dunia kerja memang selalu mendahulukan lulusan perguruan tinggi yang memiliki IPK mendekati angka 4 dibanding IPK yang jauh dari angka tersebut. Paradigma ini ditelan bulat-bulat dan mentah-mentah oleh mahasiswa sejak masuk perguruan tinggi hingga keluar perguruan tinggi. Alhasil kerja dan kegiatan mahasiswa pun di kampus hanya kuliah melulu (study oriented) selama 4, 5, atau 6 tahun kemudian. Tak ada waktu berleha-leha mengurusi mahasiswa lain, sosial masyarakat sekitar, atau pun agenda mengkritik kebijakan pemerintahan. Singkatnya tak ada kamusnya berorganisasi. Sesegera mungkin, paradigma ini harus diubah.
Sejauh ini berorganisasi dapat melatih mental dalam beropini, berdebat dengan orang lain serta mempunyai gaya bicara yang baik dalam mengahadapi lawan bicara. Mental mereka lebih berani dan tidak canggung untuk kritis dan mengeluarkan pendapat maju di depan pendengar. Mahasiswa tidak hanya pasif dalam mendapatkan ilmu pengetahuan tapi juga berlatih aktif memecahkan masalah sendiri. Ini merupakan pengalaman berharga yang tidak ternilai, dan tidak bisa didapatkan jika hanya berdiam diri di lokal kuliah atau di kosan. Memahami cara kerja organisasi dan termanifestasikan dalam penyiapan diri untuk menjadi agents of change setelah menyelesaikan studi dan kembali kemasyarakat.

Facebook, Morfin, dan Ke-selamat-an

Fenomena Facebook (selanjutnya disingkat FB) yang kekinian telah menjadi wahana untuk mewujudkan ruang publik terbuka bagi siapa pun, dan dapat digunakan untuk mengemukakan pendapat tanpa sensor. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengguna untuk selalu stand by, siap berselancar di dunia maya. Secara sporadic, FB telah mengalahkan jejaring sosial lainnya seperti Friendster. Hampir semua pengguna Friendster beralih ke FB dan bertahan di sana hingga detik ini.
Pengguna atau member FB kebanyakan adalah anak-anak dan remaja. Menurut UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, usia 0-18 tahun tergolong usia anak-anak dan umumnya pengguna FB berada pada rentang usia ini. Sedangkan pengguna internet di Indonesia kebanyakan berusia 15 hingga 39 tahun. Dari data Riset antara Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia dan Nielsen (2009), Pengguna internet diperkirakan telah mencapai 25 juta, dengan pertumbuhan rata-rata 25 persen per tahun Hal ini menggambarkan betapa pengguna internet dan FB di tanah air semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Peningkatan pengguna FB akan semakin membludak karena memang apa yang ditawarkan dalam dunia FB atau maya sangat menarik dan tak bisa dibendung lagi. FB memiliki suatu zat tersendiri, katakanlah itu semacam ‘morfin’, yang menyebabkan penggunanya kecanduan dengan sangat akut. ‘Morfin’ baru ini lebih dikenal dengan nama Facebook Addiction Disorder (FAD). FAD ini akan menyebabkan pengguna FB lupa dengan aktivitas sehari-hari, seperti lupa janji karena keasyikan ber-FB-an, agenda-agenda menjadi molor dilakukan, serta tidak sedikit orang-orang menunda pekerjaan hanya tak ingin melewatkan komentar-komentar yang ada di FB, dan lainnya.
FAD bak telepon genggam. Sebelum diserang FAD, pengguna terlebih dahulu diserang telepon genggam dan jejaring sosial. Seseorang tak bisa lepas dari telepon genggam, baik di rumah, di kantor, di sekolah, maupun di tempat umum lainnya. Seperti itu juga dengan seseorang yang diserang FAD. Lama-kelamaan, FAD akan membawa pengguna kepada sebuah situasi dimana fungsi-fungsi sosial seseorang tidak berjalan dengan baik atau disfungsi sosial yang berlebih. Seperti, timbul pemikiran bahwa meninggalkan FB serasa ‘mati rasa’, stress, dan resah, atau meninggalkan pekerjaan hanya untuk FB-an. Jika kondisi ini telah menjangkit pengguna, maka pengguna perlu mendapat bantuan atau terapi agar tidak kecanduan FB.
Jika anda pengguna FB, dan kemungkinan besar anda selalu ingin mengetahui status yang dikabarkan oleh teman-teman anda. Akhirnya, anda mungkin terpicu untuk menulis hal-hal tak penting, membaca hal-hal sepele, dan juga berpikir secara tak cerdas. Dan waspadalah! bisa saja anda adalah salah satu intaian FAD bulan ini.
Peningkatan pengguna FB yang sangat luar biasa bak pisau bermata dua. Satu sisi membawa pengaruh positif dalam kehidupan, dan di sisi lain pembawa malapetaka, khususnya bagi anak-anak dan remaja. Anak-anak dan remaja menjadi golongan paling rentan praktik kejahatan siber, seperti pencabulan. Kejahatan siber meski kerap disebut kejahatan maya, namun dampaknya nyata. Sedangkan bagi golongan dewasa, FAD bisa menjadi semacam ‘hantu’ yang mendegradasikan moral yang notabene tidak hanya ilusi.
Pemaknaan FB sebagai salah satu ruang publik akan semakin mendorong berkembangnya iklim demokrasi di negara ini. Ancaman dan sinyalemen yang mengarah kepada kemerosotan nilai, moral, dan tindak asusila lainnya, sebagai dampak negatif dari FB dan dunia maya, sedini mungkin harus dijelaskan kepada khalayak ramai, terkhusus kepada anak-anak dan remaja. Apakah itu dalam bentuk sosialisasi ke sekolah-sekolah, regulasi dari pemerintah pusat atau daerah, hingga peningkatan pengetahuan orang tua atau keluarga tentang FB dan dunia maya, sebagai pihak utama dalam membentengi si buah hati dari berbagai ancaman.
Sedangkan mengatasi virus ’morfin’ FAD, menggunakan FB secara beradab perlu ditingkatkan. Seperti membatasi diri dan mengurangi mengakses hal-hal yang tidak penting. Sikap ’sadar’ mengenai apa yang tengah dilakukan ketika berselancar di FB dan dunia maya, memang sesuatu yang sulit untuk dikontrol. Tetapi hal ini menjadi suatu tantangan bagi pengguna FB, bagaimana merekonstruksi diri kepada hal-hal yang bermanfaat dan menjauhkan diri dari ancaman-ancaman negatif lainnya. Demi sebuah kata, ke-selamat-an.

Jadi Jurnalis Profesional, Tak (Lagi) Kuli Tinta





Memilah-milah sumber atau ide berita yang menarik, penting, dan bermakna untuk ditulis merupakan suatu hal yang harus diperhatikan oleh seorang jurnalis atau wartawan. Hal ini disampaikan Yurnaldi, Redaktur Harian Kompas, dalam workshop menulis feature, Minggu (4/7) lalu di lokal GL 9 UNP.
Seorang wartawan, tambahnya, dituntut untuk jeli bagaimana mengemas berita yang diperlukan dan bermakna bagi masyarakat di tengah persaingan media massa yang begitu ketat. Selain itu, wartawan harus mempunyai manajemen berita, mulai dari perencanaan, peliputan ke lapangan, menyeleksi data, penulisan, dan kemudian evaluasi. “Seorang wartawan harus kaya gagasan,” terang Yurnaldi di depan 40 peserta workshop.
Penulis buku best seller Menjadi Wartawan Hebat ini, juga menjelaskan tentang etika-etika yang harus dihormati wartawan sebagai pekerja publik. Seperti kejujuran, independensi, kebal suap, keseimbangan meliput dua sisi (cover both side), serta tetap menghormati undang-undang dan hukum yang berlaku. “Bekerjalah sebagai wartawan profesional dan tidak tukang atau kuli tinta,” tutupnya dalam penyampaian makalah yang berjudul Menggali Sumber Berita, Menulis dengan Luar Biasa.
Dalam workshop ini, Yurnaldi mencontohkan bagaimana menulis feature dengan mengangkatkan hal-hal kecil yang ada di lingkungan sekitar. Seperti mengungkapkan keunggulan bengkoang dari Kota Padang, yang menjadikan bengkoang sebagai cirri khas kota ini. Kearifan dan produk-produk lokal bisa dijadikan sumber tulisan. “Tinggal bagaimana penulis mengemasnya menjadi sebuah tulisan yang menarik,” jelasnya.
Sementara itu, Yurnaldi juga mengenai sosok wartawan yang diperhitungkan baik oleh sesama wartawan, media tempatnya bekerja, serta pihak lain. Seorang wartawan dituntut tidak hanya mampu melahirkan ide-ide bernas, tetapi juga mampu menuliskannya dengan sangat apik, cerdas, dan bermanfaat bagi pembaca atau khalayak ramai.
Dalam menuliskan ide-ide yang telah didapat, tambah Yurnaldi, adalah bagaimana wartawan menulis mencakup, menjelaskan, ringkas, dan menarik. Rumusannya tentu tidak berubah dari 5W + 1 H (what, who, when, where, why, dan how). Dalam 5W + 1H tersebut, menyajikan berita dengan peristiwa, dan menyajikan peristiwa dengan jalan cerita. “Pendeknya Don’t tell, but show,” kata Yurnaldi.
Sebenarnya tidak hanya bergantung kepada 5W + 1H, ia juga menjelaskan mengenai pembuatan lead atau teras berita. Untuk lead hindari menggunakan kalimat-kalimat yang panjang. Jumlah kata dalam lead usahakan tidak lebih dari 30 kata, serta menampilkan lead yang ‘bicara’. “Gunakan kalimat yang pendek, enak dibaca, dan langsung kepada pokok tulisan,” kata Yurnaldi.
Walaupun demikian, tambah Yurnaldi, belajar menulis berita atau feature dengan kaidah-kaidah yang diajarkan tidak selalu mudah ketika mempraktikkan. Dalam dunia jurnalistik, seni jurnalistik juga ada. Seni tak bisa diajarkan, namun seni ini bisa diperoleh oleh seorang wartawan jika wartawan gigih berlatih atau mempraktikkan. “Seni hanya tumbuh dalam praktik terus-menerus,” katanya.
Mengenai hal ini, Yurnaldi langsung menyuruh peserta mempraktikkan menulis feature kemudian membahasnya bersama-sama. Adapun Workshop ini diadakan oleh Surat Kabar Kampus Ganto Universitas Negeri Padang (UNP) Sumatra Barat dalam rangka meningkatkan kemampuan dan memotivasi mahasiswa UNP untuk menulis.

Dicari, Perempuan Bercelana Ketat

Otonomi daerah yang diterapkan beberapa tahun silam, memberikan kebebasan kepada daerah-daerah untuk mengurus daerah masing-masing sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan daerah tersebut. Pemerintah daerah (Pemda) berwenang membuat aturan atau regulasi untuk menertibkan dan memajukan daerahnya. Hal ini pula yang mendasari lahirnya peraturan daerah (Perda) di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, tentang pelarangan memakai celana ketat. Aceh juga dikenal dengan nama daerah Serambi Mekah, yang memang penerapan syariat Islam semakin kental di daerah ini.
Penerapan Perda pelarangan memakai celana ketat pun dimulai. Memang tidak disemua daerah di Aceh, lebih dikhususkan pada daerah Kabupaten Aceh Barat, salah satunya kota Meulaboh. Meulaboh menjadi tempat pertama yang memulai mengoperasikan razia pelarangan memakai celana ketat. Puluhan bahkan ratusan perempuan pun terjerat dalam razia ini. Para perempuan yang terjerat razia diinstruksikan langsung mengganti celana mereka dengan rok yang telah disediakan aparat perazia. Dalam aksi razia tersebut pemerintah menyediakan sekitar 20 ribu rok.
Mekanismenya, perempuan yang kedapatan mengenakan celana (jeans) ketat, maka akan langsung ditangkap dan celananya digunting oleh petugas, kemudian disuruh mengganti dengan rok yang telah disediakan. Perda dan aksi ini pun menjadi sorotan di masyarakat. Kritikan dari berbagai kalangan kepada pemerintah semakin banyak. Ada yang sepakat, dan ada pula yang kontra.
Kritikan yang bernada kontra terhadap Perda tersebut banyak bermunculan dari aktivis perempuan. Mereka menganggap Perda tersebut dibuat dan diiringin oleh unsur yang melegitimasi diskriminasi terhadap perempuan. Larangan menggunakan celana jeans, adalah semacam regulasi yang dibuat tidak partisipatif, menekan, dan mempersulit perempuan, justru bukan sebaliknya, membuat masyarakat nyaman.
Regulasi tersebut juga terkesan membatasi hak perempuan untuk menjalankan kegiatan-kegiatan yang lebih luas. Para aktivis perempuan yang keberatan dengan aturan tersebut menjelaskan, tindakan merazia, memotong, dan mengganti langsung celana yang dikenakan adalah tindakan sewenang-wenang dan mempermalukan perempuan di tengah kota tersebut. Apakah dengan cara berpakaian, sepertinya telah menjelaskan dan mewakili dengan lengkap bahwa seseorang patuh atau tidak, matang atau tidak, dalam menjalankan agamanya? Ini yang membuat regulasi pelarangan berpakaian ketat menjadi dilemma dan kontroversi dikalangan masyarakat dan perempuan.
Inilah wajah hukum dari Pemda di Aceh. Regulasi yang digodok atau dirancang, diujikan, kemudian disahkan ternyata belumlah sangat matang. Kontroversi, pro dan kontra semakin mewarnai daerah dengan regulasi-regulasinya. Keefektifan Perda, UU dan lainnya masih perlu dipertanyakan lagi. Jika Perda yang dibuat melahirkan instabilitas daerah tersebut, para pembuat peraturan patut mempertanyakan kembali efektifitas aturan-aturan tersebut.
Perda pelarangan mengenakan pakaian (jeans) ketat di daerah Aceh, tidak menutup kemungkinan mengandung unsur pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), terkhusus pada perempuan. Padahal, sudah seyogyanya Perda yang dibuat untuk meninggikan harkat dan derajat manusia, dalam arti harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan mencegah terjadinya pelanggaran HAM bagi masyarakat. Namun, jika Perda yang dibuat bermuatan pelanggaran HAM, tentu hal ini akan melahirkan pelanggaran-pelanggaran HAM yang jauh lebih besar lagi.
Hal ini sudah seharusnya menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Pemda dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat dalam membuat sebuah regulasi. Tidak buruk, jika sebelumnya Perda yang akan dibuat berdasarkan masukan dan ide-ide dari masyarakat dan dari berbagai kalangan. Karena Perda yang akan dibuat dan disahkan terkhusus kepada perempuan kelaknya, ya, mengakomodasi saran serta ide-ide dari kalangan perempuan pun juga harus diperbanyak dan diperdalam. Hal ini demi terwujudnya sebuah regulasi yang efektif, yang tidak hanya menyelesaikan gejala suatu penyakit namun mampu mengobati dan menumpasnya hingga ke akar-akarnya.
Begitu juga dengan Provinsi Sumatra Barat (Sumbar), yang notabene akan memuarakan syariat Islam ke dalam Perda atau regulasi-regulasi bagi masyarakat Sumbar. Belajar dari Aceh, juga bukanlah hal yang sia-sia. Iklim-iklim demokrasi dan jiwa pancasila harus tetap didukung dan ditegakkan. Tidak ada pemaksaan, tidak ada kesewenang-wenangan, apalagi diskriminasi terutama kepada perempuan.