Thursday, 18 February 2010

cerpen Desember dan Januari di Padang Ekpress

Surga, Kadang di Telapak Kaki Ayah
Oleh Adek Risma Dedees
Hidup dalam sebuah keluarga besar tidaklah begitu mengenakkan. Di kamar tidur, semua kasur telah ditempati. Makan pagi, meja makan tak berluang lagi. Jamban di belakang rumah juga antri, untungnya tidak pakai nomor antri. Kamar, meja makan, dan jamban tak pernah sepi. Ada saja yang tidur, duduk, dan jongkok di sana.
Kami berempat, semua kaum Adam, aku yang paling telat melihat dunia ini, dipayungi ayah dan ibu, adalah salah satu bagian dari keluarga besar (KB) itu. Ayah dan ibu sama-sama, bisa dikatakan sibuk. Sibuk mencari peruntungan, tentu saja untuk perut kami. Waktu itu aku masih sering menangis, di rumah saja dengan sepupu dari pagi hingga senja.
Hingga aku menginjak umur sepuluh tahun, kami masih di rumah itu. Keluarganya KB, tapi rumahnya tidak besar. Semenjak aku mengenal kehidupan di sekelilingku, aku baru tahu bahwa sudah turun temurun klan kami menganut kehidupan seperti ini. Tinggal bersama-sama dengan keluarga ayah.
Ayah bersaudara lima orang. Jadi ada lima bilik dalam rumah ini, nenek dan kakek tak pakai bilik, mereka biasanya tidur di tengah-tengah ruangan rumah. Setiap anak nenek, termasuk ayah, dapat satu bilik. Cerita ayah di suatu sore gerimis, semenjak ayah bisa berburu babi, sejak itu ia dapat bilik.
Dalam bilik itu, ayah bisa berbuat sesuka hati. Tidur, membuat patung, menjahit pakaian yang sobek waktu berburu, ataupun memasukkan ibu secara diam-diam di senja hari. Selagi tidak diketahui kakek, semuanya baik-baik saja. Kalau ketahuan, ayah terancam, bisa tidak diakui dalam klan kami. Ayah, pria pemberani, di mataku.
Hingga aku menginjak dewasa, ayah masih sering bercerita pengalaman mudanya denganku. Berbeda dengan ketiga abang-abangku. Setahuku ayah jarang bercengkerama dengan mereka. Apalagi tentang masa mudanya. Pria ini semakin berkarisma, walau kulitnya telah mengendor.
Tiga hari lalu, ibuku meninggal. Ia sakit selama dua musim. Ayah telah bersusah payah mencarikan nenek penyembuh sakit, dari kampung kami hingga kampung sebelah. Tapi tak bisa menyembuhkan ibu. Hingga malam itu, ibu meninggalkan kami, tapi tidak selamanya.
Cerita ayah di suatu sore gerimis, orang yang telah mati, tidak salamanya meninggalkan rumah dan orang-orang terdekatnya. Biasanya arwah si mayat, akan selalu tinggal di rumah itu. Tidur, makan, dan menemani keluarganya di rumah tersebut.
“Termasuk berburu ke rimba Ayah?” tanyaku.
“Jika yang mati laki-laki iya, jika wanita, tak mungkin,” jawab ayah.
Sejak ibu tak menemani pria hitam di depanku ini, sejak itu ayah tak pernah berburu ke rimba. Ia selalu di rumah, atau berada tidak jauh dari rumah klan kami.
“Ayah ingin selalu berjumpa ibumu,” katanya pelan.
Aku semakin iba dengan ayah.
Suatu siang yang terik, waktu itu aku sedang berburu dengan abang-abangku, adik sepupuku, berlari sambil teriak-teriak ke arah kami. Ia terengah-engah. Aku coba menenangkannya. Lalu ia bercerita, bahwa ayahku telah mengecat separuh badannya. Semua itu ia kerjakan diam-diam di kamarku. Sekarang nenek berurai air mata, dan meratap iba di halaman rumah.
Kami terperanjat mendengar cerita sepupuku. Seorang laki-laki jika telah mengecat separuh badannya setelah ditinggal mati istri, suatu pertanda ia akan menyusul sang istri, dan biasanya mati dalam keadaan mengerikan. Bisa saja, diterkam harimau, digigit raja ular di hutan, atau dibawa oleh siluman sungai hingga tak berbekas. Ini tidak hanya cerita, namun nyata.
Segera abangku mengomando kami untuk pulang dan melihat kondisi ayah. Benar saja. Nenek masih berguling-guling di halaman. Saudara-saudaraku yang lain mencoba menenangkannya. Namun aku tak menemukan ayah. Di mana ia. Cerita saudaraku, ayah tak mau dicegah masuk rimba ke arah utara.
Rimba arah utara, adalah rimba yang tak pernah kami masuki berburu. Ayah melarang kami memasuki rimba itu.
“Di sana tidak ada babi-babi hutan.” Alasan ayah.
Belakangan baru aku tahu, rimba arah utara adalah rimba segala ketakutan. Rimba segala marabahaya. Rimba dimana hidup raja ular, harimau nan paling ganas, segala jenis siluman, dan arwah orang-orang terdahulu yang telah berbuat jahat sehingga tidak diterima oleh klannya.
Abang-abangku akan memasuki rimba tersebut. Namun semua saudara melarangnya. Kakek tak bisa lagi menahan emosi. Ia memarahi abang-abangku yang masih bersikukuh akan memasuki rimba arah utara. Pilihannya, jika memasuki rimba akan dikeluarkan dari klan atau patuh pada perkataan kakek.
Pilihan yang sangat tidak adil bagi kami. Tidak diakui dalam klan sama saja dengan kehidupan babi-babi yang kami buru. Tidak memiliki sanak saudara, keluar dari klan adalah orang-orang terbuang dan itu sangat hina.
Setelah ibu menikah dan mengikuti ayah, keluarga ibu tak tahu menahu lagi dengan ibu dan anak-anaknya. Karena kaum hawa, dalam beberapa klan, termasuk klan kami, bukanlah kaum terhormat dan tak perlu dikasihani.
Klan ibu menganggap wanita adalah jelmaan makluk buruk rupa yang ditemukan di hutan. Makluk ini pernah membantu memberi minum kepada babi-babi hutan yang akan diburu. Seorang penduduk melihatnya dan menangkap beramai-ramai makluk-makluk tersebut. Mereka diarak menuju kampung dan diberi makan. Diajari kehidupan kampung dan klan di sana. Lama-kelamaan makluk-makluk tersebut berubah menjadi wanita cantik nan mempesona.
Namun tidak semua dari makluk tersebut elok sikap dan cantik parasnya. Karena penduduk telah membantu mereka, bayarannya mahal sekali, mereka harus mau diperlakukan sesuai kehendak penduduk. Mengikuti semua keinginan penduduk, hingga sampai saat ini. Atau dicampakkan kembali ke dalam hutan, termasuk rimba arah utara.
Aku dan abang-abangku tak dapat berbuat banyak. Kami pasrah pada cerita saudara. Nenek masih meratap, namun sudah tak berguling-guling lagi. Ia dibersihkan oleh sepupu perempuanku. Kakek tak berbicara apa-apa. Hanya tegak mematung di pintu menghadap halaman, sejauh mata memandang, hanya terlihat puncak-puncak bukit rimba arah utara.
Kumasuki bilikku. Semuanya berantakan. Aku tak marah, justru aku menyesal. Kenapa aku tak berhati-hati dengan hobiku. Kakek pernah menegur, selama ini belum ada klan kami yang suka mamahat dan membuat patung. Belum pernah sekali pun. Ayahku juga tak pernah memahat apalagi membuat patung. Entah dari mana aku dapat bakat seperti itu.
Awalnya abang-abangku tak pernah menegur hobiku ini. Namun setelah ayah pergi dengan separuh tubuh dicat, abang-abangku tak seelok dulu. Mereka jarang sekali bercakap-cakap denganku. Mereka tak menyalahkanku dengan perkataan, namun dengan tindak tanduknya.
Aku semakin dikucilkan. Pagi itu abang-abangku akan berburu, dan aku tidak diajak. Berbeda dengan sebelumnya. Menjelang matahari terbenam mereka kembali ke rumah dengan memikul dua ekor babi betina, hasil buruan. Kakek, nenek, dan saudara lainnya tersenyum girang pada mereka. Malam itu mereka berpesta membakar babi-babi tersebut di perapian. Bernyanyi dan menari, tentunya abang-abangku ditemani tunangan-tunangan mereka, simbol terima kasih pada alam dan raja hutan. Upacara yang hampir setiap musim kami lakukan.
Aku tak keluar dari dalam bilik. Suasana semakin riuh dan kadang-kadang gaduh oleh sepupu-sepupuku yang berebut daging babi bakar di halaman. Sayup-sayup terdengar kakek mengucapkan doa-doa dan mantra, sebagai tetua yang memimpin upacara dari klan kami. Dan tak seorang pun yang menawariku mengikuti upacara.
Aku terbaring di tengah sorak sorai dan isak kesedihan pilu. Sekelabat bayangan menghampiriku, antara sadar dan tidak. Mirip ayah, batinku. Benar saja, bayangan itu semakin jelas. Tersenyum dan duduk tepat di samping kepalaku. Ayah bercerita telah bersua ibu. Mereka saling merindukan satu sama lainnya. Ia berterima kasih karena aku telah membantu mempertemukannya dengan ibu.
“Andai engkau tak suka memahat dan membuat patung, entah kapan lagi ayah akan berjumpa ibu.” Kata ayah.
Dalam cerita ayah, ibu merindukan ukiran-ukiranku. Dan ingin sekali melihat pahatan-pahatanku.
“Ia akan mengajarkanmu, bagaimana cara memilih kayu yang kuat dan tahan lama, namun tak keras sewaktu diukir.” Bisik ayah.
Segera kuambil patung-patung hasil ukiranku. Aku ingin memperlihatkannya pada ibu. Tak lupa kubawa cat, untuk mewarnai ukiranku kelak. Di luar sana riuh rendah sorak sorai abang-abangku semakin jelas. Ayah mengapit lenganku, menuntunku ke luar rumah ke arah puncak-puncak bukit utara. Sejak malam itu aku tak berklan lagi, karena kakek tak menegurku.


Sagarmadji, Desember 2009

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^