Saturday, 27 February 2010

Panitia kompak dan A. Fuadi

Tiga Jam Bersama A. Fuadi



Hari ini, kami sangat bahagia dan bangga. Bagaimana tidak, dengan bersusah payah tentunya, akhirnya kami dapat mendatangkan pengarang novel best seller Negeri 5 Menara ke kampus kami, Universitas Negeri Padang.
Hari ini, Rabu, 24 Februari 2010, pengarang asal urang awak tersebut akhirnya berkenan juga singgah dan berbincang-bincang dengan kami, mahasiswa UNP terkhusus mahasiswa yang suka dan telah membaca novelnya. Tulisan ini saya tulis sebelum acara berlangsung. Dan sangat jauh dari waktu yang telah ditentukan. Subuhnya, dengan riang gembira.
Mendatangkan dan mendapatkan izin untuk membedah dan langsung bersua dengan A. Fuadi, bukanlah perkara gampang. Banyak lobby dan banyak pintu yang harus dimasuki sebelumnya. Tidak hanya itu, kita pun dari panitia harus banyak belajar, bagaimana sepak terjang kawan-kawan yang lain yang telah mencoba mendatangkan penulis ini dengan cara yang berbeda.
Alhmdulillah, kami mampu dan semoga acara nantinya sukses dan tentunya tidak mengecewakan kami, dan A. Fuadi sendiri. Ini doa sebelum menyelenggarakan acara. Dua jam lagi acara akan dimulai, dan tentu tidak begitu lama penulis asal ranah Minang ini pun akan datang ke kampus kita, UNP.
Acara segera dimulai. Panitia telah menyediakan segalanya, walau ada beberapa yang belum maksimal, seperti in focus yang gak jadi-jadi disetting. Kepanikan dengan alat ini juga mendera panitia secara keseluruhan. Memang, tidak ada lagi cadangan infocus yang bisa dan akan digunakan. Tapi setelah diutak-atik dengan sangat tak henti-hentinya, serta selalu memeriksa alat tersebut. Alhasil, infocus ini pun siap digunakan. Persiapan acara hampir siap 100 persen. Dan langsung bisa dimulai, bedah novelnya A. Fuadi.
Werry, sang master of ceremony segera ambil tempat. Mahasiswa FMIPA UNP ini segera meramaikan acara tersebut dengan sangat menarik. Menampilkan beragam atraksi, tanya jawab, door price, dan lainnya. Werry pun membagi-bagikan hadiah sebelum kata sambutan dari berbagai pihak dan sekaligus membuka acara ini.
Sambutan ini dimulai langsung oleh ketua panitia. Ageng, mahasiswa FT UNP, yang dalam minggu-minggu tersebut sedang disibukkan dengan praktik lapangan di sekolah-sekolah sebagai proses perkuliahan semester ini. Walau begitu, tampaknya dan nyata, ia pun sedikit mengorbankan perkuliahan demi mengangkatkan acara ini. Dan tak sia-sia, sekitar 200 peserta memadati RSG FT UNP tersebut.
Banyak yang diceritakan sang ketua panitia ini di depan A. Fuadi dan di depan Amaknya, para undangan: Sriwijaya Air, Star Radio, toko buku Gramedia, dan lainnya. Baik dari perjuangan akan mengangkatkan acara, bagaimana melobby sang manajer, Erwin, yang kesan pertama sedikit tak menarik bagi kami, panitia, hingga acara ini dapat berlangsung.
Juga tak lupa sang ketua dengan slogan novel Negeri 5 Menara, Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dengan segala upaya-yang bersungguh-sungguh-akhirnya kami pun dapat menyelenggarakan acara tersebut. Ungkapan terima kasih yang sebanyak-banyaknya pun tak lupa disampaikan kepada sponsor yang telah mendukung acara tersebut. Ada dari SKK Ganto, distro Tangkelek, Sigma FM, UNP handicraft Dongaboy, dan lainnya.
Sedangkan-ini bagian terlucu dari kisah sukses ini- yang akan membuka langsung secara resmi acara ini ada dari madam Yenni Hayati, S.S., M.Hum. Awalnya madam ini sebagai undangan dalam acara tersebut, dan kabarnya tidak sempat datang karena sedang ada lokal kuliah dengan mahasiswa sastra indonesia di FBSS UNP. Saya pun mengiba-iba dan memohon agar sang madam mau datang, dan tak disangka sebagai pembuka acara ini.
Awalnya tentu beliau kaget bukan main, dan menganggap saya sedikit gila, mungkin. Madam hanya sebagai undangan, bukan siapa-siapanya Komunitas Pencinta Buku, dan tidak tahu menahu dengan acara tersebut. Karena sedang terdesak, dan mungkin juga iba dengan saya, akhirnya madam bersedia dengan lirikan mata yang khas yang selalu saya lihat ketika bersua dengannya.
Benar adanya. Beliau menyampaikan kata-kata dengan kalimat yang disusun serancak mungkin untuk membuka acara tersebut. Madam sampaikan bagaimana dahsyatnya novel A. Fuadi bagi mahasiswanya serta tentu juga dari diri madam sendiri. Kata-kata yang disusun pun juga buat Amak tercinta A. Fuadi yang langsung duduk bersebelahan dengan madam. Dan acara pun dimulai dengan alotnya, hingga over time.
Bedah buku dimulai dengan begitu khidmat. Hampir setiap undangan menyaksikan dan mengikuti acara hingga selesai. Tak terlewati sedetik pun. A. Fuadi segera menjelaskan bagaimana ia dan teman-temannya, sahibul menara mengiku sekolah di Pondok Madani, Jawa Timur, sekitar belasan tahun lalu. Ia menceritakan sepak terjang di luar Sumbar. Bagaimana hidup dan sekolah di luar Sumbar dan rantau panjang yang ia lalui di negeri orang. Terkait hal ini dengan 5 menara. Ada di AS, Arab Saudi, Mesir, London, dan Jakarta sendiri.
Ia tentunya menceritakan bagaimana lahir dan proses berevolusi dirinya dengan dunia tulis menulis. Katanya “ Dengan menulis, kamu akan memperpanjang umurmu.” Sedangkan hal ini musykil dilakukan tanpa pernah dibiasakan dengan memulai kebiasaan sedari kecil. “Yah, salah satunya buku diary,” kata Fuadi.
Banyak alasan yang Fuadi, jelaskan hingga bagaimana kita tertarik untuk menulis, apakah novel maupun tulisan lainnya-ini bagian yang sangat saya ingat, padahal saya sangat sibuk waktu itu, tapi saya harus juga dapat bagian virus ilmu dari sang penulis-. Adalah bagini kata Fuadi, jika kita menulis setiap hari ½ hingga satu halaman hanya ½ atau ¼ jam setiap hari, dan coba kalikan dalam satu tahun. Sekitar 365 halaman sudah jadi dan tinggal mengedit sedikit, “Siap dijadikan buku kan?” kata Fuadi menyemangati.
Tidak sulit menulis dan menerbitkan sebuah buku, kata Fuadi lagi. Asal kita mau, punya niat dan tentunya Man Jadda Wajada. Siapa saja mampu untuk itu. Tak ada hambatan, hambatan hanya dari diri kita sendiri. Saya, kata Fuadi, juga didorong oleh orang disekeliling saya yang sangat saya cintai. Amak, selalu menyimpan dan mengarsipkan surat-surat saya sewaktu mondok di Madani dulu. Hal ini menjadi ide dan penambah semangat saya menulis. Sebuah referensi yang tak bisa diabaikan.
Setelah menyampaikan materinya, banyak pertanyaan yang diajukan ketika Abi, sebagai pemandu acara tersebut memberikan kesempatan bertanya, memberi saran, dan lainnya kepada peserta siang itu. Kuota peserta yang berminat bertanya jauh labih banyak dari yang tidak bertanya waktu itu. Fantastik.
Saya yang kebagian membawa mic kesana kemari untuk penanya juga kewalahan ‘melayani’nya. Sangat menakjubkan, dari segi peminat. Belum lagi yang ditanyakan adalah sesuatu yang berhubungan dengan dunia tulis menulis, motivasi bagi anak didik dan keluarga penanya. Beragam sekali. Karena memang peserta tidak hanya dari kalangan mahasiswa tetapi juga ada siswa, dan ada guru.
Tidak lama, setelah A. Fuadi membagikan keempat novelnya kepada penanya terbaik dari sesi tersebut, segera acara berpindah ke tangan Werry, sang maestro radio kampus ini. Kembali dengan kelincahan, dan dengan gaya, sudah kita ketahui bersama bagaimana gaya penyiar berkomunikasi dengan orang lain, Werry pun juga demikian. Dengan gaya dan cara bicaranya, menyebabkan acara tersebut sangat tidak membosankan. Apalagi banyak door price dari sponsor yang diberikan kepada peserta. Ada baju dari distro Tangkelek, pin, novel karya A. Fuadi, jam dinding dari Sriwijaya Air, dan lainnya.
Tak terasa, kumandang azan zuhur telah menyapa kampus UNP. Segera kami mengakhiri acara tersebut dengan tanda tangan novel dan foto bersama. Terima kasih kawan, A. Fuadi dan peserta semuanya.
Sebuah kerja keras yang berbuah manis.

Thursday, 18 February 2010

Century dan Dinasti Yudhoyono


Judul : Membongkar Gurita Cikeas, Di Balik Skandal Bank Century
Pengarang : George Junus Aditjondro
Tebal : 183 halaman
Cetakan : Pertama, 2010
Harga : Rp 50.000
Resensiator : Adek Risma Dedees



Di awali dengan dua paragraf penggalan pidato presiden SBY tentang dana talangan Bank Century yang kemudian dikaitkan dengan desas-desus, rumor, bahkan fitnah yang mengatakan sebagian dana tersebut mengalir ke brankas kampanye Partai Demokrat dan Capres SBY. Pidato itu adalah tanggapan presiden terhadap rekomendasi Tim 8 yang ia bentuk sendiri, untuk mengatasi krisis kepercayaan dari masyarakat setelah meruyaknya kasus pencekalan dan penyalahgunaan wewenang oleh dua orang pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bibit Samad Ryanto dan Chandra M. Hamzah.
Kemudian Aditjondro, sang penulis, menjabarkan bagaimana konflik Cicak vs Buaya menyedot perhatian publik, dan serta merta melupakan bahkan meninggalkan kasus Bank Century yang dananya dilarikan oleh Robert Tantular, entah kemana. Bank ini kolaps, dan dengan berbagai pertimbangan dari Bank Indonesia serta pemerintah, maka disuntikkanlah dana penyertaan modal sementara sebesar Rp 6,7 triliun dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Ini tampuk kecurigaan dan kekurangpercayaan yang ditujukan pada pemerintah, terkhusus SBY, pengalihan isu agar borok-borok sang presiden dan konco-konconya tak tertelanjangi. Apa benar sebagian besar kucuran dana Bank Century diserempetkan untuk mendukung kampanye SBY-Boediono 2009 lalu?
Selanjutnya mengalirlah cerita sang penulis yang didukung dengan data-data penguat tulisan, seperti buku, situs internet, surat kabar cetak dan online. Aditjondro, sosok yang menjelma dari seorang mantan jurnalis Tempo, aktivis, dan akademisi ini, menuliskan dengan rinci bagaimana keluarga Cikeas memperoleh dana yang tidak sedikit untuk menyukseskan pemilu baik 2004 maupun 2009 lalu. Tidak hanya itu pihak-pihak dan yayasan yang berafiliasi (bertalian) dengan keluarga Cikeas juga ia jabarkan lengkap dangan pengurusnya. Termasuk kisah ‘Ibas’ alias Edhie Baskoro Yudhoyono, sang bungsu dengan bisnis kue keringnya di kawasan industri Jababeka 2, Cikarang, Bekasi, dan Jawa Barat.
Sejumlah nama dan instansi besar juga disebut-sebut dalam buku yang berisi pembahasan 68 halaman ini, selebihnya lampiran. Seperti, pemanfaatan separuh dari dana PSO (Public Service Obligation) LKBN Antara sebesar Rp 40,6 miliyar untuk Bravo Media Center –salah satu tim kampanye SBY-Boediono-, bantuan Group Sampoerna untuk Harian Jurnal Nasional (Harian yang menjadi corong politik SBY), Siti Hartati Murdaya –deposan kakap Bank Centuy, pemimpin kelompok Central Cipta Mudaya- salah satu penyokong dana kampanye Partai Demokrat, serta Artalyta Suryani -orang dekat Syamsul Nursalim, bos Gajah Tunggal yang terlibat skandal BLBI dan merugikan negara sejumlah Rp 4,2 triliyun, sekaligus wanita penyogok jaksa Urip Tri Gunawam- justru dekat dengan Ani Yudhoyono.
Belum lagi keikutsertaan menteri-menteri dalam kabinet Indonesia Bersatu pada beberapa yayasan yang dibina oleh SBY dan Ibu negara. Seperti Jero Wacik (Menteri Kebudayaan dan Pariwisata), Purnomo Yusgiantoro, Hatta Rajasa, Sudi Silalahi, termasuk di sini anggota DPR-RI, seperti Adjie Massaid, Nico Siahaan, dan Angelina Sondakh pada Yayasan Puri Cikeas.
Tak luput, dalam buku bersampul gurita dengan penutup kepala khas kesultanan Jawa karya ilustrator Asnar Zacky ini, melibatkan sang menantu, Annisa Pohan dan si kecil Almira Tunggadewi Yudhoyono akrabnya Aira, juga terlibat dalam bisnis keluarga Cikeas dengan apiknya. Menantu dan cucu ini menjadi Brand Ambassadornya Allure Batik dan Allure Kids. Allure Batik adalah salah satu rumah mode nusantara yang mendapat kepercayaan untuk membuatkan busana keluarga SBY. Butik kepunyaan Suherman Mihardja dan Lisa Mihardja ini baru berumur empat tahun, namun telah membuka butik dan gerai di kota besar lainnya dalam negeri bahkan ke luar negeri. Kesuksesan ini tentu tak lain dan tak bukan juga dikarenakan pengaruh sang menantu dan tak menutup kemungkinan juga presiden bersama istri.
Sedemikian banyaknya pihak-pihak yang terkait dalam yayasan, bisnis perusahaan, dan instansi swasta maupun negeri berkolaborasi dengan SBY. Dengan gamblang pria 64 tahun asal Pekalongan ini menulis mekanisme kerja beberapa yayasan yang kelaknya akan membantu menyumbangkan sebagian keuntungannya untuk biaya kampanye partai biru ini. Tentu saja yayasan-yayasan ini diketuai dan dibina oleh orang-orang dekat SBY sekaligus pejabat dan pengusaha baik yang baru maupun sudah lama, pengusaha zaman Suharto.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkenal dengan slogan ‘Katakan Tidak Untuk Korupsi’, inilah saatnya SBY bisa atau tidak membuktikan janjinya akan memerangi korupsi di garda depan di nusantara ini. Memberantas KKN tidak pandang bulu, bertindak fair, dan tegas termasuk jika yang melakukan korupsi adalah orang-orang terdekatnya. Tantangan berat bagi kepala negara dan kabinet Indonesia Bersatu Jilid II dalam program 100 harinya. Termasuk dengan lahirnya buku kontroversi Aditjondro ini.
Banyak kalangan yang menyayangkan beredarnya buku menohok pemerintah ini hanya dengan data sekunder dan bukan data dari sebuah penelitian valid atau wawancara langsung. Namun data diambil dari 23 judul buku, situs internet, surat kabar cetak dan online. Sebelumnya penulis yang aktif meneliti dan menulis masalah-masalah demokrasi, Timor Leste, korupsi, dan gerakan sosial lainnya, juga pernah melahirkan buku yang tidak jauh berbeda.
Tahun 2006 lalu di Yogyakarta buku ‘Korupsi Kepresidenan: Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa’ juga telah ia terbitkan. Serta beberapa buku yang senada masih dalam ranah pemerintah dan KKNnya. Penulis tidak menyarankan pembaca membaca buku ini, namun jika ingin tahu lebih dalam bagaimana SBY membangun dinasti masiv, kokoh, ‘cerdas’ yang dibalut kesosialan tinggi melalui yayasan-yayasannya, buku ini bisa diandalkan. Setelah membaca buku ini, kita bisa geleng-geleng kepala, menutup mulut, atau memutuskan takkan membaca ulang.

Sang Pelipat 'Ibadah'

Adek Risma Dedees

Matahari telah condong ke arah barat dan senja segera melingkup tempat umat berserah diri kepada Sang Pencipta itu. Hampir setiap waktu rumah ibadah ini dipenuhi jamaah yang akan menunaikan ibadah salat. Ya, tempatnya salah satu masjid ternama di pusat kota Padang.
Seorang wanita paruh baya tampak sibuk dengan kain lusuh, yang menumpuk di atas meja di depannya. Kadang ia duduk di kursi dan kadang ia berdiri merapikan dan melipat ulang kain-kain tersebut. Ia harus cermat memilih, memilah, dan menentukan kain mana yang baik digunakan para jamaah. Maklum kain tersebut tak lain mukena yang digunakan jamaah wanita untuk menunaikan salat lima waktu.
Senyum tak mengambang di wajahnya, karena memang ia tidak sedang bertegur sapa apalagi bercakap-cakap dengan seseorang. Namun ketika kudekati dan memberi salam, wajahnya cair, kata-kata yang keluar dari bibirnya pun halus dan bersih. “Sibuk-sibuk sedikit,” katanya sambil tersenyum, Selasa (22/12) lalu.
Ia akrab dipanggil Ema. Seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari hanya di rumah mengasuh anak dan mengurusi keluarga. Itu dulu, sekitar lima tahun lampau, sebelum ia bekerja sebagai cleaning service di masjid ini. Sekarang, ia adalah orang yang memberesi dan membersihkan mukena-mukena yang akan digunakan jamaah ketika salat.
Ema berkisah, sebelum bekerja sebagai pelipat mukena-mukena ini, dulunya ia bekerja membersihkan kamar wudu dan wc-wc di sana. Waktu itu pun ia tidak digaji, hanya mengharap imbalan dari amal dan pemberian pengujung semata. Namun berbeda dengan pekerjaannya sekarang, ia telah memperoleh upah kerja sekitar satu juta rupiah tiap bulan dari pihak masjid.
Setiap hari wanita dengan tiga anak ini, menyisihkan mukena-mukena yang tidak baik lagi dipakai. Ema pun harus mencuci, memberikan pengharum pakaian, menjemurnya, dan siap digunakan kembali oleh jamaah. “Sekitar 30-40 helai mukena yang dicuci setiap hari dari 150 mukena yang ada,” ceritanya.
Mukena yang akan digunakan, tambah Ema, harus bersih, bebas dari kotoran dan bau tak sedap. Kadang-kadang bekas lipstik ibu-ibu yang menggunakan mukena menempel di mukena. Air wudu yang bercampur dengan keringat jamaah sewaktu menggunakan mukena juga menimbulkan bau tak sedap. “Semua itu harus dicuci, masa mau salat dalam keadaan tidak bersih,” katanya.
Selain mukena, wanita 40 tahun ini juga harus membersihkan sajadah-sajadah yang membentang di tempat salat itu. Jumlahnya sekitar 20 buah dengan panjang 6 meter per buah. Ema menjemurnya, memukul-mukul hingga debu-debu sajadah berkurang, serta memilih dan membuang rambut-rambut yang menempel di sajadah helai perhelai hingga bersih.
Wanita berjilbab yang tinggal di kawasan Tunggul Hitam ini, telah bekerja di masjid tersebut selama 4,5 tahun. Berawal dari ajakan seorang tetangga, sebagai tukang parkir di masjid tersebut, Ema pun tertarik dan memberanikan diri mencoba menjadi karyawan di sana. Dan sudah dua tahun ia menggeluti pekerjaan sebagai pelipat mukena.
Gempa dahsyat yang melanda kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman, akhir September lalu, juga meninggalkan duka pilu bagi Ema. Selain ia harus tinggal di tenda pascagempa, ia juga harus kehilangan teman kerjanya. Bukan karena menjadi korban bencana, namun tak berminat lagi bekerja sebagai pelipat mukena, dengan beragam alasan. Dan tinggallah Ema dengan mukena-mukenanya.
Ema salah satu korban dari sekian puluh ribu korban yang rumahnya rusak berat hingga tak layak huni lagi. Sampai sekarang ia belum mendapat bantuan dari pemerintah. “Beruntung saya dan suami bekerja, kebutuhan rumah tangga dapat tertutupi,” jelas Ema. Dengan mengumpulkan upah yang didapat sepasang suami istri ini, kebutuhan keluarga serta biaya sekolah ketiga putra putri dapat ditutupi. “Cukup gak cukup harus dicukupkan,” ucapnya sambil melipat mukena yang terakhir.

Dalam Renungan Kita Berbagi

Pentas itu dipenuhi onggokan-onggokan benda yang beragam ukuran dan bentuk. Ada bulat, persegi, panjang, dan beberapa kardus-kardus bekas meramaikan panggung itu. Kotak yang menyerupai televisi, bertuliskan pascagempa, beberapa batuan beton, sisa-sisa reruntuhan, serta sebaskom air kekuningan bercampur tanah, juga menghiasai Laga-laga Taman Budaya, Padang, Sumatra Barat malam itu.
Tiba-tiba tiga orang memasuki panggung, bertelanjang dada, dan menggiring sesuatu yang bergerak-gerak di dalam karung biru muda yang terikat, tampaknya kuat sekali. Dua lelaki lainnya langsung meninggalkan panggung. Sedangkan yang satu tinggal dan mamatut-matut benda, yang entah apa isinya, itu dengan sangat tenang. Tidak lama karung itu ia tinggalkan dan menuju kotak menyerupai benda yang bisa memuat gambar apapun bergerak secara sempurna. Duduk rapi di dalamnya.
Ayunan musik mulai meramaikan pendengaran penonton. Mungkin, banyak di antara penonton, tidak mengenal jenis musik tersebut sebelum diperdengarkan di panggung itu. Kata pembawa acara, pemain musik berasal dari komunitas seni Belanak di Tunggul Hitam. Sekitar lima belas pemain, dengan kusyuk, membanggakan keahlian mereka di depan penonton malam Kamis (28/10) itu. Sama saja, pemain musik ini juga tidak menutup dada mereka dan seluruh tubuhnya dipenuhi warna tanah hingga wajah aslinya tak dikenal lagi.
Tampilan ini merupakan, performance Art pembukaan ‘Malam Renungan Gempa Sumatra Barat, Barek Samo Dipikua’. Sebuah acara yang diangkat secara spontanitas oleh beberapa budayawan, seniman, mahasiswa, serta relawan yang biasa nongkrong di pusat kegiatan kesenian Sumbar tersebut. Menurut Kepala Taman Budaya Sumbar, Asnan Rasyid, acara ini menghimbau agar masyarakat minang tidak begitu larut dalam kesedihan akibat bencana melanda.
Ketua Dewan Kesenian Sumbar, Dr. Harris Effendi Thahar, pun membenarkan tujuan acara yang bertepatan dengan lahirnya Sumpah Pemuda itu. Merubah orientasi pikiran masyarakat pascagempa, merekonstruksi mental dan spiritual masyarakat yang dulunya giat bekerja, namun setelah gempa hanya mengharap bantuan dari pemerintah dan donator. Padahal, minangkabau terkenal dengan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Ktabullah (ABS SBK). Sudah seharusnya meninggalkan hal-hal yang berbau ketakutan dan traumatik akibat gempa, hingga manajemen kehidupan kurang terkontrol. Dengan renungan dan doa malam ini, setidaknya dapat menenangkan hati yang risau dan kembali kepada kehidupan normal yang dulu dengan tidak melupakan, apa-apa yang harus diusahakan untuk diperbaiki, rusak akibat gempa akhir bulan lalu.
Barek Samo Dipikua, klausa yang temaktum dalam tema acara adalah suatu musibah yang diharapkan dapat ditanggung bersama-sama, masyarakat minang. “Karena bencana ini bukanlah bencana ringan yang mungkin bisa dijinjing bersama-sama,” kata Harris.
Beragam acara yang dilangsungkan malam itu. Tentunya setiap acara terbungkus dalam kotak yang berlabel seni. Mulai dari penampilan komunitas seni Belanak, pembacaan puisi dari sastrawan dan budayawan, tidak hanya dari Sumbar, namun juga dari ibu kota Jakarta, dan daerah lain, komunitas Rumah Hitam dari Batam, misalnya. Komunitas ini sengaja menggalang dana yang dikhususkan untuk membantu sastrawan dan budayawan Sumbar yang tercatat sebagai korban. Apakah itu saudaranya meninggal, rumah rusak dan terbakar, serta lainnya.
Selain penampilan seni, acara ini juga diramaikan dengan diskusi bersama. Menghadirkan salah satu dosen tersohor di Universitas Negeri Padang (UNP), Prof. Mestika Zed. Membahas pengaruh dan bagaimana mencarikan solusi yang tepat dan efektif bagi masyarakat yang masih dihantui ketakutan dan traumatik akibat bencana gempa. Sayangnya, acara ini disetting terlalu larut, sekitar pukul sepuluh malam, barulah diskusi bersama dimulai. Padahal, pembukaan acara yang berlangsung sekitar pukul 20.00 itu tidak hanya dihadiri budayawan, wartawan, dan mahasiswa, namun juga pelajar. Berat hati, tepat pukul 21.00 bangunan yang masih bertahan dari guncangan gempa 7,9 skala richter itu berangsur sepi. Penonton merangkak menjauhi acara, dan sesi diskusi masih belum sempat dibuka. Andai saja acara spontanitas ini didesain lebih rancak tentu anak muda minang masih menyimak kata-kata professor di depannya itu.

cerpen Desember dan Januari di Padang Ekpress

Surga, Kadang di Telapak Kaki Ayah
Oleh Adek Risma Dedees
Hidup dalam sebuah keluarga besar tidaklah begitu mengenakkan. Di kamar tidur, semua kasur telah ditempati. Makan pagi, meja makan tak berluang lagi. Jamban di belakang rumah juga antri, untungnya tidak pakai nomor antri. Kamar, meja makan, dan jamban tak pernah sepi. Ada saja yang tidur, duduk, dan jongkok di sana.
Kami berempat, semua kaum Adam, aku yang paling telat melihat dunia ini, dipayungi ayah dan ibu, adalah salah satu bagian dari keluarga besar (KB) itu. Ayah dan ibu sama-sama, bisa dikatakan sibuk. Sibuk mencari peruntungan, tentu saja untuk perut kami. Waktu itu aku masih sering menangis, di rumah saja dengan sepupu dari pagi hingga senja.
Hingga aku menginjak umur sepuluh tahun, kami masih di rumah itu. Keluarganya KB, tapi rumahnya tidak besar. Semenjak aku mengenal kehidupan di sekelilingku, aku baru tahu bahwa sudah turun temurun klan kami menganut kehidupan seperti ini. Tinggal bersama-sama dengan keluarga ayah.
Ayah bersaudara lima orang. Jadi ada lima bilik dalam rumah ini, nenek dan kakek tak pakai bilik, mereka biasanya tidur di tengah-tengah ruangan rumah. Setiap anak nenek, termasuk ayah, dapat satu bilik. Cerita ayah di suatu sore gerimis, semenjak ayah bisa berburu babi, sejak itu ia dapat bilik.
Dalam bilik itu, ayah bisa berbuat sesuka hati. Tidur, membuat patung, menjahit pakaian yang sobek waktu berburu, ataupun memasukkan ibu secara diam-diam di senja hari. Selagi tidak diketahui kakek, semuanya baik-baik saja. Kalau ketahuan, ayah terancam, bisa tidak diakui dalam klan kami. Ayah, pria pemberani, di mataku.
Hingga aku menginjak dewasa, ayah masih sering bercerita pengalaman mudanya denganku. Berbeda dengan ketiga abang-abangku. Setahuku ayah jarang bercengkerama dengan mereka. Apalagi tentang masa mudanya. Pria ini semakin berkarisma, walau kulitnya telah mengendor.
Tiga hari lalu, ibuku meninggal. Ia sakit selama dua musim. Ayah telah bersusah payah mencarikan nenek penyembuh sakit, dari kampung kami hingga kampung sebelah. Tapi tak bisa menyembuhkan ibu. Hingga malam itu, ibu meninggalkan kami, tapi tidak selamanya.
Cerita ayah di suatu sore gerimis, orang yang telah mati, tidak salamanya meninggalkan rumah dan orang-orang terdekatnya. Biasanya arwah si mayat, akan selalu tinggal di rumah itu. Tidur, makan, dan menemani keluarganya di rumah tersebut.
“Termasuk berburu ke rimba Ayah?” tanyaku.
“Jika yang mati laki-laki iya, jika wanita, tak mungkin,” jawab ayah.
Sejak ibu tak menemani pria hitam di depanku ini, sejak itu ayah tak pernah berburu ke rimba. Ia selalu di rumah, atau berada tidak jauh dari rumah klan kami.
“Ayah ingin selalu berjumpa ibumu,” katanya pelan.
Aku semakin iba dengan ayah.
Suatu siang yang terik, waktu itu aku sedang berburu dengan abang-abangku, adik sepupuku, berlari sambil teriak-teriak ke arah kami. Ia terengah-engah. Aku coba menenangkannya. Lalu ia bercerita, bahwa ayahku telah mengecat separuh badannya. Semua itu ia kerjakan diam-diam di kamarku. Sekarang nenek berurai air mata, dan meratap iba di halaman rumah.
Kami terperanjat mendengar cerita sepupuku. Seorang laki-laki jika telah mengecat separuh badannya setelah ditinggal mati istri, suatu pertanda ia akan menyusul sang istri, dan biasanya mati dalam keadaan mengerikan. Bisa saja, diterkam harimau, digigit raja ular di hutan, atau dibawa oleh siluman sungai hingga tak berbekas. Ini tidak hanya cerita, namun nyata.
Segera abangku mengomando kami untuk pulang dan melihat kondisi ayah. Benar saja. Nenek masih berguling-guling di halaman. Saudara-saudaraku yang lain mencoba menenangkannya. Namun aku tak menemukan ayah. Di mana ia. Cerita saudaraku, ayah tak mau dicegah masuk rimba ke arah utara.
Rimba arah utara, adalah rimba yang tak pernah kami masuki berburu. Ayah melarang kami memasuki rimba itu.
“Di sana tidak ada babi-babi hutan.” Alasan ayah.
Belakangan baru aku tahu, rimba arah utara adalah rimba segala ketakutan. Rimba segala marabahaya. Rimba dimana hidup raja ular, harimau nan paling ganas, segala jenis siluman, dan arwah orang-orang terdahulu yang telah berbuat jahat sehingga tidak diterima oleh klannya.
Abang-abangku akan memasuki rimba tersebut. Namun semua saudara melarangnya. Kakek tak bisa lagi menahan emosi. Ia memarahi abang-abangku yang masih bersikukuh akan memasuki rimba arah utara. Pilihannya, jika memasuki rimba akan dikeluarkan dari klan atau patuh pada perkataan kakek.
Pilihan yang sangat tidak adil bagi kami. Tidak diakui dalam klan sama saja dengan kehidupan babi-babi yang kami buru. Tidak memiliki sanak saudara, keluar dari klan adalah orang-orang terbuang dan itu sangat hina.
Setelah ibu menikah dan mengikuti ayah, keluarga ibu tak tahu menahu lagi dengan ibu dan anak-anaknya. Karena kaum hawa, dalam beberapa klan, termasuk klan kami, bukanlah kaum terhormat dan tak perlu dikasihani.
Klan ibu menganggap wanita adalah jelmaan makluk buruk rupa yang ditemukan di hutan. Makluk ini pernah membantu memberi minum kepada babi-babi hutan yang akan diburu. Seorang penduduk melihatnya dan menangkap beramai-ramai makluk-makluk tersebut. Mereka diarak menuju kampung dan diberi makan. Diajari kehidupan kampung dan klan di sana. Lama-kelamaan makluk-makluk tersebut berubah menjadi wanita cantik nan mempesona.
Namun tidak semua dari makluk tersebut elok sikap dan cantik parasnya. Karena penduduk telah membantu mereka, bayarannya mahal sekali, mereka harus mau diperlakukan sesuai kehendak penduduk. Mengikuti semua keinginan penduduk, hingga sampai saat ini. Atau dicampakkan kembali ke dalam hutan, termasuk rimba arah utara.
Aku dan abang-abangku tak dapat berbuat banyak. Kami pasrah pada cerita saudara. Nenek masih meratap, namun sudah tak berguling-guling lagi. Ia dibersihkan oleh sepupu perempuanku. Kakek tak berbicara apa-apa. Hanya tegak mematung di pintu menghadap halaman, sejauh mata memandang, hanya terlihat puncak-puncak bukit rimba arah utara.
Kumasuki bilikku. Semuanya berantakan. Aku tak marah, justru aku menyesal. Kenapa aku tak berhati-hati dengan hobiku. Kakek pernah menegur, selama ini belum ada klan kami yang suka mamahat dan membuat patung. Belum pernah sekali pun. Ayahku juga tak pernah memahat apalagi membuat patung. Entah dari mana aku dapat bakat seperti itu.
Awalnya abang-abangku tak pernah menegur hobiku ini. Namun setelah ayah pergi dengan separuh tubuh dicat, abang-abangku tak seelok dulu. Mereka jarang sekali bercakap-cakap denganku. Mereka tak menyalahkanku dengan perkataan, namun dengan tindak tanduknya.
Aku semakin dikucilkan. Pagi itu abang-abangku akan berburu, dan aku tidak diajak. Berbeda dengan sebelumnya. Menjelang matahari terbenam mereka kembali ke rumah dengan memikul dua ekor babi betina, hasil buruan. Kakek, nenek, dan saudara lainnya tersenyum girang pada mereka. Malam itu mereka berpesta membakar babi-babi tersebut di perapian. Bernyanyi dan menari, tentunya abang-abangku ditemani tunangan-tunangan mereka, simbol terima kasih pada alam dan raja hutan. Upacara yang hampir setiap musim kami lakukan.
Aku tak keluar dari dalam bilik. Suasana semakin riuh dan kadang-kadang gaduh oleh sepupu-sepupuku yang berebut daging babi bakar di halaman. Sayup-sayup terdengar kakek mengucapkan doa-doa dan mantra, sebagai tetua yang memimpin upacara dari klan kami. Dan tak seorang pun yang menawariku mengikuti upacara.
Aku terbaring di tengah sorak sorai dan isak kesedihan pilu. Sekelabat bayangan menghampiriku, antara sadar dan tidak. Mirip ayah, batinku. Benar saja, bayangan itu semakin jelas. Tersenyum dan duduk tepat di samping kepalaku. Ayah bercerita telah bersua ibu. Mereka saling merindukan satu sama lainnya. Ia berterima kasih karena aku telah membantu mempertemukannya dengan ibu.
“Andai engkau tak suka memahat dan membuat patung, entah kapan lagi ayah akan berjumpa ibu.” Kata ayah.
Dalam cerita ayah, ibu merindukan ukiran-ukiranku. Dan ingin sekali melihat pahatan-pahatanku.
“Ia akan mengajarkanmu, bagaimana cara memilih kayu yang kuat dan tahan lama, namun tak keras sewaktu diukir.” Bisik ayah.
Segera kuambil patung-patung hasil ukiranku. Aku ingin memperlihatkannya pada ibu. Tak lupa kubawa cat, untuk mewarnai ukiranku kelak. Di luar sana riuh rendah sorak sorai abang-abangku semakin jelas. Ayah mengapit lenganku, menuntunku ke luar rumah ke arah puncak-puncak bukit utara. Sejak malam itu aku tak berklan lagi, karena kakek tak menegurku.


Sagarmadji, Desember 2009