Tuesday, 9 March 2010

Perempuan-perempuan di Tanah Transmigran

Suasana Desa Beringin Lestari


“Udahlah, giliranku yang main. Aku kan diset kedua”. Demikian kalimat yang keluar dari mulut Desmawati, setelah sekian set menunggu giliran menunjukkan kemampuan dalam bermain voli. Olahraga ini setiap sore, kalau tak hujan, selalu diadakan di lapangan pusat desa Beringin Lestari. Desa yang dibangun di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit milik perusahaan ternama. Beringin Lestari salah satu desa dari sekian banyak desa transmigrasi di kecamatan Tapung Hilir, kabupaten Kampar, Riau.
Sorak-sorai ibu-ibu pemain voli pun semakin riuh. Apalagi jika ada pemain yang siap-siap melakukan smash, meruntuhkan pertahanan lawan. Dan berhasil, kedudukan pun dengan cepat berubah. Macam-macam kalimat terlontar dari mulut mereka, ada yang kesal dan ada juga yang tertawa cekikikan. Sedangkan sang kapten langsung memasang trik, bagaimana agar pertahanan tidak kebobolan lagi.
Yang namanya main ibu-ibu, tentu lebih banyak berisiknya. Karena sembari bermain, mereka juga sedang menginang si bocah yang berkeliaran di sekitar lapangan. Sesekali si bocah diteriaki, agar tak main jauh-jauh.
Cerita Desmawati, ada ratusan ibu-ibu di desa tersebut. Mereka ibu rumah tangga dari berbagai daerah yang mengikuti suami bertugas. Bergabung dan berinteraksi dengan sesama mereka, kemudian menjadi akrab dan solid.
Sepanjang hari dengan rutinitas yang tidak jauh berbeda, ibu-ibu ini mengurus anak, suami, dan memasak, tentu jenuh. Dengan bermain voli disore hari, setidaknya kejenuhan ini sedikit berkurang. “Dari pada bengong di rumah, mendingan main voli,” ucap Rohimah menimpali, Selasa (2 Maret 2010) lalu.
Bermain voli adalah salah satu kegiatan sekaligus hiburan bagi ibu-ibu PKK ini. Selain itu, setiap Kamis atau Jumat sore mereka juga melakukan tahlilan di masjid atau di rumah-rumah warga.

Kabar Pilu dari RT 05



Langit tampak mendung. Sepertinya perkampungan ini baru saja diguyur hujan semalaman. Jalan-jalan tanah tak beraspal semakin lunak dipijak. Tak sedikit tanah-tanah itu singgah di terompahku dan langkah pun semakin berat.
Sepelemparan batu dari tempatku berdiri, tampak dua perempuan, duduk bertingkat, sepertinya sedang mencari kutu. Mereka juga sedang bercakap-cakap sesuatu. Terlihat dari komat-kamit mulut mereka yang tak henti. Sesekali dialog-dialog itu diselingi tawa, senyum, dan nada bicara yang meninggi.
Dia Sumi, dan anaknya Ida yang baru saja menikah, “Sekitar tiga bulan lalu,” jawab Sumi, Rabu (3 Maret 2010). Sumi, ibu rumah tangga yang kesehariannya berjualan di sekolah dasar desa Beringin Lestari, kecamatan Tapung Hilir, kabupaten Kampar, Riau. “Saya jual nasi goreng di sana, sebungkus Rp 500 perak,” cerita ibu tujuh anak ini.
Kulitnya sawo matang, hidung rendah, ukuran mata sedang, dan rahang yang sedikit menonjol ke depan. Sangat khas dengan ras Malanesia. Dan kalimat-kalimat yang terlontar dari bibir Sumi, mencirikan kalau ia wanita yang sangat Jawa, tentu dengan medhoknya. Ditemani sang suami, Kusnan, telah 16 tahun ia tinggal di desa tersebut.
Sumi, nasibnya, tidak jauh berbeda dengan Ros Hartati, tetangganya. Mereka sama-sama kena tipu oleh orang-orang yang mengajak mereka pindah dari SP 1 ke SP 3 ini. Dengan membayar uang Rp 2,6 juta, mereka diiming-imingi akan memperoleh satu tempat perumahan dan lahan sawit dua ha. Nyatanya mereka hanya memperoleh tempat untuk bernaung, lahan rumah berkisar 15m x 15m per kepala keluarga (KK). “Khaplingnya (dua ha lahan-red) ngak ‘ada (kaplingnya nggak ada),” ucap Ros dengan terbata-bata.
Hingga saat ini, mereka tak dapat berbuat banyak. Walau Kusnan, telah sepuluh tahun menjadi ketua Rukun Tetangga (RT) di desa tersebut. “Yah, enggak bisa ngapa-ngapain, kalau masalah lahan, saya nggak masuk hitungan deh,” katanya sambil menerawang ke perkebunan sawit di samping rumahnya.
Agar dapur selalu berasap, dua keluarga ini menyandarkan pendapatan dengan menjadi buruh sawit di perkebunan. Saban hari mereka harus pintar-pintar mencari pekerjaan kepada pemilik lahan. Untung-untung kalau ada yang mempercayai mereka untuk merawat lahan sawit tersebut. “Ada yang memanen, memupuk, menyemprot, dan lainnya.” Kata Kusnan. Asal kerja dan dapat duit.
Mereka yang tidak memiliki lahan atau kapling ini, biasanya akan lebih banyak dikucilkan warga setempat yang memiliki lahan. Pasalnya, tentu faktor ekonomi. Mereka bukanlah orang-orang yang terdaftar di Koperasi Unit Desa (KUD) setempat. “Khami ‘tak bhisa phinjam ‘duit di sana (kami tak bisa pinjam duit di sana),” ucap Ros lagi. Kalau ingin pinjam duit, tambah Kusnan, harus meminjam nama warga yang memiliki kapling. “Baru orang KUD bisa ngasih dan percaya akan dibayar kembali” ujarnya.
Selain itu, ibu-ibu ini juga amat jarang mengikuti kegiatan yang sering diadakan oleh ibu-ibu Pendidikan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat. “Bagaimana mau ngikut, setiap kegiatan mungut duit terus. Arisan, beli baju senam, dan lainnya. Mana kuat?” kata Sumi sambil meremas-remas tangannya. Sekali jualan, sambung Sumi, cuma dapat Rp 30 ribu, arisan Rp 20 ribu per bulan, bingung mau ambil duit dimana.
Sedangkan Ros, dengan keadaannya yang susah mengucapkan kata-kata, merasa tidak selevel dengan ibu-ibu yang memiliki kapling. “Akhu ngak mau ngikhut, ngak phunya khapling juga (aku nggak mau ngikut, nggak punya kapling juga),” ucapnya dengan linangan air mata. Saban hari ia hanya di rumah, mengurus anak dan suami.
Sumi dan Ros, terkadang juga merasa minder dengan keadaan mereka. Setiap awal bulan, tetangga yang memiliki kapling gajian sekian puluh juta. Sedangkan mereka hanya mengharap gaji buruh sang suami, yang tak pasti. Rasa inilah yang membuat meraka enggan berkumpul dengan lainnya yang memiliki kapling. Kusnan sendiri, ketua RT 05 dengan 87 KK yang semuanya tidak memiliki kapling, hanya digaji Rp 150 ribu per bulan. “Untuk makan aja Rp 500 ribu per bulan, banyak kurangnya dari lebih,” ucap Sumi sambil tertawa.
Dan jangan heran jika banyak anak-anak yang orang tuanya tidak memiliki kapling, sering secara diam-diam mengambil dan memungut biji-biji sawit di perkebunan. Mereka tak punya duit, tapi mereka harus makan. “Tapi hasilnya nggak banyak kok,” kata Kusnan ringan.
Walau begitu, mereka selalu berusaha memperjuangkan hak mereka kepada perusahaan dan pemerintah setempat. Belum lama ini, kata Kusnan, datang beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau dari Komisi I, mereka mengatakan akan mengurus tuntas masalah ini. Kami disuruh tenang saja. “Tapi saya tidak begitu yakin, di depan kami saja mereka mau ngurus, di belakang udah lupa lagi,” jawab Kusnan. “Chafek (capek) nunggunya,” timpal Ros dengan suara nyaring.

Sejenak di Kebun Sawit



Kami memulai perjalanan dengan memasuki perkebunan pohon sawit milik sebuah perusahaan ternama di Riau. Kawasannya jauh ke dalam. Sekitar tujuh kilometer dari pusat kota Kandis. Sepanjang mata memandang, yang ada hanyalah pepohonan penghasil minyak goreng ini. Nyaris tak ada perumahan.
Sepintas, pemandangan ini menakutkan. Apalagi ditambah dengan suhu udara yang mulai menurun, ketika kita telah memasuki wilayah perkebunan. Teduh di sekeliling dan sunyi. Sesekali kesunyian dipecahkan dengan deru kendaraan; mobil, dan motor, para buruh maupun lainnya yang, tidak selalu, lalu lalang di jalanan.
Setengah jam di atas mobil yang membawa kami ke tempat ini, perjalanannya pun terasa berbeda. Jalannya tidak beraspal dan tidak pula jalan berbatu. Namun jalan dengan pasir putih, yang mungkin hanya akan anda temui di tempat ini. Berkelok-kelok dan menanjak, naik turun dengan ketinggian yang mampu membuat mual.
Walau begitu, suasana yang cukup mencekam tadi, seketika mencair dengan pemandangan bangunan tingkat satu yang cukup menarik di tengah perkebunan sawit. Berwarna-warni dan tak lagi sepi. Teriakan kanak-kanak sayup-sayup singgah di pendengaran. Orang-orang dengan suara rendah dan kencang pun semakin jelas. “Ini dia SP3,” kata pak sopir sambil mengerem mobil, Selasa (2 Maret 2010). Sedikit terhuyung badanku ke depan.
Turun dan langsung disambut oleh pegawai pemerintahan setempat, desa Beringin Lestari. Menyilahkan kami duduk, menawarkan minuman air putih kemasan, dan berbincang-bincang tentang desa transmigrasi ini. Pak Kades, Tugiman, dan jajarannya panjang lebar menjelaskan dan merunutkan hal-hal yang berkaitan dengan penduduk, sarana dan prasarana, mata pencaharian, dan keterkaitannya dengan perusahaan. Cerita ini memakan waktu sekitar dua jam. Dan aku mulai bosan.
Aku lebih tertarik dengan teriakan dan sorak-sorai yang cukup heroik dari sekumpulan ibu-ibu, sekitar seratus meter dari tempatku berdiri. Dan tak segan langkah ini membawaku ke sana.