Thursday, 24 June 2010

Pornografi Ancaman Karakter Bangsa

Maraknya peredaran video seks di dunia maya yang ‘menghimbau’ masyarakat luas untuk melihatnya, semakin mencerminkan watak bangsa yang memprihatinkan. Peredarannya begitu mudah diakses oleh siapa saja, termasuk di sini remaja dan anak-anak. Yang menjadi momok menakutkan adalah, aktor atau pelaku dalam video seks ialah seorang publik figur yang menjadi idola. Kenyataannya, apa yang dilakukan oleh pengidola tidak akan jauh-jauh dari apa pula yang dilakukan idola, yang selalu dibanggakannya.
Mudahnya remaja dan anak-anak mengakses internet yang di dalamnya banyak gambar dan video seks, akan menjadi semacam ancaman yang serius. Degradasi moral dan pembentukan karakter yang bobrok pun akan merajalela. Ini lah kecemasan dan ketakutan serius, baik bagi orang tua, keluarga, maupun negara. Antisipasi dan tindakan yang mangarah kepada ketertiban-ketertiban penguasa internet, mulai dilakukan pemerintah, seiring maraknya beredar video seks sepuluh hari belakangan.
Beredarnya video seks yang aktornya publik figur, menjadi perhatian bangsa dan elemen-elemen lainnya. Hal ini menjadi ancaman besar bagi pembentukan dan perkembangan moral anak bangsa. Karena peredaran video tersebut berpotensi memancing rasa ingin tahu publik, dan kemudian memburu video itu lewat internet. Hal ini menjadi kasus serius yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Semakin mudahnya setiap golongan dapat mengakses video seks, pada hakikatnya tidak terlepas dari media yang menampilkannya. Baik hanya berupa foto-foto ataupun potongan-potongan video yang notabene akan tetap memancing pemirsa untuk mencari link video tersebut. Kemudian melihat, menonton, dan tidak menutup kemungkinan memperagakannya, dalam bentuk apa pun.
Media merupakan sarana dan media yang menjadikan ‘aktor’ dan ‘penonton’ menjadi jauh lebih dekat dan akrab. Melalui media, ‘penonton’ bisa menyaksikan apa saja yang ingin disaksikan. Terlebih lagi dengan media online zaman sekarang. Tak ada lagi batas. Tak ada lagi hambatan. Hanya dalam hitungan detik, ‘penonton’ bisa mengakses apa saja, sesuka hati dan perut ‘penonton’.
Penguasaan dan penggunaan media online bagi remaja dan anak-anak juga semakin meningkat. Hal tak bisa dipungkiri. Media online juga harus diajarkan kepada remaja dan anak-anak baik di sekolah, keluarga, maupun di dunia sosial lainnya. Penguasaan dan penggunaan internet akan semakin meningkatkan akses remaja dan anak-anak kepada dunia maya, dan tak pelak lagi termasuk situs-situs yang tidak ‘menyehatkan’.
Media menjadi faktor penting dalam menginformasikan, menyebarluaskan, dan bahkan membuat lebih sensasional dalam kasus video seks yang belakangan hampir menyita perhatian bangsa Indonesia. Dari pagi hingga malam, media selalu menampilkan kasus video tersebut. Tidak hanya media elektronik termasuk di sini media cetak dengan style tersendiri. Dalam hal ini media hanya menampilkan info-info yang sensasional dan kurang profesional. Fungsi media dalam hal pendidikan diabaikan dan dibiarkan saja. Hanya ‘penonton’ yang dituntut menjadikannya pendidikan atau sebaliknya, dijadikan sampah.
Nah, bagaimana dengan slogan pendidikan berkarakter yang didengung-dengungkan beberapa waktu lalu oleh pemerintahan. Pendidikan yang jauh dari kebohongan, bermoral, beretika, tidak antisosial, dan tidak antidemokrasi. Inilah model pendidikan yang coba dibangun kemudian ditularkan oleh pendidik kepada semua elemen di masyarakat, termasuk di sini publik figur dan media, tentunya.
Model pendidikan ini pun menjadi tren tersendiri bagi pembangunan bangsa, khususnya bagi lembaga pendidikan dan sejenis lainnya. Hampir setiap pihak, dihimbau untuk mengembangkan dan menularkan model pendidikan ini. Konsepnya tidak lagi memanusiakan manusia tetapi justru memuliakan manusia. Diharapkan dengan model pendidikan berkarakter ini dapat melahirkan manusia-manusia dan generasi muda yang cerdas, bermoral, berkarakter, dan terampil.
Tantangannya sekarang adalah mampukah konsep pendidikan berkarakter menerjang dan melawan arus dari pengaruh dunia maya yang tak terbendung? Jangan sampai konsep pendidikan berkarakter tidak hanya retorika dan dialektis yang hampa. Jangan sampai dengan semakin bebasnya media menampilkan info-info tanpa etika dan tidak menjunjung kode etik profesi, adalah salah satu sarana menjadikan moral bangsa ini semakin buruk dan mengkhawatirkan.
Menilik dari fenomena ini, semua elemen bertanggung jawab agar anak-anak dan remaja tidak menjadi korban degradasi moral dari menyebarnya video seks tersebut. Anak-anak dan remaja harus dihindarkan dari hal-hal yang berbau pengaksesan situs porno. Tentu hal ini tidak baik bagi perkembangan, baik fisik maupun psikis mereka. Pemerintah sebagai pihak yang paling berwenang dan berkuasan, susah sebaiknya mengambil tindakan yang bijak bagaimana menyelesaikan kasus video seks yang bertebaran di dunia maya.
Sebenarnya tidak hanya pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat sosial sudah sepatutnya menjauhkan anak-anak dan remaja dari dunia yang tidak mendidik tersebut. Regulasi atau peraturan untuk hal ini telah ada, namun implementasi dan aplikasi yang mapan belumlah menampakkan titik terang yang mengharapkan. Hal ini merupakan tantangan baru bagi pihak yang berwenang bagaimana menegaskan dan mengaplikasikan sanksi yang tegas dan tidak pandang bulu baik, bagi aktor, penyebar, maupun pengunduh dan yang mengajak melihatnya. Tidak terlambat untuk selalu memperbaiki diri dan merekonstruksi kembali watak dan karakter bangsa yang (sudah) mulai mengarah kepada penipisan moral.

Friday, 4 June 2010

Lupa Sejarah Lupa Nasionalisme


Resensi buku

Judul : Membaca Sejarah Nusantara
25 Kolom Sejarah Gus Dur
Pengarang : Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Cetakan : I, Januari 2010




Gus Dur juga menulis tentang sejarah. Alasannya, sejarah tak lepas dari kontroversi. Apalagi kisah atau cerita yang sudah lama berlalu, begitu terbuka untuk dikritisi dari berbagai sudut yang memang tak bisa dihindari. Bak dirinya yang selalu menuai kritikan karena sikap, perkataan, komentar, dan perkiraan –yang kadang- tidak wajar bagi kebanyakan kalangan Indonesia. Dengan alasan inilah Gus Dur melahirkan tulisan-tulisan yang memuat kajian sejarah, walau tak begitu panjang hanya dalam bentuk tulisan kolom.
Sejarah masa lalu dalam kaca matanya yang jeli, kritis, unik, dan nekat, sehingga seperti biasa, kemungkinan orang akan terkaget-kaget atau setidaknya tergelitik membaca tafsir dan spekulasi yang ia lontarkan tentang sejarah. Sesuatu yang selama ini mungkin sudah umum dipercayai sebagai ‘kebenaran sejarah’, tiba-tiba digoyangnya sedemikian rupa sehingga mau tidak mau orang pun tergelitik untuk melakukan peninjauan ulang.
Kisah sejarah yang dirunutkan Gus Dur dalam buku ini beragam. Ada yang berkisah tentang agama; Islam, Hindu, Budha, ada pula tentang kerajaan, agama yang belum ‘diridhoi’ pemerintah, multikultural, pluralisme, dan tentu tak ketinggalan dengan Nahdatul Ulama (NU). Semua kisah yang dituliskannya, sedikit banyak membawa pembaca pada sebuah titik ‘berbeda’. Berbeda secara fakta sejarah, pandangan pembaca, hingga terpengaruh terhadap pandangan Gus Dur, yang kadang membingungkan.
Dalam 25 kolom sejarahnya ini, Gus Dur berbicara, walau banyak kajian, namun titik pandangnya adalah nasionalisme. Ia memaparkan bagaimana sejarah bangsa besar ini diisi dengan kerajaan, raja dan ratu, istana, agama, budaya, keanekaragaman, dan seterusnya, dalam konsep nasionalisme yang pada masa itu bukan untuk memperebutkan kekuasaan, namun menciptakan suasana yang demokratis. Konsep yang dipaparkan begitu arif dan luhur.
Akan tetapi masa sekarang, nasionalisme dijadikan dasar untuk memperebutkan dan memperoleh kekuasaan. Demokratisasi tak lagi tujuan bersama. Demokrasi di depan mata yang tamak kekuasaan sudah tak bergigi lagi, walau kata demokrasi selalu mengembel-embeli orasi mereka di depan publik.
Gus Dur mengkritik dan tak menyepakati konsep macam ini. Ia sangat menjunjung tinggi kebebasan berpikir dan bertindak yang tidak melanggar hukum. Ia tampakkan nasionalismenya pada bangsa ini dengan berbagai cara, salah satunya dengan menjadi presiden Republik Indonesia. Walau hal itu tak happy ending. Setidaknya ia telah mencoba dan ingin merubah pemikiran bangsa ini dari mengingatkan kembali nasionalisme hingga mewujudkan kehidupan yang demokrasi.
Pada dasarnya kolom-kolom ini ditulis Gus Dur setelah ia lengser dari kursi kepresidenan. Dalam kurun waktu September 2001 hingga Maret 2002, puluhan artikel telah ia lahirkan, dalam berbagai tema dan telah dipublikasikan. Bahasanya cukup ringan dan mudah dipahami walau kajiannya sebenarnya berat. Ini nilai plus dari buku tersebut. Di sisi lain, ukuran bukunya tak memenuhi tas anda hingga tak begitu ribet untuk membawanya kemana-mana; kampus, jalan-jalan, atau bahkan ke kamar mandi.

Creative of Snaker untuk Pelestarian





Kamar kosan dengan ukuran 4 m x 4 m di jalan Angkasa Puri I No 35, Tunggul Hitam, Kecamatan Padang Utara, kota Padang ini, tampak tidak jauh berbeda dengan kamar kosan mahasiswa lainnya. Kamar tersebut dipenuhi dengan perlengkapan sehari-hari. Ada rak sepatu, kasur, kipas angin, dan sebuha notebook. Belum lagi pakaian yang menggantung di pintu kamar, ikut ‘meramaikan’ kamar tersebut. Namun di sudut ruangan, terdapat sebuah kotak dengan ukuran 50 cm x 30 cm. Kotak itu berisi seekor ular berjenis piton, diberi nama Rama.
Kamar tersebut selain kosan mahasiswa juga merupakan sekretariat Creative of Snaker Community (komunitas pencinta ular) di Padang. Selain Rama, penghuni kamar ini juga Badril dan Ade. Mereka anggota komunitas tersebut yang juga mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) dan LP3i. Sudah empat bulan mereka menghuni kamar tersebut. Sebelumnya mereka berdomisili di Sawahlunto dan bolak-balik Padang-Sawahlunto.
Menurut Badril, Creative of Snaker adalah sebuah lembaga studi yang memfokuskan diri mempelajari seluk beluk tentang ular. Awal lahirnya komunitas ini berdasarkan kesamaan hobi, pencinta ular, sudah sejak tahun 2006 lalu. Namun, baru dua tahun kemudian, 10 Mei 2008, berani memproklamirkan diri ke khalayak ramai tentang komunitas mereka. Pengurusnya tidak hanya Badril dan Ade, namun masih ada lagi sekitar 14 pengurus lainnya di Sawahlunto.
Badril menambahkan, Creative of Snaker ini dirikan untuk melindungi ular yang oleh sebagian besar masyarakat dianggap hama dan musuh. Padahal tidaklah demikian. Inilah landasan komunitas tersebut bergerak menjadi lembaga studi. Cretive of Snaker selalu berusaha mencoba memberikan pengetahuan tentang betapa pentingnya satwa ular untuk keseimbangan lingkungan. “Apalagi saat sekarang, di Sumatra jenis ular semakin sedikit, berbeda dengan pulau Jawa,” jelasnya, Selasa (13/4) lalu sambil mengusap-usap Rama yang panjangnya dua meter.
Kesibukan mereka di kampus, tidak menghalangi berbagai kegiatan yang akan dilakukan. Walaupun harus bolak-balik Padang-Sawahlunto, studi-studi kepada masyarakat tentang hewan ini sering diselenggarakan.
Badril menjelaskan, biasanya materi dalam studi lebih banyak difokuskan kepada sosialisasi penanganan dan penangkapan ular tanpa harus membunuhnya. Setelah sosialisasi di daerah-daerah, Creative of Snaker selalu meninggalkan alamat lengkap dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Hal ini berkaitan jika sewaktu-waktu ada ular yang ditemukan masyarakat, bisa langsung menghubungi komunitas ini tanpa harus menyakiti sang ular. Jika ular diserahkan, biasanya Badril dan teman-teman akan merawat beberapa minggu, jika sariawan -penyakit khas ular- akan diobati terlebih dahulu kemudian dilepas ke alam bebas.
Sampai sekarang komunitas ini telah memiliki koleksi 12 ekor ular dari berbagai jenis. Ada ular piton, kobra, ular daun, ular cincin emas, dan lainnya. Ular-ular ini digunakan sebagai bahan pengajaran ketika studi kepada masyarakat, mahasiswa, maupun siswa.
Merawatnya tidaklah begitu sulit. Kandangkan ular ke dalam sebuah kotak yang diperkirakan sesuai dengan ukuran tubuhnya ketika melingkar. Alasi kotak dengan serbuk kayu, dan jangan lupa memberi lubang ventilasi kiri-kanan dan depan-belakang kotak untuk sirkulasi udara. Setiap tiga minggu sekali ular-ular ini diberi makan, ada ayam atau tikus. Di sisi lain, ular-ular tersebut harus dibersihkan lebih intens ketika terjadi proses tukar kulit, berlangsungnya setiap sekali sebulan. “Kalau tidak dibantu, kulitnya kurang cemerlang dan bercahaya,” jelas Ade, sambil membersihkan kulit Rama yang baru selesai proses tukar kulit.

Pusaran Angin, Wisata Nyata Tak Terjamah




Jika anda ingin menikmati panorama alam danau kebanggaan masyarakat Batusangkar dan Solok, Danau Singkarak dari ketinggian, ada baiknya anda mengunjungi tempat ini. Namanya Pusaran Angin. Sesuai namanya, tempat ini adalah tempat perputaran angin dari arah timur ke arah barat. Tepatnya angin yang berhembus dari daerah Solok menuju Padang.
Kawasan wisata ini terletak di jorong Payorapuah, kecamatan Batipuah, kabupaten Tanah Datar. Pusaran Angin sendiri terletak di atas ketinggian sekitar… dari permukaan laut. Dari atas ini kita bisa langsung menyaksikan luas dan indahnya Danau Singkarak yang memisahkan dua kabupaten di Sumatra Barat, Batusangkar dan Solok.
Ditemani semilir angin dan kabut, anda akan sangat terbuai dan terpana. Seolah-olah anda sedang berada di atas awan. Jika anda sedang beruntung, cuaca cerah dan langit bersih di siang hari, maka anda akan sangat terkagum-kagum dengan panorama alam yang begitu memukau. Namun jika tidak, yang akan anda lihat hanyalah kabut tebal, yang membuat pemandangan hanya berjarak semester ke depan. Selebihnya kabut.
Belum lagi lereng Pusaran Angin. Sepanjang jalan menuju tempat ini, dipenuhi padi ladang milik masyarakat. Selain itu, pohon-pohon sawo berjejeran sepanjang jalan. Walaupun kawasan ini tempat wisata, namun masyarakat boleh bercocok tanam. Asal tidak merusak kawasan wisata ini.
Sekitar 200 meter menuruni jalan beraspal tipis dengan lebar 1,5 meter, tempat wisata Pusaran Angin, anda akan langsung disuguhi pemandangan yang eksotik. Telaga pemandian. Luas telaga ini sekitar seperempat hektar. Di telaga ini, kebetulan di belakang masjid, masyarakat menjalankan kegiatan sehari-hari; mandi dan mencuci. Air telaga ini tidak digunakan warga untuk memasak dan minum. Juga tidak untuk membuang hajat.
Airnya tidak terlalu jernih. Walau begitu telaga ini selalu ramai dikunjungi warga setempat. Bukan berarti mereka tidak memiliki sumur. Namun ini lah kebiasaan masyarakat sekitar. Jika anda berkunjung, anda juga harus mengunjungi telaga yang melegenda ini.
Andainya anda tertarik ke Pusaran Angin, anda bisa langsung ke tempat ini. Dari pasar Padang Panjang anda langsung saja ke Batipuah, sekitar 30 km perjalanan. Kendaraan yang tersedia ada ojek dan mini bus. Sayangnya mini bus hanya beroperasi pada Senin dan Jumat. Karena hari itu adalah hari pasarnya Padang Panjang. Dan penumpang lebih banyak waktu itu. Hari lainnya, mini bus ini tidak beroperasi ke Batipuah.
Pusaran Angin, adalah salah satu kawasan berpotensi di ranah Minang. Seperti tahun 2001 lalu, olahraga paralayang internasional pernah diadakan di tempat ini. Sebanyak 180 negara ikut serta dalam even tersebut. Ada dari Malaysia, Amerika, Australia, dan tentunya dari Indonesia sendiri serta negara lainnya. Karena potensi alamnya yang khas dan menarik.
Sayangnya, beberapa tahun terakhir olahraga ini, jarang diadakan di Pusaran Angin. Pasalnya, masih susahnya jangkauan pengunjung ke tempat ini. Akses transportasi masih minim. Serta pengembangan kawasan wisata pun dari pemerintah setempat belumlah maksimal. Hal ini terbukti dari kuantitas pengunjung ke Pusaran Angin. Tempat ini hanya diramaikan oleh wisatawan pada tahun baru, sesekali akhir pekan. Selebihnya tidak.
Masyarakat dan organisasi karang taruna setempat tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya menunggu kalau-kalau Pusaran Angin bisa menyaingi Ngarai Sianok, ya, setidaknya selevel. Namun hingga saat ini hal tersebut belum menampakkan tanda-tanda. Pusaran Angin masih sepi pengunjung, hanya angin yang berseliweran di tempat itu dan tak pernah bosan.

Thursday, 3 June 2010

Balada Berbalas Pantun

Pantun merupakan salah satu produk kebudayaan Melayu. Sebenarnya tidak hanya pantun, masih banyak lagi produk kebudayaan dari Melayu, seperti; Sejarah Melayu yang mengungkapkan silsilah raja-raja Melayu, Gurindam Dua Belas, Serampang Dua Belas dengan gerak gemulai yang meliuk dinamis, dan tidak ketinggalan pantun yang unik, sederhana, dan penuh misteri.
Dari sekian banyak produk Melayu, pantun mampu mewakili ikon kebudayaan tersebut. Hal ini dikarenakan berbagai faktor pendukung, pertama, pantun dinilai lebih kaya dan memukau dibanding produk Melayu lainnya, karena memang lahir dan berkembang jauh lebih dulu dari produk kebudayaan Melayu lainnya. Pantun sejak lama telah menjadi objek kajian para peneliti dari mancanegara yakni sekitar tahun 1688 lalu (Maman, 2005).
Kedua, dibandingkan dengan jenis kesenian lain yang lahir di alam Melayu, pantun relatif tidak terikat oleh batasa usia, jenis kelamin, dan stratifikasi sosial, dan hubungan darah. Di sana ada pantun anak-anak, ada pula pantun remaja, pantun dewasa, dan pantun orang tua-tua yang secara langsung terpecah pula kepada ketegori-kategori tertentu, seperti pantun usik-mengusik, pantun jenaka, pantun pengajaran, pantun pendidikan dan pantun dengan kategori lainnya.
Ketiga, pantun dapat digunakan oleh siapa saja, di sembarang tempat, dalam berbagai suasana, atau dalam kegiatan apapun. Ketika sedih dan gembira orang bisa memainkan pantun. Seorang pejabat negara dalam pidato resminya juga boleh menyelipkan pantun. Seorang khatib dalam kotbah keagamaannya, elok pula jika memasukkan pantun di antara fatwa atau ceramah yang disampaikannya. Demikian pula dengan upacara perkawinan, yang sangat akrab dengan berbalas pantun termasuk untuk masyarakat Minangkabau.
Dengan begitu, pantun telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Melayu. Pantun telah menyelusup dan masuk ke berbagai aspek kegiatan kehidupan masyarakat Melayu. Ia boleh berada di mana saja, kapan saja, dan dapat dibawakan oleh siapa saja, tanpa khawatir melanggar tabu. Sehingga A. Teeuw pun menyatakan ‘pantun telah menjadi alat komunikasi yang lebih luas, di peringkat massa’.
Pertanyaannya mengapa masyarakat Melayu begitu dekat dengan pantun? Sebagai salah satu bentuk kesenian yang lahir dari naluri budaya masyarakat Melayu, pantun sangat mungkin sudah ada jauh sebelum Islam masuk. Walau begitu pantun relatif dapat bertahan meskipun pemakaiannya lebih banyak memanfaatkan pantun-pantun lama atau sengaja dibuat untuk lirik lagu-lagu pop ataupun dikemas untuk menciptakan idiom atau ungkapan-ungkapan baru.
Berdasarkan hal tersebut, niscaya pantun memiliki ada sesuatu yang luar biasa dalam pantun. Dalam hal ini pantun tidak hanya sebatas berurusan dengan kesamaan bunyi a-b-a-b atau hanya berkaitan dengan masalah sampiran dan isi yang telah begitu banyak diperbincangkan para peneliti, tetapi juga ada masalah yang lebih radikal dan filosofis yang mendasarinya. Penjelasan yang sangta berkaitan dengan alam pikiran masyarakat Melayu.
Di ranah Minang-yang juga satu rumpun dengan masyarakat Melayu- pantun juga menjadi komunikasi lisan yang tak habisnya. Dalam berbagai situasi pun masyarakat Minang mamakai pantun untuk mengungkapkan sesuatu. Itu dulu, namun sekarang telah berubah. Sekarang pengguna pantun semakin sedikit, dan budaya ini pun sudah jarang ditemukan dalam kehidupan sosial langsung di ranah Minang.
Walau demikian, tidak seutuhnya budaya berbalas pantun mati suri di ranah Minang. Jikalau diperhatikan, beberapa siaran radio di Kota Padang, hampir semuanya memuat acara berbalas pantun. Biasanya si penyiar mengundang pendengar dengan memanfaatkan komunikasi telepon rumah atau handphone untuk menjalankan program ini. Antara penyiar dan pendengar biasanya sama-sama mahir memainkan pantun. Pantun apa saja boleh dimainkan dalam program tersebut, apakah itu pantun jenaka, balada kehidupan, ataupun pantun sindiran untuk pejabat.
Fenomena ini bisa dijadikan tolak ukur betapa kuatnya pengaruh pantun dalam kehidupan masyarakat Melayu. Pantun bahkan menjadi ciri khas, karakter, watak, dan jiwa masyarakat Melayu. Kelestariannya juga perlu diperhatikan. Program berbalas pantun di radio memang dominan diikuti oleh generasi tua yang sudah berumur setengah abad lebih. Ini menjadi sebuah PR (pekerjaan rumah), dari sekian banyak PR, bagi masyarakat Melayu tentunya juga masyarakat Minang untuk melestarikan pantun dan mewariskannya ke generasi selanjutnya. Anak muda Minang ayo belajar berbalas pantun!