Friday, 4 June 2010

Creative of Snaker untuk Pelestarian





Kamar kosan dengan ukuran 4 m x 4 m di jalan Angkasa Puri I No 35, Tunggul Hitam, Kecamatan Padang Utara, kota Padang ini, tampak tidak jauh berbeda dengan kamar kosan mahasiswa lainnya. Kamar tersebut dipenuhi dengan perlengkapan sehari-hari. Ada rak sepatu, kasur, kipas angin, dan sebuha notebook. Belum lagi pakaian yang menggantung di pintu kamar, ikut ‘meramaikan’ kamar tersebut. Namun di sudut ruangan, terdapat sebuah kotak dengan ukuran 50 cm x 30 cm. Kotak itu berisi seekor ular berjenis piton, diberi nama Rama.
Kamar tersebut selain kosan mahasiswa juga merupakan sekretariat Creative of Snaker Community (komunitas pencinta ular) di Padang. Selain Rama, penghuni kamar ini juga Badril dan Ade. Mereka anggota komunitas tersebut yang juga mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) dan LP3i. Sudah empat bulan mereka menghuni kamar tersebut. Sebelumnya mereka berdomisili di Sawahlunto dan bolak-balik Padang-Sawahlunto.
Menurut Badril, Creative of Snaker adalah sebuah lembaga studi yang memfokuskan diri mempelajari seluk beluk tentang ular. Awal lahirnya komunitas ini berdasarkan kesamaan hobi, pencinta ular, sudah sejak tahun 2006 lalu. Namun, baru dua tahun kemudian, 10 Mei 2008, berani memproklamirkan diri ke khalayak ramai tentang komunitas mereka. Pengurusnya tidak hanya Badril dan Ade, namun masih ada lagi sekitar 14 pengurus lainnya di Sawahlunto.
Badril menambahkan, Creative of Snaker ini dirikan untuk melindungi ular yang oleh sebagian besar masyarakat dianggap hama dan musuh. Padahal tidaklah demikian. Inilah landasan komunitas tersebut bergerak menjadi lembaga studi. Cretive of Snaker selalu berusaha mencoba memberikan pengetahuan tentang betapa pentingnya satwa ular untuk keseimbangan lingkungan. “Apalagi saat sekarang, di Sumatra jenis ular semakin sedikit, berbeda dengan pulau Jawa,” jelasnya, Selasa (13/4) lalu sambil mengusap-usap Rama yang panjangnya dua meter.
Kesibukan mereka di kampus, tidak menghalangi berbagai kegiatan yang akan dilakukan. Walaupun harus bolak-balik Padang-Sawahlunto, studi-studi kepada masyarakat tentang hewan ini sering diselenggarakan.
Badril menjelaskan, biasanya materi dalam studi lebih banyak difokuskan kepada sosialisasi penanganan dan penangkapan ular tanpa harus membunuhnya. Setelah sosialisasi di daerah-daerah, Creative of Snaker selalu meninggalkan alamat lengkap dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Hal ini berkaitan jika sewaktu-waktu ada ular yang ditemukan masyarakat, bisa langsung menghubungi komunitas ini tanpa harus menyakiti sang ular. Jika ular diserahkan, biasanya Badril dan teman-teman akan merawat beberapa minggu, jika sariawan -penyakit khas ular- akan diobati terlebih dahulu kemudian dilepas ke alam bebas.
Sampai sekarang komunitas ini telah memiliki koleksi 12 ekor ular dari berbagai jenis. Ada ular piton, kobra, ular daun, ular cincin emas, dan lainnya. Ular-ular ini digunakan sebagai bahan pengajaran ketika studi kepada masyarakat, mahasiswa, maupun siswa.
Merawatnya tidaklah begitu sulit. Kandangkan ular ke dalam sebuah kotak yang diperkirakan sesuai dengan ukuran tubuhnya ketika melingkar. Alasi kotak dengan serbuk kayu, dan jangan lupa memberi lubang ventilasi kiri-kanan dan depan-belakang kotak untuk sirkulasi udara. Setiap tiga minggu sekali ular-ular ini diberi makan, ada ayam atau tikus. Di sisi lain, ular-ular tersebut harus dibersihkan lebih intens ketika terjadi proses tukar kulit, berlangsungnya setiap sekali sebulan. “Kalau tidak dibantu, kulitnya kurang cemerlang dan bercahaya,” jelas Ade, sambil membersihkan kulit Rama yang baru selesai proses tukar kulit.

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^