Tuesday, 18 May 2010

Menjadi Pekerja Sosial Profesional

Menjadi pekerja sosial bukanlah hal mudah. Apalagi menjadi pekerja sosial profesional yang kredibilitasnya dapat diandalkan dalam pemecahan masalah di masyarakat. Kementerian Sosial Republik Indonesia melalui Departemen Sosial (Depsos) melakukan berbagai upaya agar mampu melahirkan pekerja-pekerja sosial profesional serta pantas mendapat sertifikasi.
Menjadi pekerja sosial profesional dibutuhkan tiga penguasaan kompetensi dalam mewujudkan pekerja sosial yang mampu mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Tiga kompetensi tersebut yakni, pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan nilai (value).
Seorang pekerja sosial harus memiliki pengetahuan yang luas dan komprehensif. Pengetahuan ini tidak hanya dari bidang pendidikan awal seorang pekerja menempuh pendidikannya. Namun juga dari bidang lain yang berkaitan dengan keprofesionalan pekerja sosial. Pengetahuan ini merupakan modal awal bagi pekerja sosial untuk menanggapi dan mencarikan solusi dari permasalahan yang dihadapi masyarakat. Tanpa pengetahuan yang luas dan komprehensif, seorang pekerja sosial bukanlah apa-apa.
Penguasaan kompetensi kedua yakni keterampilan. Keterampilan tak kalah pentingnya dari penguasaan pengetahuan. Seorang pekerja sosial diharuskan memiliki keterampilan yang cukup dalam menangani berbagai kondisi di masyarakat kelaknya. Semisal, dalam kondisi terjadinya bencana alam, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dan lainnya. Keterampilan dalam menangani berbagai kondisi tersebut merupakan tantangan sekaligus menjadi sesuatu yang patut bagi pekerja sosial.
Sedangkan penguasaan kompetensi terakhir yakni nilai. Nilai bisa disebut etika, affektif, sopan santuan, serta tata susila bagi seorang pekerja sosial. Dalam menjalankan pekerjaannya seorang pekerja sosial tak boleh melenceng dari nilai-nilai yang telah menjadi kesepakatan masyarakat atau pun sebagai etika tersendiri bagi pekerja sosial. Nilai-nilai yang harus dimiliki seorang pekerja sosial tentulah tidak bertentangan dengan tata nilai, kebiasaan, serta tata hukum dimana ia bekerja. Karena jika seorang pekerja sosial tak mampu menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut, secara langsung ataupun tak langsung masyarakat bukan merasa dibantu tetapi justru sebaliknya.
Ketiga kompetensi ini akan sangat mendukung kinerja dan keprofesionalan seorang pekerja sosial. Bagaimana seorang pekerja sosial mampu mengayomi masyarakatnya jika tak memiliki ketiga kompetensi tersebut. Padahal kompetensi-kompetensi tersebut akan mampu melahirkan kepercayaan diri bagi pekerja sosial terhadap profesinya hingga meningkatkan kinerja pekerja sosial. Dengan kompetensi ini pekerja sosial mampu memelihara personalnya dengan baik sehingga kinerja secara professional juga tercipta dengan mudah.
Sekarang ini, tidak sedikit lembaga-lembaga kesejahteraan sosial baik dari yang langsung diwadahi Depsos ataupun tidak masih banyak pekerja sosial yang dimiliki lembaga tersebut kurang profesional. Imbasnya masyarakat setempat tidak mengetahui dan tidak memanfaatkan peran lembaga-lembaga sosial dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat.
Peran lembaga kesejahteraan sosial yang masih belum maksimal termasuk di sini peran pekerja sosial, mengakibatkan masyarakat yang tengah dilanda permasalahan lari ke ranah hukum untuk menyelesaikannya. Padahal peran lembaga sosial dan pekerja sosial lebih banyak di sini. Lembaga kesejahteraan sosial dan pekerja sosial mampu memberikan perlindungan, kenyamanan, konseling, advokasi, dan berperan sebagai teman kepada masyarakat yang sedang mengalami permasalahan sosial. Akan tetapi hal ini belum tercipta dengan memuaskan.
Dalam hal ini, melalui Radio Republik Indonesia, Depsos mencoba memberikan arahan dan program-program yang dibentuk untuk mampu meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan sosial bagi masyarakat. Pembinaan-pembinaan yang dilakukan dalam rangka peningkatan sumber daya pekerja sosial juga dilakukan. Menambah kualitas pengetahuan, bobot keterampilan, serta nilai yang semakin dikukuhkan dalam menjalankan profesi sebagai pekerja sosial menuju keprofesionalan yang nantinya akan bersertifikasi.

Tuesday, 11 May 2010

Mahasiswa dan Pemilu Kepada Daerah

Pemilihan umum kepala daerah (pemilu kada) tak lama lagi. Dijadwalkan akhir bulan Juni mendatang pesta rakyat demokrasi tersebut akan diselenggarakan serenatak di Ranah Minang. Lima pasangan calon pun telah tampak di depan mata. Baliho dan spanduk besar-besar mewarnai kota Padang dan daerah tingkat dua lainnya. Berbagai slogan dan visi misi sang calon pun tepampang jelas di mana-mana. Tidak hanya itu, suara dan gambar sang calon juga mewarnai media massa baik cetak maupun elektronik.
Mereka adalah pasangan calon gubernur dan wakil gubernur (cagub dan cawagub) Prof. Dr. H. Ediwarman, S.H., berpasangan dengan Drs. Husni Hadi, S.H., Drs. Endang Irzal, MBA., berpasangan dengan H. Asrul Syukur., M.M., Drs. H. Fauzi Bahar, M.Si., berpasangan dengan Drs. Yohanes Dahlan, M.Si., Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi., M.Sc., berpasangan dengan Drs. H. Muslim Kasim, M.Si., dan Prof. Dr. H. Marlis Rahman, M.Sc., berpasangan dengan Drs. H. Arisno Munandar. Pasangan calon ini dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda-beda dan pengalaman memimpin yang berbeda pula.
Jika ingin lebih tahu, mahasiswa bisa mencari tread record atau latar belakang sang calon agar lebih dekat dan mengerti seperti apa calon pemimpin Sumatra Barat mendatang. Mengetahui latar belakang sang calon tak salah dan tak susah pula. Tinggal mengklik internet dan surat kabar elektonik, teman-teman mahasiswa sudah bisa mendapatlan informasi tentang mereka. Dan tinggal bagaimana mahasiswa menyesuaikan dengan pilihannya kelak.
Sebagai mahasiswa yang berdomisili di tempat atau daerah yang tidak lama lagi akan mengadakan pesta demokrasi, pemilu kada Sumbar, dan mahasiswa bukanlah pemilih yang terdaftar secara legal pada Daftar Pemilih Tetap (DPT) tak usah berkecil hati. Mahasiswa yang berasal dari luar kota Padang dan tak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) setempat, memang disusahkan dengan tak bisa manyalurkan aspirasi politiknya dengan bebas. Hal ini berbeda dengan pemilu presiden, asal punya KTP nasional, calon pemilih sudah bisa memilih dalam bilik suara.
Sedangkan mahasiswa yang terdaftar secara legal pada DPT mereka berhak menggunakan hak suaranya bebas dan tak terpengaruh. Walau begitu bukan berarti mahasiswa seenaknya tanpa mempertimbangkan calon pemimpin yang sesuai dengan keadaan Sumbar sekarang dan ke depannya. Pertimbangan tersebut tetap ada. Mengingat mahasiswa juga merupakan calon pemimpin masa depan, termasuk dalam ranah politik seperti pemilu kada mendatang.
Dalam lingkup mahasiswa pemilu kada merupakan sebuah pelajaran tersendiri bagi mahasiswa. Dengan ikut serta aktif dalam pesta demokrasi ini, setidaknya telah mendapatkan pengetahuan lebih atau semacam frame tentang pemilu kada. Mahasiswa sebagai agen of change, iron stock, dan control social di masyarakat, sudah sepantasnya memberikan pencerahan terhadap masyarakat sebagai pemilih kelaknya. Memberikan informasi yang jelas sudah tentu itu penting dan harus dilakukan. Bukan berarti sebaliknya.
Pandangan mahasiswa tentang pemilu kada memang berbeda-beda. Ada yang ikut serta apakah itu dalam bentuk mengadakan acara debat dan dialog dengan pasangan calon, bedah visi dan misi ataupun lainnya. Ada pula yang tak mau tahu sama sekali, semakin sibuk dengan dunia perkuliahan di kampus. Dua keadaan yang bertolak belakang ini tidak semuanya baik dan buruk. Mahasiswa yang aktif dalam agenda pemilu kada, itu baik. Dan mahasiswa yang sibuk dengan kegiatan perkuliahan di kampus, juga tidak jelek. Kedua kondisi ini muncul karena berbagai faktor.
Mahasiswa yang ikut serta dalam pemilu kada, merupakan salah satu caranya mereka belajar memimpin, mengadakan sebuah acara, dan memberikan pencerahan bagi mahasiswa serta masyarakat setempat. Sedangkan pada pilihan kedua, bisa saja mahasiswa tersebut tidak mau tahu dan masa bodoh dengan perbedaan keadaan di sekitarnya. Tetapi, jika mahasiswa bersikap cuek, bisa jadi ini adalah salah bentuk “perlawanan” terhadap keadaan pemimpin masa sekarang yang lebih banyak mengecewakan daripada mengayomi. Ini salah satu alasannya.
Fenomena pemimpin yang terjerat kasus korupsi, penyelewengan, pemerasan, makelar kasus, dan memanfaatkan kesempatan memancing di air keruh, juga banyak muncul ke ranah publik. Hal ini menyebabkan pandangan miris dari rakyat kepada pemimpin di atas sana semakin besar. Mosi tidak percaya juga berkembang dan menyebar di kalangan mahasiswa.
Pemilu kada ini merupakan salah satu cara memperbaiki citra pemimpin masa depan yang jauh lebih baik. Caranya, ya, mengetahui sepak terjang pasangan calon sewaktu menjabat. Mempelajari visi misi mereka dengan cermat dan tak segan-segan lemparkan kritikan dan masukan kepada sang calon. Setidaknya dengan begitu mahasiswa telah berbuat yang lebih positif daripada tidak sama sekali. Ingat apatis terhadap lingkungan akan merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.

Perempuan dan Go Green

Salah satu keidentikan bulan April adalah peringatan perjuangan kaum perempuan yang notabene dipelopori oleh Raden Ajeng Kartini atau lebih dikenal R.A Kartini. Kartini adalah sosok pejuang kaum perempuan yang mencoba keluar dari kegelapan dan keterbelakangan jika dibandingkan dengan kaum lelaki pada masa itu. Ia terus berusaha meningkatkan status kaumnya, agar tak selalu direndahkan serta diabaikan oleh kaum lelaki. Itu dulu, masa-masa sebelum kemerdekaan dan perkembangan emansipasi wanita tidak sedahsyat saat ini.
Sekarang, perempuan hidup dalam ranah dan iklim yang lebih leluasa. Mereka, kaum perempuan, lebih diberikan wewenang dan tanggung jawab daripada masa Kartini. Bebas menentukan pandangan, sikap, pendapat, tindakan, dan lainnya. Kebebasan dan kekeluasaan ini tentu tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku; tata susila, adat-istiadat, sopan santun, serta hukum atau undang-undang setempat.
Hampir disetiap lini kehidupan, perempuan duduk di sana. Seperti olahraga, ekonomi, pertanian, militer, termasuk dalam kancah politik. Hal ini tak asing lagi. Apalagi perannya dalam keluarga. Sejurus dengan hal ini keberadaan peran perempuan yang lebih mensosial dan umum, sudah dapat dirasakan oleh masyarakat. Dan citra perjuangan mereka lebih bergema dan tak mungkin jika tak ditingkatkan.
Seiring dengan hal itu, antipemakaian zat-zat kimia dan kampanye hijaukan kembali bumi atau go green, peran perempuan kembali ditantang. Kenapa harus perempuan? Karena perempuan juga manusia. Itu jawaban mendasar. Jawaban lainnya, perempuan juga harus dituntut, selain kesadaran alami, bagaimana mencintai bumi. Selain itu, jiwa perempuan serta kepedulian terhadap lingkungan lebih peka dan besar jika dibandingkan dengan lainnya. Ini hasrat yang kodrati dari seorang perempuan.
Salah satu dari sekian banyak faktor yang menciptakan pemanasan bumi adalah peningkatan penggunaan zat-zat kimia yang berlebihan dan berbahaya bagi lingkungan setempat. Kalau dalam dunia perempuan, yang notabene lebih banyak memakai produk kecantikan dari lelaki -bukan berarti menyalahkan- setidaknya dengan kampanye go green menimbulkan sedikit pemahaman tentang produk kosmetik yang digunakan selama ini.
Menurut pakar-pakar kesehatan, produk-produk kosmetik yang digunakan selama ini banyak mengandung zat-zat kimia yang patogen terhadap kesehatan tubuh. Zat-zat ini bisa menimbulkan kanker, keusakan jaringan tubuh, dan efek negetif lainnya. Berbahaya tidak hanya untuk diri sendiri namun juga bagi orang lain serta lingkungan sekitar.
Apalagi produk kosmetik yang berseliweran di pasaran, kandungan zat kimianya tentu lebih besar. Hampir semuanya mengandung zat karsinogen atau zat pemicu kanker. Perlu diketahui, memang tidak semua produk kosmetik mengandung zat karsinogen, namun kita sebagai perempuan tentu harus lebih hati-hati dalam membeli dan menggunakannya.
Seiring dengan hal tersebut, memperingati Hari Kartini tahun ini, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan memulai menghijaukan bumi dengan hal-hal kecil yang bermanfaat. Mereka tidak membeli minuman botol atau kemasan di kampus. Tetapi mereka membawa minuman tersendiri dengan botol khusus guna mengurangi dan menghindari penumpukan sampah anorganik di sekitar kampus mereka. Di samping itu, mereka juga berusaha mengajak teman-teman lainnya dari fakultas yang berbeda melakukan hal yang sama. Kegiatan ini mereka tuturkan melalui Radio Republik Indonesia (RRI) nasional beberapa waktu lalu.
Menarik dan bermanfaat. Kita di Sumatra Barat atau khusunya kota Padang, juga tak susah melakukannya. Hal ini bisa dilakukan andai kita menyadari betapa pentingnya kehijauan dan kebersihan bumi. Namun pertanyaannya, sudahkah kita menyadari hal itu?
Menyadari betapa pentingnya bumi bagi kehidupan merupakan langkah awal dalam menjalankan go green di lingkungan sekitar kita. Pernahkah terbayangkan suatu hari nanti kita akan diusur dari bumi? Karena kita ceroboh, masa bodoh, dan mau menang sendiri. Dan kegiatan go green adalah salah satu bentuk kepedulian dan cinta kasih kita kepada bumi dan generasi selanjutnya.