Monday, 20 December 2010

Sisir

Pagi-pagi buta, aku sudah heboh kepada kakak perempuanku yang masih meringkuk dengan selimutnya di ranjang. Kubongkar rak yang berisi segala pernak-pernik perhiasaan yang biasa kami gunakan kemana-mana. Lemari pakaian semakin berantakan setelah kuobrak-abrik. Rak-rak buku pun tak ketinggalan kujamah. Mana tahu terselip di antara buku-buku. Aku berputar-putar mencari ke sana kemari. Namun, sisir sial itu tak kunjung kutemukan.
Hari ini aku akan ada pertemuan dengan orang-orang penting dari Jakarta. Pertemuan ini menyangkut masa depan beberapa orang di tempatku, termasuk aku. Banyak hal yang akan dibicarakan, masa lalu, masa sekarang, dan masa mendatang. Semuanya harus tampak lebih baik dan sempurna dari segi apa pun. Termasuk kerapian rambut, yang kata orang sebagai mahkota perempuan.
Nah, bagaimana dengan aku yang pagi ini tak juga menemukan sisir? Bagaimana mungkin aku keluar rumah dengan rambut acak-acakan seperti kucing habis bertengkar. Apa kata orang-orang itu kelak. Wajah pas-pasan, rambut panjang namun tak seperti mayang terurai, tetapi seperti mayang disapa angin puting beliung. Berantakan, tercecer kemana-mana, kusut, gatal, dan sangat membosankan. Duh emak, kali ini aku benar-benar pusing membayangkannya.
Seandainya sisir telah di tanganku, tentu aku takkan sepanik ini. Segera kusisir rambutku dari atas hingga ke bawah. Berulang-ulang itu kulakukan, agar rambutku semakin rapi dan mudah ditata. Tak ketinggalan kuusapkan pelembut rambut, gunanya selain mengharumkan rambut juga membuat rambut tak mudah patah. Terakhir aku akan menjepitkan sebuah jepitan rambut merah muda di sebelah kanan. Jepitan ini akan membantu penglihatanku agar lebih jelas karena tak lagi terhalangi poniku yang mulai memanjang. Tentu penampilanku akan semakin menarik dan menawan, bukan?
Akan tetapi sisir tak juga menampakkan diri. Waktu terus berjalan. Kakakku pun tak menghiraukan kecemasanku. Seharusnya ia bangun dan coba membantuku menemukan sisir itu. Jika tidak, sekurang-kurangnya ia menghiburku dan memberikan usul dari tempat tidur, bagaimana kalau dipinjam dulu sisir tetangga. Sisir tetangga? Hatiku berkata, mana ada tetangga sudi membukakan pintu pagi-pagi buta ini hanya untuk meminjamkan sisir. Lain halnya jika aku memberikan dua mangkuk bubur ayam hangat untuk sarapan mereka. Ini traktiran ulang tahun. Ah omong kosong.
Lalu seharusnya apa yang aku lakukan? Menyisir rambut dengan sepuluh jari tangan, bak artis-artis ketika bernyanyi di televisi itu. Bisa saja. Namun, rambut mereka telah disisir terlebih dahulu, sedangkan rambutku masih awut-awutan. Rambut mereka jauh lebih lembut, harum, dan kuat. Perawatan yang mereka lakukan lebih sempurna. Mereka tentu lebih kerap ke salon dengan perlengkapan terlengkap daripada aku yang ke salon murahan hanya pada tanggal muda. Sepuluh jari tangan ini takkan menjinakkan rambutku yang bebal, bisik hatiku.
Aku kehabisan tenaga mencari sisir dan merenungkan semua kemungkinan-kemungkinan tadi. Kakakku ternyata tak kunjung bangun. Ia masih asyik dengan mimpi-mimpi subuhnya. Jam beker telah menunjukkan pukul enam pagi. Aku tak ingin terlambat. Kusisir rambutku dengan jari-jari tangan seadanya. Kuangkat, kurapikan, dan kuikat rambutku dengan karet warna-warni. Cermin pun memantulkan wajahku dengan senyum dipaksakan. Tak apalah. Kali ini rambutku memang mirip mayang terburai-burai.

Tak Dapat Ilmu Sertifikat pun Jadi

Sekelompok orang memasuki ruangan sambil bercakap-cakap. Sesekali diselingi derai tawa. Kedua tangan mereka penuh dengan berbagai tentengan. Ada map berisi beberapa helai materi, buku catatan, pena, dan jadwal kegiatan. Sedangkan tangan yang lain menenteng nasi kotak. Di leher pun tergantung kokarde merah, kuning, biru, dan hijau. Dengan kokarde itu, menunjukkan bahwa mereka sebagai peserta pelatihan yang diadakan oleh sebuah lembaga.
Sejak beberapa tahun belakangan, pelatihan kerap diadakan oleh berbagai lembaga, baik lembaga pemerintah maupun nonpemerintah. Tujuannya meningkatkan keterampilan karyawan serta mutu kerja baik secara personal maupun berkelompok. Selain itu, juga menjadi poin penting dalam menunjang kenaikan jabatan dan tentunya gaji bagi karyawan atau peserta pelatihan, salah satunya ditandai dengan pemerolehan sertifikat pelatihan.
Berbagai ajang pelatihan pun digelar. Tak jarang sebuah pelatihan memakan biaya, waktu, serta tenaga yang tidak sedikit. Penyelenggara pun kerap mendatangkan pembicara yang tidak hanya cerdas, luwes, namun juga menghibur. Hal ini menjadi poin penting, karena sifat pelatihan biasanya lebih santai, terbuka, dan harusnya tidak membosankan.
Akan tetapi, banyak pula pelatihan diadakan hanya sebagai rutinitas tahunan atau seremonial tanpa mementingkan capaian-capaian tertentu. Pelatihan diadakan hanya sebagai pelengkap dari program kerja yang telah dicanangkan setahun lalu atau menghabiskan anggaran dana yang masih tersisa. Walaupun demikian, tetap saja pelatihan-pelatihan seperti ini ramai dikunjungi peserta. Tentu saja tujuannya tidak lagi menimba ilmu dan keterampilan, namun hanya untuk melengkapi koleksi sertifikat.
Motivasi penyelenggara dan peserta pelatihan yang telah bergeser ke arah lain, menjadikan pelatihan hanya sebagai kerja sia-sia. Ketika pelatihan usai, semua materi dan keterampilan yang diberikan pemateri tak jarang hanya tertinggal di dalam map. Hari-hari yang dihabiskan selama mengikuti pelatihan terbuang begitu saja. Hasil-hasil pelatihan pun hanya memenuhi memori kepala dan tak teraktualisasi dengan jelas. Kondisi ironi yang memiriskan hati.
Fenomena ini menggambarkan betapa sikap praktis (pragmatis) dan langsung (instan) masyarakat terhadap apa-apa yang diinginkan semakin kental. Sikap orang-orang yang menginginkan sesuatu dengan jalan pintas dan tak mengikuti proses serta tahap-tahap kegiatan (prosedur) tertentu. Padahal yang melakukan berasal dari kalangan terdidik dan tak jarang pula menjadi pedoman di masyarakat.
Sikap ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada acara-acara pelatihan. Tetapi juga merebak ke bidang lain yang lebih besar, seperti pendidikan, bidang usaha, kepolisian, departemen, atau bahkan kementerian negara. Sikap jalan pintas ini pun ikut mewarnai kehidupan berbangsa. Bahkan dalam beberapa keadaan, jalan pintas sudah dianggap biasa dan sah. Padahal sikap ini berbahaya dan merugikan tidak hanya diri sendiri tetapi juga orang lain.
Muara dari jalan pintas cenderung ke arah korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tiga sikap inilah yang memporak-porandakan Tanah Air hingga saat ini. Dengan jalan pintas seseorang dengan mudah, percaya diri, dan tanpa rasa bersalah melanggar aturan serta mengabaikan kewajiban dan hak-hak orang lain.
Jika diperhatikan lebih seksama dalam sebuah pelatihan, jangan heran beberapa peserta berbisik kepada panitia, “Saya tak bisa hadir, si kecil sakit. Tapi besok saya akan jemput sertifikatnya, bisa kan?”. Panitia yang dibisiki mengangguk. Semua beres.

Pelatihan Nan Mencerahkan

Apa yang terbayang ketika mendengar kata pelatihan, workshop, ataupun training? Sekumpulan orang menenteng map berisi beberapa helai materi, notebook, pena, dan jadwal kegiatan. Tak ketinggalan di leher tergantung kokarde merah, kuning, biru, atau hijau. Saban hari, biasanya, berkutat dengan teori-teori, pendekatan, hipotesis, dan sedikit latihan dalam ruangan ber AC yang melenakan. Setidaknya seperti itu gambaran pelatihan yang kerap dilaksanakan baik oleh badan pemerintahan ataupun badan usaha atau lembaga nonpemerintah.
Sementara itu, sejauh apakah penularan ilmu dari pemateri atau instruktur kepada peserta selama pelatihan berlangsung? Apakah ilmu yang diperoleh dapat diterapkan langsung pada lembaga dimana peserta bekerja? Atau hanya sebagai penyegaran bagi peserta pelatihan? Keefektivitasan pelatihan pun disangsikan.
Pelatihan yang dilaksanakan oleh suatu lembaga, guna meningkatkan keterampilan karyawan serta mutu kerja baik secara personal maupun berkelompok, tak jarang memakan biaya, waktu, dan tenaga yang tidak sedikit. Penyelenggara juga kerap mendatangkan pembicara yang tidak hanya cerdas, luwes, namun juga menghibur (entertainer). Hal ini menjadi poin penting, karena sifat pelatihan biasanya lebih santai, terbuka, dan harusnya tidak membosankan.
Fenomena pada kehidupan nyata, bagi penyelenggara, kebanyakan pelatihan hanya sebagai pelengkap dari program kerja yang telah dicanangkan setahun lalu. Pelatihan juga kerap menjadi ajang seremonial dan rutinitas lembaga, atau menghabiskan anggaran dana yang masih tersisa. Sedangkan bagi peserta sendiri, pelatihan dibatasi hanya sebagai penambah wawasan dalam bidang tertentu. Bahkan ada yang berpendapat, pelatihan hanya sebagai pengisi waktu lowong peserta. Sehingga jangan heran dengan pendapat hampir seluruh pelatihan memberi manfaat perluasan wawasan pada peserta, demikian juga hampir seluruh pelatihan gagal membenamkan kompetensi yang melekat dan terpakai untuk kurun waktu yang lama bagi peserta pelatihan.

Beberapa pendapat baik dari penyelenggara maupun peserta pelatihan, kedua belah pihak terang-terangan menepikan isi atau subtansi pelatihan itu sendiri. Padahal selayaknya konsep pelatihan tidak hanya terfokus menambah wawasan peserta, sebanyak mungkin menerangkan kearifan atau kebijaksanaan, atau perbincangan yang penuh dengan teori-teori. Namun, yang menjadi target utama adalah pemerolehan dan penguasaan keterampilan atau skill peserta yang nantinya bisa diadu setelah keluar dari ruangan pelatihan.
Selain keterampilan, pembelajaran juga menjadi sasaran pokok yang harus dipupuk dalam pelatihan. Dua hal ini tak bisa dengan mudah diabaikan, karena di sinilah letak berhasil atau tidaknya sebuah pelatihan. Poin penting pada pembelajarn dan keterampilan, menjadikan peserta lebih berpeluang dan tidak segan-segan menerapkan ilmu yang didapat di tempat peserta berasal.
Untuk mewujudkan hal ini, sejak semula ditekankan adanya kesepakatan-kesepakatan antara penyelenggara pelatihan dengan peserta pelatihan. Hubungan pelatih dengan siapa yang dilatih harus sesuai dan tidak bertentangan. Penyelenggara pelatihan harus mampu menggabungkan (sinergi) tujuan-tujuan pelatihan pada masing-masing pihak. Hal ini bertujuan untuk menyerentakkan (sinkron) kebutuhan pelatihan dengan proses pembelajaran sebagai bekal peserta untuk diterapkan nantinya. Dengan demikian tidak ada materi yang disampaikan berlebihan atau kurang dari apa yang dibutuhkan peserta pelatihan.
Momok selanjutnya adalah pascapelatihan. Setelah mengikuti pelatihan tidak sedikit pengetahuan yang didapat peserta tertinggal di dalam map atau sudah tak ingat sama sekali. Hasil-hasil pelatihan pun hanya memenuhi memori kepala dan tak teraktualisasi dengan jelas. Salah satu penyebabnya adalah lingkungan kerja yang tidak mendukung. Dalam kondisi ini evaluasi dari organisasi pun dinantikan. Organisasi sebaiknya jemput bola atau menagih pembelajaran dan keterampilan yang telah didapat peserta sewaktu pelatihan. Alhasil, pelatihan yang diikuti akan memberikan pencerahan, tidak hanya bagi individu tetapi juga organisasi.

PERTAMINI ANAK ECERAN PERTAMINA? Bukan


As (25 th), pemilik kios bensin yang terletak di Desa Lubuk Sanai, Kecamatan XIV Koto, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu ini (19/11), mengaku bahwa nama kios bensin miliknya ini adalah bagian dari strategi dagang pribadinya. Tidak ada hubungannya dengan Perusahaan Tambang Minyak Indonesia (Pertamina), “Orang-orang penasaran, jadi beli minyak (bensin) ke saya.” Jadi, siapa bilang plesetan hanya bisa dijual oleh dan di pulau Jawa, di atas selembar kaos Dagadu misalnya? Jangan-jangan strategi ini memang khas milik Nusantara.

Jika Telah Senja

Setelah sepertiga abad pengabdian, tiba saatnya bagiku menyingkir dari semua tetek bengek berbau penelitian, seminar sana sini atau membuat jurnal. Kegundahanku terhadap perangai mahasiswa di tempat selama ini mengajar, tak lagi menyerang. Tiga bulan lalu, pasangan hidup teramat aku cintai tak lagi menemani hari-hariku. Istriku, dalam keadaan sehat-sehat saja, tiba-tiba tersedak dan meninggalkan kehidupan fana ini.
Waktu itu, adalah masa-masa tersulit bagiku. Usiaku yang merangkak senja, membuatku lebih cepat lelah dari sebelumnya. Pemikiranku katanya selalu kontroversi di kampus, tak kupungkiri dan aku semakin membutuhkan seseorang yang mampu memahamiku luar dalam. Keberadaan istriku, selalu menghangatkan pemikiran-pemikiranku. Kesediaan istriku terkasih, selalu melapangkan semua kesesakan yang mendera. Istriku tempat bertanya sekaligus pasangan luar biasa yang pernah aku miliki. Namun kini berbeda.
Sejak itu, separuh dari roh kehidupanku lamat-lamat menguap dan hilang. Pagi-pagi buta, seperti kebiasaan kami dulu, aku bersama istri menghabiskan subuh menonton berita, berbincang tentang cucu nan lincah dan lucu, serta keluhan pekerjaan di kampus sambil menyeruput teh bercampur ampas buatannya. Subuh ini, dengan sisa-sisa tenaga, kucoba tuangkan air panas dari termos ke dalam mok yang biasa kupakai. Tertatih-tatih tubuh renta ini menggapai remot tivi di atas lemari. Memilih chanel, menyimak seadanya, menikmati teh, namun tak ada bincang-bincang karena ini bukan pada rumah dahulu.
Waktu-waktu seperti ini, anak, menantu, dan tiga cucu kecil-kecil yang menemani, tepatnya aku menemani mereka, masih terlelap. Kesibukan anakku sebagai wartawan, menyita hampir seluruh waktu dalam sehari. Jarang terjadi perbincangan hangat dan panjang. Sekalipun itu di saat-saat makan. Sebagai kuli tinta, anakku acap kali tidak pulang, toh kalau pun pulang sudah larut malam. Keadaan ini, sengaja atau tidak, memberi jarak tersendiri bagiku. Mungkin anakku tidak merasa, namun bagiku adalah sebuah cambuk di hari tua. Aku masih ingin mendengar cerita-ceritanya seperti dulu.
Tak ada pilihan waktu itu. Aku harus sedia dibopong ke tanah Jawa, tempat kediaman anak sulungku. Surat pensiun memang telah kuterima sejak dua tahun lalu. Namun, aku memilih tetap aktif di kampus. Bergumul dengan dunia akademik memang tak pernah membuatku bosan atau kalah. Keadaan ini berubah ketika istriku menghadap Sang Khalik. Kali ini aku benar-benar pensiun. Aku memilih haluan lain. Tak lagi tertarik dengan dunia ilmiah, diskusi isu terbaru, atau pun mengkritisi kebijakan pemerintah yang acap kulayangkan dalam sepucuk surat, waktu dulu. Aku hanya di rumah. Dan tak mencoba menghubungi kolegaku di pulau ini. Aku begitu tertarik pada koran dan tivi.
Sesekali aku berjalan-jalan sore di sekitar kompleks perumahan ditemani cucuku. Dengan kaos oblong putih dan celana hitam panjang, kuberharap kalau-kalau ada lelaki seusiaku yang hobi memelihara burung atau bersenang-senang dengan koleksi batu akik, yang dulu pernah aku geluti. Setidaknya hal tersebut dapat menyejukkan pikiranku sejenak setelah jenuh dengan tontonan yang sama. Tapi kadang-kadang aku juga mengenakan peci dan kain sarung. Bagaimana pun aku tetap berusaha menikmati kehidupan baruku. Sekalipun aku dipaksa berpikir ulang dengan sikapku ini.
Bagaimana bisa seorang profesor yang dikenal cerdas dan tangkas, tiba-tiba seperti kehilangan akal pikiran? Berbuat seperti orang yang tidak memiliki pedoman hidup. Padahal secara fisik dan mental, aku masih mampu berpikir dan bepergian ke tempat jauh. Pergi ke tempat dimana aku bisa menyalurkan semua keinginan dan kebutuhan yang selama ini aku minati. Hanya karena ditinggal mati istri, semua sendi-sendi kehidupanku lumpuh. Alahkah mengibakan nasib sang guru besar. Pikiran-pikiran ini kerap meracau dalam rongga benakku. Tapi dengan cepat kuhalau.
Enam bulan berlalu. Rutinitasku itu-itu saja. Hari-hari hanya dihabiskan di sekitar pekarangan rumah. Jika selama pengabdian, aku sering ke luar, bersua rekan-rekan kerja, dan bercengkerama tentang apa saja, namun saat ini semua membatu. Aku pun tak menyangka kehidupanku akan sebeku ini. Sebagai orang terbiasa sibuk, aku merasa ada sesuatu yang hilang serta berubah dari dalam diriku.
Aku sungguh-sungguh mulai bosan. Kesepian mendera. Acap kali aku panik dan hilang kontrol. Malam-malam dihabiskan kalau tidak menonton hingga dini hari atau hanya merenung. Tidurku pun tidak selelap dulu. Setiap mata akan terpejam, berbagai wajah dan suasana datang bergelayut. Kegelisahan pun bersarang hingga subuh. Ada saja yang menggelisahkanku. Ada saja yang menyita waktu lelapku. Atau kadang aku harus bolak-balik kamar tidur dan kamar mandi. Tiba-tiba aku merasakan betapa sengsara atau naifnya kehidupanku beberapa waktu ini.
Kenangan dengan mendiang istri selalu mengunjungiku. Mengingat-ingat berbagai kegiatan yang kulakukan bersama istri selama menjabat semakin kuat. Derai tawa dan teriakan mahasiswa-mahasiswaku pun ikut serta mengiang-ngiang memenuhi selaput kepalaku. Bayangan-bayangan diskusi alot tak ketinggalan melayang-layang di pelupuk mata. Semua menyatu. Kerinduan itu terulang kembali. Kerinduan yang mencabik luka lama. Jantungku berdetak cepat, perih di hulu hati, dan baru kusadari mataku acap kali basah beberapa waktu ini. Ah aku kekanak-kanakan sekali.
Tak terelakkan, kondisi ini menyebabkan tekanan darah dan kadar gula darahku pun meningkat. Pagi-pagi sekali, suara benda keras membentur pintu, bertubrukan dengan lemari dan seketika jatuh ke lantai membangunkan anak dan menantu. Itu aku. Aku tak kuasa membuka mata. Badanku berkeringat dan mengernyit menahan sakit. Raut tua nan lemah tentu begitu kentara dari mimikku. Denyut jantungku pun memburu. Dadaku sesak. Kucengkeram agar tak menjalar kemana-mana, dan tangan kiriku mengais-ngais sesuatu untuk berpegangan. Sebagian pakaian lusuhku basah dan amis. Ah kali ini sang profesor benar-benar kalah.
Seminggu sudah aku dirawat di rumah pesakitan. Untuk menurunkan hipertensiku dibutuhkan pola makan dengan gizi, vitamin, kadar gula, karbohidrat, serta protein yang selalu terjaga dengan baik. Begitu juga untuk mengembalikan kadar gula darah kepada keadaan normal. Semua itu dikerjakan dengan apik dan telaten oleh perawat. Jangan sampai ada kekurangan atau kelebihan. Kalau tidak aku akan semakin payah.
Perawatan ini tak bisa dilakukan oleh menantuku. Aku tahu menantuku tak bisa terus menerus menyiapkan makanan lengkap untuk diriku ini. Tiga buah hatinya menuntut menantuku lebih banyak di rumah dan mengemong bocah-bocah itu. Hanya tiga atau empat kali dalam seminggu, kalau tidak salah, menantuku membesuk dan membawakan makanan serta beberapa potong pakaian buatku. Selebihnya waktuku diisi bersama para perawat.
Sementara anakku yang wartawan itu, aku pun jauh lebih paham. Sebagai pekerja lapangan dan tonggak utama suatu media, sulit sekali bagi anakku mendapatkan libur atau cuti atau curi-curi waktu untuk membesukku. Untuk menggambarkan betapa kesibukan anakku menyita semua waktu, tak perlu kuperjelas sekali. Di mataku anakku itu seperti mesin. Itu saja. Namun, pagi ini perawat jagaku bercerita kalau semalam anakku datang berkunjung. Tak lama. Apalagi melihatku telah terlelap. Kata perawat itu, anakku hanya menanyakan kondisiku dan kapan aku bisa dibawa pulang. Kemudian anakku pergi setelah berpamitan.
Di tepi kolam yang kukira cukup dalam ini, kembali aku mengingat-ingat hal itu. Enggan rasanya aku kembali ke rumah. Memberatkan kehidupan anakku dan menantu. Acap kali pikiran ini melintas dalam benakku. Sejujurnya, dalam keluarga besarku, tak ada seorang ayah menumpang di rumah anak lelaki. Janggal dan tidak sesuai budaya kami. Ada juga di rumah anak perempuan, jika tidak di rumah keponakan. Sistem ini hidup dan kental dalam darah kami. Terakhir, timbul penyesalan kenapa aku mengiyakan ajakan menantuku tempo hari.
Apalagi menimbang kondisiku sekarang. Semua keperluanku, mandi, makan, istirahat dibantu perawat. Kemana-mana aku didorong bersama kursi roda. Untung saja perawatku di sini tidak mudah cemberut. Ya, karena memang itu sudah menjadi tanggung jawab mereka dalam bekerja. Selain berbaring, aku juga sering keluar kamar dan berjemur di taman gedung besar ini. Satu-satunya yang dapat kulakukan, memandang sekeliling dan meremas-remas tanganku yang selalu basah. Semakin mengiris bukan?
Sejauh ini anakku maupun menantuku belum menampakkan tindak tanduk kekesalan atau jemu denganku. Bagiku merawat seorang pensiunan guru besar yang sekarat sepertiku bukanlah hal mudah. Di tengah hiruk pikuk dan sibuknya kota beserta isinya, mana ada seorang jongos rela bekerja menjadi perawat kekek tua sepertiku. Masih banyak pilihan pekerjaan lain di luar sana. Aku gamang jika aku dikembalikan pada anak dan menantuku.
Seandainya aku tidak mengiyakan ajakan menantuku waktu memperingati seratus hari kepergian istriku, aku takkan semeranggas ini. Bayangan kampung halaman selalu melintas. Sebagai orang disegani, sekaligus penghulu, hakikatnya aku tak pantas bertingkah seperti ini. Kupahami, waktu-waktu kritis ini aku benar-benar butuh perlindungan dan perhatian khusus dari keluarga dekatku. Anak sulungku yang wartawan itu, mungkin satu-satunya. Bagaimana nanti jika tiba-tiba aku sesak napas, susah bicara, kejang, kemudian rohku melayang? Siapa yang akan menuntunku mengucapkan kalimah Allah? Atau di malam buta aku ingin bercerita dan berpesan, siapa yang akan menyimaknya? Beberapa ikan kecil-kecil tiba-tiba menyembul dari dasar kolam.
Kuredam semua gulana itu. Jangan lagi mendatangiku. Cukup sudah. Demi mengembalikan kepulihanku, biarlah aku di sini. Bersama anak lelakiku. Toh orang kampung tak melihat hidupku lagi. Mereka tahu apa tentang penyakitku. Kalaupun tahu, mana mungkin mereka datang kemari dan membantu membayar pengobatanku. Impossible.
Suara lain menyahut, entah dari mana. Tapi, aku telah mengorbankan harga diri sebagai seorang ayah, mertua, penghulu, dan orang cerdik yang paham adat serta budaya kami. Kenapa aku harus melanggar itu. Hanya demi tak tahan hidup tanpa istri, aku lebih memilih menumpang hidup dengan anak lelakiku jauh di seberang. Kemudian membiarkan saja anak gadisku di kampung, hanya karena ia ditinggal mati suaminya dan enggan menikah lagi.
Yang lain berbisik. Ya, kenapa pula aku harus tinggal dengan anak gadis yang janda itu. Apa kata orang. Ayah dan anak perempuan tinggal serumah yang sama-sama ditinggal mati istri dan suami. Itu tidak arif. Tidak patut dan bukanlah pekerjaan seorang cerdik pandai yang selama ini jadi panutan orang-orang. Salah anak gadisku, kenapa tidak menerima pinangan dari salah satu mahasiswa magisterku dulu. Padahal aku telah susah payah mencarikan pengganti menantuku yang mati tertabrak kereta api itu.
Akan tetapi, bukankah seharusnya aku menjadi tempat berlindung, bersandar, dan tumpuan anak gadisku waktu itu, gumam suara lain. Masa aku tega menelantarkan anak gadisku dalam keadaan pahit. Bagaimana juga dengan pandangan arwah istriku. Apakah ia sakit dan sesenggukan di alam sana? Melihat putrinya ditinggal pergi oleh sang suami dalam keadaan begitu terpukul. Ah istriku, maafkan aku. Waktu itu yang terpikirkan, aku hanya ingin dekat dengan cucu-cucu kita. Makhluk-makhluk mungil yang mampu melupakan kerinduanku padamu.
Entah bagaimana, aku tak lagi merisaukan bagaimana keadaan dan keseimbangan adat di kampung kita. Tak lagi mengidahkan bagaimana pandangan orang kampung terhadap keluarga kita, kaum kita, dan anak gadis kita sekarang di sana. Mungkin di sana aku dimaki, dicaci, dan disesali. Dan tentu yang merasakannya anak gadisku itu. Oh, pasti dia lebih merasakan sakit yang dalam daripada yang aku rasakan saat ini. Seharusnya aku malu dan kembali ke kaumku. Kemudian memperbaiki keadaan. Bukan justru berlama-lama di sini.
Berkecamuk semua dalam benakku. Tak tahu lagi suara mana yang kupedomani. Sekelilingku sepi. Ini waktunya mandi bagi pasien sepertiku. Perawat yang sedari tadi memperhatikanku dari sepelemparan batu aku berjemur, kusuruh ke ruangku mengambilkan sebutir jeruk. Ingin sekali aku mengudapnya. Ikan-ikan kecil tak tampak lagi. Namun, dadaku mulai sesak dan semakin sesak. Semua berputar-putar. Halusinasi orang-orang kampung semakin menyeruak. Raut isak istriku jelas di riak kolam. Tubuhku sempoyongan dan hilang kontrol. Terjerembab ke dalam kolam. Dan semua menjadi jelas, ayahmu tak secerdik dulu.

2010 Padang 17. 20 PM

Tuesday, 30 November 2010

SKS dan Revolusi

Sejak diberlakukannya Sistem Kredit Semester (SKS) bagi mahasiswa dimulai sekitar tahun 1978 hingga sekarang, kegiatan mahasiswa di kampus memang lebih banyak terfokus bagaimana menuntaskan beban SKS tersebut dan segera tamat. Beban SKS, untuk mahasiswa SI minimal 140-160, cukup membuat mahasiswa tak bisa berpaling ke bidang lain selain akademik. Mahasiswa diikat dan didera dengan bagaimana menuntaskan seratusan lebih SKS tersebut dalam rentang waktu 8 hingga 14 semester, yang tentunya dengan nilai IPK atawa predikat memuaskan. Kalau tidak, drop out pun menunggu.
Alhasil kerja mahasiswa selama kuliah hanya belajar dan segera mencapai target kelulusan. Padatnya jadwal kuliah serta bejibun tugas akademik semakin memberi jarak mahasiswa dengan kegiatan-kegiatan sosial kampus dan kegiatan berorganisasi. Mahasiswa harus berpikir seribu kali untuk ikut dalam sebuah organisasi, apalagi organisasi berbasis pergerakan. Mereka tak lagi punya waktu banyak untuk mengurusi fenomena masyarakat. Hingga sampai saat ini terkesan pergerakan mahasiswa mandul jika dibandingkan dengan masa Orde Lama maupun Orde Baru.
Kesibukan belajar seolah-olah mematahkan sense of social mahasiswa terhadap realita di masyarakat. Pemikiran-pemikiran mahasiswa cenderung pragmatis dan lena dengan keadaan yang ada. Peran mahasiswa sebagai agent of change, control social, dan iron stock yang digadang-gadangkan juga habis dilumat oleh kerasnya tuntutan akademik di kampus. Padahal sejarah mencatat bagaimana gerakan mahasiswa, baik pada penggulingan Orde Lama tahun 66, gerakan mahasiswa 74, dan gerakan mahasiswa dalam rentang 80-an hingga yang teranyar Reformasi 98 lalu, mampu membangun people power yang meruntuhkan tatanan otoriter penguasa. Hal ini bisa menjadi semangat baru bagi mahasiswa untuk menghidupkan kembali pergerakan-pergerakan dan mengkritisi serta meluruskan kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat.
SKS ini dinilai banyak pihak, katakanlah itu aktivis serta pengamat pergerakan mahasiswa, salah satu cara pemerintah mengerdilkan kegiatan-kegiatan atau pergerakan mahasiswa untuk lebih peduli dan ngeh dengan berbagai kebijakan serta manuver dari pemerintah. Di sisi lain, tak jarang pemerintah memandang suara mahasiswa adalah suara yang selalu merongrong jalannya roda pemerintahan. Oposisi kelas kakap, namun kadang cukup mudah untuk dilumpuhkan dengan berbagai intrik, baik politik maupun lainnya.
Meskipun demikian, bebas SKS yang jauh semakin lebih besar, hendaknya bukanlah penghalang bagi mahasiswa untuk selalu eksis dalam pergerakan yang dikontruksi dengan masif. Para pendahulu telah menunjukkan taring, bagaimana peran mahasiswa mampu merubah tatanan pemerintah secara fundamental di negeri ini. Pledoi-pledoi akan beratnya beban kuliah, tuntutan ini itu yang bukan berlandaskan asas sosial dan rakyat bukanlah ide jitu untuk memalingkan muka dari peran mahasiswa seyogyanya. Tatanan demokrasi bagi Indonesia baru yang diidam-idamkan telah diusung, kini tinggal bagaimana mahasiswa mengeksekusi agar harapan dan impian ini tercapai. Atau diperlukankah sebuah revolusi?

Wednesday, 3 November 2010

Psikoterapi Islam


Judul : Obat Hati
Menyehatkan Ruhani dengan Ajaran Islami
Pengarang : Khairunnas Rajab
Penerbit : Pustaka Pesantren, kelompok LKiS Yogyakarta
Tebal : xvi + 138 halaman
Cetakan : Pertama, Agustus 2010
Harga : Rp 32.500,-
Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP


Seiring perkembangan zaman, sepuluh tahun terakhir, perkembangan teknologi dan pengetahuan semakin canggih dan pesat. Perkembangan ini menimbulkan permasalahan tersendiri bagi orang-orang. Apakah itu semakin tingginya tuntutan kerja, beribadah kepada Sang Khalik, ataupun fenomena alam yang semakin menakutkan. Tidak sedikit dari perkembangan zaman ini ‘memakan’ korban. Bukan korban secara fisik tetapi secara mentalitas, seperti depresi, stress, kegalauan, psikoneorosis, psikopathologi, kecemasan, kegalauan, dan kerisauan lainnya.
Alumnus Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang ini mengetengahkan sebuah metode pengobatan psikoterapi ala Islam, namanya psikoterapi Islam. Psikoterapi Islam semacam metodologi yang berupaya menggali nilai-nilai dan potensi yang terdapat pada pasien, baik tentang hubungannya dengan Tuhannya, sesama makhluk, dan dengan alam lingkungannya. Psikoterapi ini berorientasi pada penguatan hubungan emosional diri sendiri selaku pribadi, peningkatan ketakwaan pada Tuhannya, mewujudkan solidaritas sosial dalam komunitas, serta memperbaiki dan melestarikan kehidupan bagi lingkungan sekitarnya..
Alquran memberikan bimbingan, pengajaran, dan perawatan melalui kekuatan iman dan takwa terhadap perilaku buruk, membimbing umat manusia untuk berperilaku terpuji. Melalui buku ini penulis menawarkan kepada pembaca mengenai konsep-konsep yang bisa dimanfaatkan dalam ajaran Islam secara komprehensif, seperti konsep tauhid, konsep imam, dan konsep sufisme bagi pengobatan hati para pasien.
Buku ini menjabarkan bagaimana terapi-terapi psikoterapi Isami diterapkan pada pasien dengan beragam metode. Ada metode preventive (pencegahan dan pengawasan), curative (pengobatan dan perawatan), dan reconstructive and rehabilitative (bimbingan dan pembinaan). Metode-metode akan membantu pasien mengurangi ‘penyakit-penyakit hati’ tersebut. Buku yang handy bisa dibaca sewaktu senggang dan santai. Bahasanya yang ringan dan mudah dipahami, cocok bagi pasien yang mengikuti psikoterapi ini.

Wednesday, 20 October 2010

Ketika Perempuan ‘Gaul’ Berbicara


Judul : Dunia Padmini
Pengarang : Trie Utami
Penerbit : Pustaka Sastra, kelompok LKiS Yogyakarta
Tebal : xxiv + 254 halaman
Cetakan : Pertama, Oktober 2010
Harga : Rp 50.000,-
Resensiator : Adek Risma Dedees, Mahasiswa Sastra Indonesia UNP


Satu lagi buku yang berbicara tentang perempuan dan seluk-beluknya lahir di tanah air Indonesia. Kali ini buku prempuan ini lahir dari tangan seorang seniman terkemuka di nusantara. Tentu cara si penulis menuturkan juga berbeda. Bisa saja dengan bahasa seni atau literer serta bisa pula dengan bahasa yang lebih serius.
Perempuan, bagi Trie, sosok yang seharusnya tidak melulu lemah dan objek yang dilindungi oleh kaum lelaki. Pada suatu ketika, kenapa tidak terjadi sebaliknya. Subordinasi terhadap perempuan sudah sepatutnya dikikis habis. Paradigma yang mengharuskan perempuan fokus untuk kerja pada bidang domestik, sudah selayaknya dibumihanguskan. Dengan buku ini Trie bercerita panjang tentang kehidupan berbagai sikap dan sifat perempuan yang pernah ditemui dan dikenalnya.
Dapur, kasur, dan sumur adalah peribahasa turun temurun bangsa ini, ini berkaitan erat dengan pola domestifikasi perempuan, sebagai cerminan struktur berpikir masyarakat yang patriarkhi. Pandangan ini telah diimplant ke alam bawah sadar kita sejak kecil sehingga dipercaya sebagai suatu kebenaran yang bersinggungan langsung dengan agama dan adat istiadat, dalam kaitannya dengan kodrat, dan itu adalah kebenaran Tuhan yang secara de-facto, memang benar perempuan memiliki tugas reproduksi yang spesifik.
Namun demikian, bukan berarti menelan mentah-mentah semua itu. Ketika lahir ke permukaan bumi, baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama dibekali dengan hati nurani dan kejernihan berpikir. Lantas, hanya karena konstruksi sosial tentang perempuan yang harus ‘mengabdi’ pada tiga ranah tadi adalah semacam harga mati yang tak boleh ditawar. Pandangan ini tidak hanya mengerdilkan kaum perempuan, namun juga lelaki.
Dari yang kita ketahui, Trie Utami, seorang seniman dengan berbagai talenta, yang kemudian menerbitkan sebuah buku, menarik untuk dibaca dan dipahami bagaimana alur berpikir Trie tentang perempuan di negeri ini. Latar belakang kehidupan Trie, yang jika tak mau dikatakan ‘tragis’, lebih ‘dahsyat’ dan kompleks bisa dipahami dari buku ini. Berbagai peristiwa kehidupan, khususnya tentang perempuan, dialami Trie dan dengan mudah kita ketahui melalui pemberitaan di media massa.
Melalui buku ini, Trie mencoba memberikan ‘semangat juang’ kepada kaum perempuan bagaimana memerdayakan semua potensi yang dimiliki tanpa pernah ragu, sungkan, dan takut ditentang. Padmini, tokoh sentral perempuan yang ia ciptakan dalam buku ini, menyuguhkan semua problema perempuan dan bagaimana mengatasinya tanpa menyakitkan kedua belah pihak, perempuan dan laki-laki.
Padmini dilahirkan sebagai perempuan modern yang tak mau sesuka sosial memaknai dirinya. Ia mencoba mendobrak semua pakem yang telah terpaku dalam masyarakat. Salah satu jalannya mengoptimalkan potensi diri, melalui pendidikan. Padmini tidak menyalahkan kenapa laki-laki selalu dan dianggap hebat. Dengan kata-katanya ia mencoba membangkitkan agar terlahir perempuan hebat, cerdas, brilian, dan dipuja sepanjang masa justru karena ia mampu mengangkat derajatnya dengan gigih belajar.
Buku ini semacam sugesti bagi kaum perempuan untuk selalu bisa mengambil titik proporsional dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan arif. Mempelajari semua kemampuan sebagai manusia, menggali semua potensi, dan kemudian melahirkan keyakinan dalam diri bahwa sebagai manusia, perempuan memiliki daya dan energi untuk melanjutkan hidup. Mampu berkata tidak ketika tidak berkenan, sanggup menolak hal-hal yang tidak disukai, tanpa harus memusuhi laki-laki, tanpa harus membenci laki-laki, tanpa harus menggempur laki-laki, dan tanpa harus bersikap dan bertindak seperti laki-laki.
Demikian Trie menjabarkannya kepada kita, kaum perempuan. Buku ini disertai dengan sub-sub judul, seperti Padmini dan anak Perempuan, Padmini dan Keperempuanan, Padmini dan Ketololan Perempuan, Padmini dan Poligami, serta sub judul lainnya yang tak kalah menarik untuk direnungkan. Buku yang handy ini cocok dibaca ketika senggang maupun menjelang tidur. Bahasanya yang sederhana, menyentuh, terkadang lucu mungkin memang sedikit menggambarkan watak si penulis. Desain sampul yang unik, ‘tajam’, disertai lukisan janin kembar sejoli, nyaris menduga buku ini bak buku primbon, namun tidaklah demikian.

Tuesday, 19 October 2010

Chemistrynya Mana?

“Chemistrynya mana tuh doi?” Tanya Irfan kepadaku.
“Bagaimana mungkin aku mabuk kepayang pada cewek yang punya lingkar pinggang 75 cm hah?” lanjutnya sambil memelototkan biji mata kepadaku. Seolah-olah benda bundar itu ingin melompat keluar dari sarangnya. Aku kaget alang kepalang. Sejak kami berkawan, baru kali ini Irfan berang dan kebakaran jenggot seperti mau kiamat saja. Suaranya lantang mencoba mengalahkan deru ombak.
“Kamu gila!” hardiknya sambil berlalu meninggalkanku termangu di bibir pantai. Apa benar aku sudah gila? Pikirku beberapa saat kemudian setelah punggung Irfan tak tertangkap lagi di ekor mataku.
***
Itu kali terakhir aku menawarkan sang pujaan hati, tentu cewek, diharapkan mampu mengobati patah tulang, eh patah hatinya Irfan kepada Fani. Fani, remaja gedongan asal ibukota, ibukota Jawa Barat, yang sudah sebulan ini mencuri pandang semua cowok di sekolah kami. Termasuk Irfan. Kalau aku, itu rahasia.
Fani memang manis. Tak satu pun para cowok tidak sepakat dengan simpulan itu. Bagaimana tidak, dia punya rambut panjang, hitam, dan sedikit bergelombang. Poninya nakal, kadang rela menampakkan mulus keningya kadang tidak. Kami, para cowok penasaran, di balik poni itu adakah sebongkah gunung merah bernana? Jerawatkah? Oh ternyata, kata Lastri ajudan Fani, takkan pernah ada. Kami lega.
Itu baru rambut, belum lagi mata, hidung, dagu, pipi, serta bibir dan giginya. Artis Tamara, Luna Maya, Dian Sastro, atau Paris Hilton, tak sebanding kawan. Jangan samakan Fani dengan selebritis yang kerap celebrate itu. Tak sepadan. Setidaknya pendapat ini masih dianggukkan banyak para cowok di sekolah kami. Fani, Fani, dan Fani.
“Fani benar-benar memiliki chemistry yang sesungguhnya,” ungkap kami.
Begitu juga Irfan yang tak pernah lupa memikirkan Fani. Agonia cinta Irfan kepada Fani memang berat dan tragis. Setidaknya kata ini sering kami ungkapkan untuk menggambarkan betapa Irfan tak bisa hidup tanpa Fani. Sejak Fani menginjakkan kaki ke sekolah kami, Santi dan antek-anteknya tak lagi dilirik para cowok. Aku paham betul kenapa Santi dieliminasi dalam iven yang bernama perebutan cinta dan kecantikan.
Irfan yang memang memiliki tongkrongan keren, baik tampang maupun yang mendukung tampang, seperti kendaraan, merk baju, sepatu, handphone, dan sepadannya tak perlu buang waktu lama untuk menjemput Fani ke dalam pelukannya. Cukup dua minggu lebih dua hari, Irfan dan Fani sudah seperti jalak dan kerbau. Simbiosis mutualisme, saling menguntungkan.
Berkat kami, tentunya keberhasilan Irfan menggaet Fani. Namun dalam benakku, bukannya aku sombong, akulah faktor penentu keberhasilan itu. Tanpaku Irfan bak macan ompong yang hanya mampu mengaum tapi tak bernyali menggigit.
“Alamak, tanpaku kau tak apa-apa,” lirihku.
“Chemistryku jauh di atas Irfan sesungguhnya,” bisikku mantap.
***
Dan sekarang, setelah Fani mencampakkannya, giliran aku yang dimakinya. Sialan benar Irfan di mataku saat ini.
Bak jalak dan kerbau, setelah jalak kenyang ia akan terbang tinggi dan meninggalkan kerbau yang masih sibuk mengurusi kutu-kutu yang tersisa serta pedihnya bekas patukan si unggas. Begitu pula Fani. Hanya sepekan simbiosis mutualisme berjalan, lebihnya Fani benar-benar berubah parasit jadi kutu pada Irfan. Tapi tetap saja Fani masih manis. Ini tak merubah simpulanku.
Sejak kejadian di pantai Irfan dan aku jarang bersua. Padahal kami sekomplek, sekelas, dan sama-sama sering ke wc pada jam pelajaran. Irfan berang padaku karena aku menawarkan Wati si big, sebagai pengganti Fani. Yah, waktu itu aku kehilangan akal, siapa lagi yang akan aku tawarkan untuk Irfan. Pada sisi lain aku selalu didesak untuk segera dan dalam tempo sesingkat-singkatnya harus menemukan Fani yang kedua. Kalau tidak Irfan akan memutuskan pertemanan kami. Aku tak mau ambil akibat itu.
Nyatanya Irfan menolak mentah-mentah sebelum bertemu Wati. Mendengar namanya saja dia mual dan menggigil, begitu katanya waktu itu. Apalagi harus merentangkan kedua tangannya dan menyambut Wati ke dalam pelukan Irfan. Oh my god, no! itu katanya dulu.
***
Adi, Rusli, dan Ika terbahak-bahak mendengar ceritaku. Mereka juga menepuk-nepuk bahuku. Kisah ini kuceritakan pada mereka, orang-orang yang ikut serta memenangkan Irfan menggaet Fani waktu itu, tapi tidak untuk Wati.
“Apakah aku salah? ” tanyaku.
“Salah sih nggak, tapi keliru dodol,” kata Rusli.
“Dasar bencong, gak bisa bedain mana yang aduhai dan mana hancur, hahaha,” sela Adi.
“Tapi Wati juga manis kok, setidaknya ia punya jari jempol semua.” Belaku.
“Itu dia chemistrynya, hahaha” kata mereka serempak.

Diplomasi atau Konfrontasi?

Banyak cara dalam menyelesaikan suatu masalah yang sedang dihadapi. Salah satunya dengan mengedepankan diplomasi dalam proses pencarian solusi. Demikian pula yang ditawarkan Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam pidatonya di Markas Besar TNI di Cilangkap Jakarta, Rabu (1/9) malam lalu, menyangkut hubungan yang kian menegang antara Indonesia dengan Malaysia.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat, diplomasi didefinisikan dengan 1 urusan atau penyelenggaraan berhubungan resmi antara satu negara dan negara yang lain; 2 urusan kepentingan sebuah negara dengan perantaraan wakil-wakilnya di negara lain; 3 pengetahuan dan kecakapan dalam hal perhubungan antara negara dan negara; 4 kecakapan dalam menggunakan pilihan kata yang tepat bagi keuntungan pihak yang bersangkutan (dalam perundingan, menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat, dsb).
Selain diplomasi tentu ada jalan lain yang bisa ditempuh dalam mencari solusi. Manyangkut hubungan Indonesia dengan Malaysia, banyak pendapat beredar jalur diplomasi tak efektif lagi. Banyak pula pendapat yang menawarkan konfrontasi dengan Negeri Jiran tersebut tak ada salahnya. Kenapa tidak melakukan cara yang pernah dilakukan Presiden Soekarno tempo dulu? Berkonfrontasi dengan Malaysia.
SBY memilih jalur diplomasi dalam menyelesaikan sengketa antara Indonesia dan Malaysia dengan banyak pertimbangan. Salah satunya mempertimbangkan kepentingan nasional serta citra dan jati diri bangsa Indonesia yang bermartabat di mata dunia internasional. Menurut SBY, Indonesia menjadi contoh negara yang mampu menyelesaikan suatu masalah dengan damai oleh negara lain. Sebagai contoh, setiap keputusan dan tindakan yang akan dilakukan memang harus ekstra hati-hati dan meminimalisir aksi-aksi yang mengarah kepada tindakan kekerasan serta mengedepankan emosi semata.
Kedua negara pada dasarnya saling membangun kerja sama yang saling menguntungkan. Sekitar 2 juta jiwa rakyat Indonesia berada dan bekerja di Malaysia, serta sekitar 13 ribu pelajar dan mahasiswa Indonesia sekolah di Malaysia. Begitu pula sebaliknya. Malaysia membutuhkan tenaga kerja baik domestik maupun bidang perkebunan, serta tempat berinvestasi di Indonesia. Walaupun begitu, sengketa dan permasalahan tetap menggerogoti kedua negara apakah menyangkut perbatasan negara, klaim ini itu, serta saling tuduh culik-culik ikan di laut yang entah siapa tuannya.
Sayup-sayup terdengar kabar, Malaysia siap menghadapi ancaman baik yang datang dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Subjektif penulis, negara tersebut siap berkonfrontasi atau perang. Nah, bagaimana dengan Indonesia? SBY yang berpidato di depan ratusan bahkan ribuan perwira TNI tak sedikit pun menyinggung-nyinggung kesiap-siagaan baik tentara maupun persenjataan di tanah air. Tenang dan berwibawa, SBY menyampaikan pidatonya dengan inti menyelesaikan sengketa ini di atas meja perundingan atau diplomasi.
SBY sebagai kepala negara sekaligus yang menjalankan roda pemerintahan memang sifatnya tak mau mengeluarkan statement yang memicu terjadinya instabilitas nasional. Isi pidatonya terkesan normatif dalam menanggapi ketegangan yang dihadapi kedua negara yang sedang bertikai. Diksi dalam berdialektika digunakan secara halus dan menenangkan. Orang-orang menyebutnya pintar beretorika. Seolah-olah tak terjadi apa-apa antara Indonesia dan Malaysia.
Namun sampai kapan cara seperti ini efektif digunakan? Masyarakat geram dengan sikap Malaysia. Ini bukan lagi masalah bilateral, tak lagi masalah negara serumpun, tapi masalah satu kawasan dan tak salah melibatkan negara lain di ASEAN sebagai perantara dalam penyelesaiannya. Bukankah Indonesia pernah terlibat menyelesaikan sengketa antara Vietnam dan Kamboja. Menghadapi Malaysia harus tegas, jalur diplomasi sudah buntu, surat SBY tak dihiraukan, dan jangan lagi memberi lampu hijau kepada negara tersebut.
Indonesia jika ingin mengedepankan citra dan jati diri yang bermartabat, sebaiknya tak selalu adem ayem dalam menyelesaikan masalah. Politik luar negeri yang bebas dan aktif tidak hanya untuk negara lain, namun bagaimana pula menerapkannya secara aktif dalam proses penyelesaian dengan Malaysia. Setidaknya Pak Presiden dan pemerintah lebih tangkas dan tegas menyelesaikan permasalahan ini. Tidak menunda-nunda waktu. Kalau tidak, bisa jadi lemparan-lemparan kotoran manusia akan semakin banyak bertebaran dan (mungkin) inilah jati diri bangsa kita.

Mudik, Eksodus yang Membudaya

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita di tanah air, seminggu menjelang Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, masyarakat kita berbondong-bondong mudik, pulang ke kampung halaman guna merayakan Lebaran bersama dengan keluarga besar. Mudik menjadi sesuatu yang, kebanyakan, wajib dilakukan. Miskin kaya, tua muda, besar kecil, merayakan mudik penuh suka cita. Jika tidak, ada sesuatu yang kurang lengkap ketika merayakan Hari Kemenangan tanpa saudara, sanak famili, atau keluarga besar.
Hampir setiap tahun, detik-detik menuju tanggal 1 Syawal, di seluruh penjuru tanah air perpindahan secara besar-besaran penduduk (eksodus) dari rantau menuju ke kampung halaman menjadi suatu kemenarikan untuk disimak. Seminggu sebelum dan setelah Lebaran, mudik selalu menjadi bahan perbincangan tak habis-habisnya, baik di surat kabar maupun di tempat-tempat lainnya.
Setiap tahun pula pemerintah memfokuskan diri dalam penyelenggaraan bagaimana mudik yang aman, lancar, dan terkendali. Jasa transportasi massal darat, laut, dan udara menambah fasilitas guna memenuhi kebutuhan masyarakat mudik yang melonjak tinggi. Di mana-mana jalan diperbaiki, posko-posko mudik didirikan pada tempat-tempat yang tidak biasanya, lembaga-lembaga non pemerintah lebih bergiat membantu para pemudik baik dari segi kesehatan, keamanan, dan lainnya.
Di Indonesia mudik sudah menjadi budaya. Uniknya, hal ini terjadi secara besar-besaran hanya di tanah air. Euforia mudik terasa begitu kental di setiap kampung, desa, serta kota. Desa-desa yang sebelumnya sepi, tiba-tiba ramai dan semarak oleh orang-orang rantau. Kampung-kampung yang dulu ‘termarginalkan’ seketika gegap gempita diramaikan oleh orang-orang yang baru pulang dari tanah seberang. Setiap sudut, setiap kedai, ada saja orang baru yang baru datang dari rantau.
Mudik, menjadi simbol kedigdayaan peran Lebaran di nusantara. Hal ini tentu berkaitan dengan Indonesia, negara Islam terbesar di dunia. Perayaan Idul Fitri menjadi momentum tersendiri untuk berkumpul, bercengkerama, serta bermaafan satu dengan lainnya. Jika jarak selama ini menjadi penghalang untuk bertemu muka, maka Lebaran adalah satu-satunya jalan untuk bersua. Tak ada lagi alasan untuk tak pulang kampung. Berbagai upaya agar mudik tetap berjalan. Apakah itu menyewa mobil bersama, hanya dengan kendaraan roda dua, ataupun lainnya. Semua dilancarkan dengan menepikan alasan-alasan. Pokoknya tahun ini kita mudik.

Demam Korea

Merebaknya kegemaran anak muda atau remaja Indonesia akan artis-artis kawakan dari Negara-Negara Matahari Terbit seperti Cina, Jepang, ataupun Korea, memberikan keasyikan tersendiri untuk disimak. Berawal dari kegandrungan mengikuti serial filmnya baik di televisi maupun membeli VCDnya, hingga meniru gaya sang idola.
Tak sampai di situ, untuk mengikuti sepak terjang sang aktor dan aktris dalam kehidupan sehari-hari, tak sedikit remaja bela-belain membeli majalah yang memuat idola mereka atau bahkan mengaksesnya di dunia maya, salah satunya mem-follow sang idola pada jejaring sosial seperti twitter ataupun facebook.
Dari sekian banyak aktor dan aktris tersebut, aktor yang berasal dari Korea lebih mendapat tempat. Genre musik dan style tersendiri dari personilnya kelihatan lebih menarik dari yang lain. Mulai dari penampilan aksi panggung sang idola, keterlibatan idola dalam sebuah talk show versi Korea, dan berbagai iven lainnya yang mengikutsertakan sang idola. Walaupun subtansinya hanya sekedar lucu-lucuan. Sang idola dan pemandunya kebanyakan hanya mengadakan acara semacam games yang membuat penonton tertawa.
Demam Korea pun merebak ke Sumatra Barat. Tidak sedikit remaja di Kota Padang menggandrungi band-band asal Korea serta performancenya di atas panggung. Selain mengoleksi lagu-lagu dan videonya, jangan heran ada juga yang mengoleksi foto-foto sang idola. Tidak sediki pula yang mencoba mempraktikkan pola tari serta lagu dari sang idola.
Lalu apa yang didapat dari deman Korea ini untuk para remaja? Menguntungkankah atau sebaliknya. Berkaca kepada apa yang telah terjadi, yang didapat dari deman Korea, pertama memuaskan keinginan menonton, melihat, dan mengamati sang idola dengan segala aktingnya. Memang jika memandang dalam segi ketampanan dan kecantikan, terlepas apakah mereka sudah menjalani operasi plastik atau tidak, orang-orang Korea ataupun sejenisnya jauh lebih menarik dari negara lainnya. Wajah orientalis mereka memang menggemaskan, bahasa remajanya ‘cute’, ‘imut’ dan sepadannya.
Film-film, lagu, dan sebagainya yang berasal dari sang idola, jika ditonton kadang melahirkan sebuah kecanduan tersendiri untuk ingin selalu disimak hingga tamat. Remaja atau penonton secara tak langsung patuh mengikuti setiap seri dari serial film sang idola. Dampaknya, jika tak hati-hati dan cermat, kegiatan ini tentu hanya membuang-buang waktu remaja. Hal ini dikarenakan tidak banyak yang ditampilkan oleh sang idola yang mengandung nilai-nilai edukasi, seperti kearifan budaya Korea, sistem sosial di sana, ataupun lainnya.
Dengan demikian, tak salah jika seorang remaja demam Korea. Namun jika sampai melalaikan belajar, kegiatan bersama dengan teman-teman atau bahkan orang tua, akan menjadi sebuah trouble yang perlu segera dicarikan way outnya. Selain itu, demam Korea di tanah air ataupun di Ranah Minang, juga memberikan tantangan tersendiri bagaimana trik jitu agar band-band tanah air atau sejenisnya juga mampu merebut hati remaja untuk lebih ‘cinta’ dan tertarik pada mereka. Bagaimanapun juga mencintai ‘produk’ tanah air jauh lebih penting, bermakna, dan sangat nasionalis daripada berpaling ke ‘produk’ negara lain.

Tuesday, 28 September 2010

Jilbab: Religiusitas, Pilihan Busana, Hingga Pluralisme


Judul : Psychology of Fashion; Fenomena Perempuan [Melepas] Jilbab
Pengarang : Juneman
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Tebal : xxxvi + 398 halaman
Cetakan : Pertama, Juli 2010
Harga : Rp 72.500,-
Resensiator : Adek Risma Dedees, mahasiswa Sastra Indonesia BP 2007 UNP


Ini salah satu buku yang mengupas secara tuntas fenomena perempuan Islam melepas jibab. Jika buku senada sebelumnya lebih banyak dikupas oleh penulis yang ahli hukum Islam dan biasanya dipandang dari perspektif Islam, berbeda dengan Juneman yang justru membahasnya dari sudut pandang psikologi. Pembahasannya tentu berbeda pula. Memahami agama dari banyak sudut pandang jelas akan lebih memperluas wawasan serta menuntun seseorang untuk lebih bijak dan arif dalam merespon setiap putusan, sifat, dan sikap pemeluk agama terhadap agamanya.
Meningkatnya jumlah perempuan Islam memakai jilbab di Indonesia, tidak terlepas dari peran para ulama yang mengampanyekannya kesetiap penjuru kota, desa, dan kampung. Semakin hari jumlah ini semakin banyak. Tidak sedikit pula para selebritis menggunakan jilbab di layar kaca. Entah memang akan selalu memakai jilbab atau hanya untuk saat-saat tertentu saja.
Berbagai alasan pula perempuan Islam memakai jilbab, apakah itu karena alasan teologis, aturan pemerintah daerah, psikologis, pilihan busana, hingga kepentingan politis lainnya. Setiap orang tentu bebas menantukan pilihannya, termasuk di sini apakah seseorang akan menggunakan, menanggalkan, atau justru tergantung konteks dimana seseorang akan menggunakan jilbab dan tidak berjilbab. Setiap pilihan atau putusan mengandung resiko tersendiri. Bagaimana pun juga, menghargai setiap putusan dan pilihan tersebut harus dihormati dan dihargai dengan arif pula.
Tidak sedikit perempuan Islam memutuskan berjilbab setelah melalui perjuangan yang panjang dan memahami kaidah Islam kemudian memutuskannya itulah pakaian yang diwajibkan Islam. Sebagian lagi memakai jilbab karena Peraturan Pemerintah Daerah yang mengharuskannya memakai jilbab. Selain itu, memakai jilbab juga dikarenakan alasan psikologi, orang-orang di sekitarnya memakai jilbab sehingga merasa tidak nyaman jika tak berjilbab. Ada lagi berjilbab dengan alasan modis, lebih anggun, dan cantik jika berjilbab. Jangan heran, masa sekarang semakin banyak dibuka toko-toko busana muslim dan butik yang memamerkan pakaian muslim dengan trendi. Sementara itu, berjilbab dengan alasan politis sebagai pemenuhan akan tuntutan kelompok Islam tertentu yang fanatik dengan simbol-simbol agama.
Menurut Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, M.A., A.P.U, pendiri Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ) Departemen Agama (2008), membagi pendapat ulama ke dalam tiga kelompok. Pertama, pendangan yang mewajibkan perempuan dewasa menutupi seluruh tubuhnya, termasuk wajah dan tangan, bahkan juga bagian mata. Kedua, pandangan yang mewajibkan perempuan dewasa menutupi seluruh tubuhnya, kecuali bagian muka dan tangan. Ketiga, pandangan yang mewajibkan perempuan dewasa menutupi tubuhnya, selain muka dan tangan hanya ketika melaksanakan ibadah salat dan thawaf. Di luar itu, perempuan boleh memilih pakaian yang disukainya, sesuai adab kesopanan yang umum berlaku dalam masyarakat. Rambut kepala bagi kelompok ini bukanlah aurat sehingga tidak perlu ditutupi.
Pandangan di atas merupakan ijtihad dari para ulama. Ketiga pandangan itu sama-sama merujuk kepada kitab suci Al-quran dan sama-sama mengklaim diri sebagai pandangan Islam yang benar. Perbedaan pandangan tentang busana perempuan dipengaruhi oleh perbedaan pandangan atas perbedaan batasan aurat perempuan. Sebagai hasil ijtihad, pandangan tersebut relatif dan nisbi, serta dapat diubah, jadi bisa saja benar dan bisa saja salah.
Sesuai dengan judulnya, buku ini memuat berbagai pengalaman perempuan Islam yang memakai maupun menanggalkan jilbabnya. Berbagai pula alasan mereka memutuskan pilihan tersebut disertai dengan pemikiran ilmiah mereka. Sang penulis, seorang sarjana psikologi, memandangnya dalam sudut psikososial filosofis yang unik, berbeda, dan menarik untuk disimak.
Alumnus Universitas Indonesia ini juga menampilkan kisah-kisah menggugah bagaimana pergulatan kepercayaan seorang perempuan Islam yang taat dan fanatik dengan agamannya kemudian dengan sikap terbuka menanggalkan jilbabnya. Tari, Intan, Wina, dan Lanni adalah bagian kecil dari perempuan Islam yang sebelumnya taat berjilbab kemudian memutuskan menanggalkan jilbabnya dengan berbagai alasan. Mulai dari latar belakang keluarga yang agamais, sekuler, pluralis, hingga biasa-biasa saja.
Membaca kisah empat perempuan Islam dalam buku Juneman ini menggugah kita bagaimana memandang dan menghargai putusan dan pilihan orang lain dengan lebih arif dan bijak. Seseorang yang tidak berjilbab belum tentu memikili moral buruk dan tidak beragama, begitu juga sebaliknya, perempuan berjilbab. Tari lebih memilih menjilbabkan hatinya daripada badannya. Intan memandang jilbab sebagai salah satu keberagaman manusia di Indonesia dan dunia, Wina dan Lanni justru merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta ketika telah menanggalkan jilbabnya.
Buku ini selain membahas bagaimana perempuan Islam menanggalkan jilbab dalam perspektif psikososial, juga menyuguhkan berbagai kisah dan pendapat dari kalangan yang berbeda pula. Afrizal Malna, penyair, memandang agama akan lebih indah ketika mampu memberi ruang terhadap konflik-konflik, seperti fenomena menanggalkan jilbab, sebagai perjalanan otensitisitas keimanan seseorang. Buku ini tidak relevan untuk dinilai ‘bagus’, ‘buruk’, ‘keliru’, ‘menyesatkan’, atau sebagainya, namun jauh lebih penting digunakan sebagai bahan dialog secara kontinu tentang fenomena memakai dan melepas jilbab di sekitar kita.

Monday, 30 August 2010

Miras Oplosan di Balik Jamu Tradisional

Hampir setiap bulan nyawa pemuda melayang sia-sia dikarenakan mengonsumsi minuan keras (miras) oplosan di tanah air. Baru-baru ini tak kurang 12 pemuda meninggal setelah menenggak miras oplosan di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Tidak hanya itu, rentang waktu Mei hingga Agustus 2010, di Cirebon meninggal 12 orang, di Blitar meninggal 9 orang (Pro 3 RRI, 25 Agustus 2010), dan masih ada beberapa korban lagi meregang nyawa ataupun sekarat di rumah sakit setelah menenggak minuman ini.
Miras oplosan adalah racikan atau campuran yang kebanyakan dari jamu tradisional -ada juga miras dicampur bodrex- kemudian ditambah alkohol dengan kadar hanya dikira-kira oleh si penjual. Produk ini dibuat secara mandiri oleh perorangan ataupun kelompok di rumah (home industry). Tak ada pelatihan-pelatihan khusus sebelumnya. Peracik hanya mengira-ngira takaran alkohol yang akan dicampur dengan jamu, apakah itu jamu pegal linu, jamu kuat, ataupun lainnya.
Bagi masyarakat awam, yang pengetahuan tentang kesehatan masih minim, minuman ini seperti tak mengancam kesehatan sama sekali. Hal ini karena memang, jamu lebih identik dengan minuman kesehatan serta kebugaran. Kalimat orang-orang yang meminum jamu adalah orang-orang yang lebih peduli dengan kesehatan, sejak tempo dulu hingga sekarang melekat kuat di benak kita. Tak peduli apakah jamu tersebut diracik dengan takaran atau kandungan yang tepat atau tidak. Termasuk dengan miras oplosan ini.
Transaksi minuman ini kerap pula terjadi pada penjual-penjual jamu di tempat-tempat yang mudah dijumpai. Tak ada lokasi khusus sebagai tempat penjualan miras oplosan. Antara penjual dan pembeli pun sama-sama mengerti. Biasanya minuman ini dijual tidak dipamerkan begitu kentara, namun lebih tersembunyi pada penjual jamu. Kebanyakan pemuda atau pembeli membelinya seperti membeli es cendol dan dibungkus plastik. Terkesan minuman tidak berbahaya.
Minuman ini pun mendapat sambutan dari pembeli, kebanyakan dari kalangan pemuda. Dalam beberapa situasi pemuda kerap meminum minuman ini tanpa sebelumnya mempertimbangkan akibatnya. Beberapa penyebab pemuda menenggaknya, misal hanya untuk kesenangan semata atau hiburan ringan dan murah meriah sesama pemuda, melepaskan tekanan dari keadaan sekitar seperti tekanan ekonomi, ataupun lainnya.
Miras oplosan, yang saat ini memakan banyak korban, sekali tumbang rata-rata puluhan orang, menjadi ancaman kematian baru setelah ancaman dari ‘si ijo’ tabung elpiji 2-3 kg. Menyayangkan sekali jika jumlah penduduk berkurang dengan peristiwa-peristiwa yang bisa disebut sebagai kelalaian. Korban miras oplosan adalah salah satu bukti kelalaian stakeholder yang berkecimpung di sana. Tidak hanya masyarakat; penjual dan pembeli, namun juga elemen-elemen lain, seperti departemen kesehatana, Badan Pengawas Obat dan Minuman (BPOM), maupun DPR/DPRD kota dan provinsi.
BPOM seharusnya lebih ketat lagi mengawasi penyebaran minuman yang sejenis di kalangan masyarakat. Produk yang asli dan palsu perlu ditegaskan agar masyarakat tak lagi menjadi tumbal atas kelalaian. Begitu juga dengan departemen kesehatan dan DPR/DPRD agar lebih ketat dalam meregistrasi produk-produk baru yang bahan dan kadarnya sesuai dengan kebutuhan serta kesehatan. Regulasi atau peraturan yang dibuat di daerah tingkat I dan II dalam bentuk Peraturan daerah (Perda) pelaksanaannya perlu dimaksimalkan. Perda Pelarangan Mengonsumsi Minuman Keras, bisa dikatakan hanya mereknya saja. Implementasinya jauh dari yang diharapkan. Sanksi dengan efek jera harus dilaksanakan bagi si pelanggar agar nyawa manusia yang melayang di negeri ini tidak sia-sia lagi.

Giliran Pulau Dewata ‘Memberontak’


Judul : Ajeg Bali: Gerakan, Identitas Kultural, dan Globalisasi
Pengarang : Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA.
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Tebal : xxvi + 550 halaman
Cetakan : Pertama, Juni 2010
Harga : Rp 120.000 ,-
Resensiator : Adek Risma Dedees, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia BP 2007 UNP



Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk memerdekakan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak asing lagi terdengar di telinga kita. Begitu juga dengan Gerakan Papua Merdeka (GPM) di Pulau Kangguru tersebut. Beberapa tahun silam sayup-sayup terdengar Gerakan Riau Merdeka (GRM), motifnya sama, ingin memerdekakan diri dari NKRI. Pascameletusnya Bom Bali I Oktober 2002 di Legian Kuta, slogan Ajeg Bali riak-riak muncul ke permukaan. Apakah Ajeg Bali sama dengan gerakan-gerakan sebelumnya?
Istilah Ajeg Bali mengandung makna pejantan dan bermuatan militeristik. Berawal dari sikap nasionalisme yang terus dikumandangkan pada zaman Orde Baru oleh Presiden Soeharto. Pada zaman ini identitas kedaerahan mulai bersanding dengan identitas nasional. Promosi pariwisata Bali sebagai pariwisata budaya yang bernafaskan agama Hindu telah melahirkan cara pandang baru bagi masyarakat Bali untuk melihat dan memahami jati dirinya. Sehingga Bali pun sukses dengan identitas budayanya.
Sejalan dengan hal itu, kebijakan rezim Orde Baru yang berkuasa dan mengutamakan pembangunan ekonomi, yang di Bali tampak dalam wujud nice object tourism dan mass-tourism, Bali pun dieksploitasi secara besar-besaran dalam waktu yang relatif singkat dan cepat. Bali dengan keeksotikannya langsung disulap menjadi ‘lumbung’ perekonomian tanah air. Pemerintah dan investor berbondong-bondong membangun Bali. Dimana-mana dibangun berbagai tempat pariwisata, sang pendahulu Presiden Soekarno pun jauh hari telah membangun Istana Tampaksiring di sana.
Apakah masyarakat Bali senang dan bangga? Lebih-lebih memasuki era modernisasi dan globalisasi. Di balik semua itu justru menimbulkan kegelisahan baru. Orang Bali merasa terasing di tanahnya sendiri. Banyak lahan pertanian milik petani berubah fungsi menjadi resort wisata. Pengaruh pariwisata, seperti komersialisme budaya dan desakralisasi (penghilangan kesakralan) membuat orang Bali semakin kehilangan, tidak hanya tanahnya, namun berangsur-angsur jati dirinya.
Penulis menjabarkan dalam buku ini faktor pembangunanisme dan modernisasi mengakibatkan tergusurnya sebagian tradisi, atau tetap bertahan namun mengalami relikisasi sehingga suatu tradisi tetap hidup meski mengalami pendangkalan makna, bahkan bergeser ke arah kenikmatan badaniah. Aspek spritualnya menjadi tidak dihiraukan lagi. Begitu pula dengan refleksivitas terhadap penjaga tradisi bisa mengakibatkan peran mereka (orang Bali) tergusur atau mengalami krisis legitimasi. Setiap perubahan bisa menimbulkan masalah dengan tradisi lainnya, karena secara fungsional setiap unsur kebudayaan saling berkaitan dengan unsur kebudayaan yang lain.
Perubahan terjadi dan kemudian menggusur suatu tradisi, namun di sisi lain tradisi yang akan menggantikan tradisi yang telah tergusur belumlah matang, membiasa, tidak sesuai atau bahkan tidak nyambung secara sistemik dengan tradisi atau norma yang telah ada pada masyarakat. Pegangan tradisi atau norma pun labil. Tak jelas, tradisi mana yang harus dipakai. Manusia pun hanyut dalam ketidakpastian asas normatif yang akut dan menimbulkan situasi dilematik. Dalam situasi seperti ini peluang timbulnya perilaku menyimpang sangat besar dan semakin jauh dari sendi-sendi kehidupan beragama. Hal inilah yang tengah dihadapi masyarakat Bali, dan sebenarnya juga pada masyarakat lain di tanah air.
Modernisasi dan globalisasi yang mengakibatkan masyarakat Bali mengalami perubahan sosial budaya yang hebat dan kompleks, lengkap dengan aneka penyakit masyarakat yang menyertainya. Bahkan yang tidak kalah pentingnya, modernisasi dan globalisasi dapat pula mengancam identitas masyarakat Bali. Buku ini mencoba memaparkan secara mendalam, luas, dan holistik sehingga kita dapat memahaminya secara lebih utuh apa yang dimaksud dengan Ajeg Bali.
Walaupun demikian, apa yang dipaparkan buku ini memang lebih banyak melihat perubahan sosial budaya yang berdampak negatif dan atau memunculkan berbagai masalah yang tidak diinginkan masyarakat Bali seperti peristiwa Bom Bali I dan II. Pemaparan seperti ini sengaja dilakukan untuk menyadarkan pembaca, bahwa gerakan Ajeg Bali yang terkait dengan pemertahanan identitas kultural orang Bali, tidak saja penting, tetapi juga merupakan sesuatu yang mendesak, keharusan bagi keberlangsungan hidup masyarakat dan kebudayaan Bali.
Melalui buku ini baru kita sadari ternyata di balik keelokan, kemegahan, serta keterpanaan orang-orang terutama pengunjung terhadap tanah dan budaya Bali, tersimpan sebuah pergolakan identitas pada masyarakat Bali. Pergolakan yang tak lagi ingin dieksploitasi, pergolakan yang tak lagi ingin ‘menjadi’ bagian modernisasi atau globalisasi yang justru menjadi bumerang bagi tanah dan budaya Bali.
Pergolakan identitas seperti itulah yang dibahas dalam buku ini secara detail dan komprehensif. Buku kategori sosial humaniora ini terkesan memiliki bahasan yang ‘berat’ dan cukup serius. Namun jika telah dibaca paragraf demi paragraf kesan itu pun berangsur-angsur terkikis. Justru pembaca akan merasakan seperti tengah membaca buku-buku yang banyak membahas gaya hidup atau lifestyle, bahasanya sederhana, lugas, dan banyak menampilkan istilah-istilah bahasa Bali lengkap dengan artinya. Hal ini tentu akan menambah pemahaman pembaca tentang kosa kata Bali.

Berbagi Itu Menyenangkan

Rino dan Eko sejak kecil sudah berteman. Rumah mereka berdua pun saling berdekatan. Setiap hari mereka ke sekolah dan bermain bersama. Tidak hanya di rumah, di sekolah pun juga bersama. Mereka dekat seperti adik dan kakak. Ibu Rino dan Ibu Eko saling berkunjung dan akrab seperti Rino dan Eko pula.
Suatu hari Rino dibelikan oleh ayahnya berbagai macam permainan. Ada mobil-mobilan, ada kereta api, dan pedang ksatria. Rino sangat senang dengan pemberian ayahnya itu. Ia lalu menceritakan hal tersebut kepada teman-temannya di sekolah termasuk Eko. Namun teman-teman Rino belum pernah melihat aneka permainan tersebut.
Hari itu Eko pulang sendiri dari sekolah. Tidak dengan Rino. Sejak Rino memiliki permainan baru, Eko jarang bermain bersama dengan Rino. Rino lebih memilih bermain sendiri dan tak pernah mengajak Eko. Eko pun tak tahu penyebab Rino enggan bermain dengannya.
“Seperti apa sih aneka permainan Rino?” kata Eko dalam hati.
“Kenapa Rino tak mau memperlihatkannya padaku?” ucap Eko.
Waktu itu Ibu Eko sedang memasak sup ayam kesukaam Eko. Seperti biasanya, Ibu Eko akan memberikan semangkuk sup ayam kepada Ibu Rino. Eko pun meminta izin kepada Ibunya agar ia bisa ikut ke rumah Rino bersama Ibunya. Ibunya pun terheran-heran.
“Bukankah setiap hari Eko dan Rino selalu bersama?” kata Ibu Eko.
“Sudah tiga hari belakangan tidak lagi Bu,” sahut Eko dengan murung.
“Mmm..baiklah,” jawab Ibu Eko.
Sesampainya di rumah Rino, Ibu Eko langsung ke dapur bertemu Ibu Rino. Eko di ruang tengah sedang memperhatikan Rino asyik bermain dengan aneka permainannya. Eko menyapa Rino, tapi Rino hanya diam.
“Wah bagus mobil-mobilannya,” kata Eko.
Rino tak berkata apa-apa. Tiba-tiba ketika Eko ingin memegang pedang ksatria kepunyaan Rino, Rino langsung melarangnya.
“Jangan sentuh pedangku!” kata Rino.
Eko terkejut dan langsung berlari ke dapur mencari Ibunya. Ibu Rino dan Ibu Eko pun terkejut dengan kedatangan Eko.
“Eko tidak bermain bersama dengan Rino?” Tanya Ibu Rino.
Eko menggeleng dan mengajak Ibunya segera pulang ke rumah.
Tiga hari kemudian, Rino bersama Ibunya berkunjung ke rumah Eko dan membawa sepiring rujak. Ibu Eko menyambut Ibu Rino dan Rino, tapi Eko hanya diam. Tiba-tiba Rino meminta maaf sambil mengulurkan tangannya kepada Eko karena sikapnya yang kurang terpuji. Rino mengaku merasa kesepian tanpa teman, walaupun permainannya banyak di rumah.
“Pedang ksatria tidak bisa bicara,” ucap Rino.
Rino berjanji mulai hari itu ia bersama Eko akan kembali berteman akrab dan bermain bersama.
“Eko boleh meminjam pedang ksatriaku,” kata Rino.
“Benarkah?” ucap Eko sambil tersenyum.
Mereka pun berangkulan dan tertawa bersama. Ibu Eko dan Ibu Rino pun tersenyum bangga.

Saturday, 7 August 2010

Antirokok dan Perang Kepentingan




Diawali dengan penampilan monolog oleh sastrawan Whani Darmawan, tentang asal muasal serta eksistensi perilaku merokok dalam kehidupan berbangsa di Tanah Air. Monolog menceritakan pertentangan Roro Mendut, penjual rokok di kalangan masyarakat dan pemerintah yang menentang kegiatan tersebut. Whani membawakannya begitu apik dan mengesankan. Audiens tidak hanya terperangah dengan monolog tersebut, di sisi lain juga cukup ‘hilang pegangan’, apakah setuju dengan pemerintah yang melarang merokok atau kepada Roro Mendut, dalam pandangannya merokok justru salah satu identitas bangsa Indonesia yang perlu dilestarikan.
Acara itu bedah buku Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat karya Wanda Hamilton. Wanda dalam buku ini mengungkapkan dengan gamblang dan sangat rinci tentang motif-motif yang mendasari larangan dan pembatasan produk tembakau ini. Hal ini seiring dengan karirnya, peneliti independen dan pengajar ditiga universitas terkemuka di Amerika. Wanda ‘menelanjangi’ Amerika tentang niat liciknya, ingin mengulang sejarah, menjajah negeri dunia ketiga dengan segala propaganda serta penelitian dan argumen yang dalam pandangan banyak orang, ilmiah.
Amerika begitu hebat membohongi dunia. Kebohongan itu diciptakan seolah-olah betul, objektif, dan ilmiah. Tak satu pun, jika tak jeli, dari kita yang mengetahui niat busuk tersebut. Kebenaran dalam pandangan Amerika hanyalah kebenaran menurut diri sendiri, kebenaran menurut orang banyak tak lagi dihiraukan, apalagi kebenaran menurut Maha Kuasa. Mental menjajah atau kolonial pun semakin tumbuh subur dari tiap generasi. Pembohongan besar dijejalkan kepada bangsa Indonesia dengan sangat mudah. Demikian Mohamad Sobari, budayawan, dalam diskusinya di depan sekitar 300 peserta baik pelajar, mahasiswa, budayawan, akademis, wartawan, dan lainnya di Teater Utama Taman Budaya Sumatra Barat, Rabu (28/7) lalu.
Hal ini sebelumnya ditekankan oleh Salamuddin Daeng, peneliti. Bagi Daeng, isu pembatasan mengosumsi rokok kemudian diikuti dengan fatwa haram terhadap rokok yang keluar Maret lalu, seharusnya tidak dilihat dari segi kesehatan semata, tapi juga telisik dari segi ekonomi politik. Sebab maupun akibatnya juga perlu dipandang lebih jeli lagi, bahwa ada kepentingan dari perguliran isu antirokok di tanah air.
Keterlibatan Indonesia dengan perundingan dan perjanjian-perjanjian baik bilateral maupun multilateral adalah salah satu cara bagi negara maju untuk mempengaruhi dan menguasai negara berkembang, dalam hal ini antirokok dan tembakau. Menurut Daeng, Amerika memandang Indonesia adalah salah satu negara pesaing penghasil tembakau di dunia. Dengan begitu Amerika menginginkan Indonesia menghentikan produksi tembakau dengan segala alasan-alasannya, yang kemudian Amerika akan menduduki Indonesia, sebagai pengekspor rokok dan tembakau. Penguasaan pasar internasional, imprealisme gaya baru yang kembali meningkatkan hutang dan ketergantungan Indonesia ke negara Amerika atau negara maju. “Politik ekonomi, inilah tujuan utama dari kampanye antirokok dan tembakau di tanah air,” jelasnya.
Padahal jika ingin melihat segi lain dari dunia tembakau di tanah air sangatlah mengkhawatirkan. Tembakau: Segurat Sejarah, film pendek yang menceriterakan tembakau dan petaninya di Kabupaten Jember. Di tempat ini menanam tembakau sudah turun temurun dari satu generasi ke generasi lain. Ratusan ribu hektar lahan ditanami tembakau dan ratusan ton tembakau dipanem setiap musim panen. Tak heran Jember dikenal sebagai sentral tembakau di Tanah Air. Namun kehidupan petani tembakau tak selalu berbuah manis. Persaingan harga, kongkalikong para tengkulak, sengketa lahan dengan tuan tanah, serta lainnya, menjadi problematik tersendiri bagi petani tembakau. Namun demikian, petani tembakau tak bisa berpindah ke lain tanaman, karena mereka bergantung hidup dengan tanaman ini.
Ia menambahkan, berbagai perundingan internasional baik yang langsung berkaitan dengan tembakau dan rokok, maupun yang berhubungan dengan investasi dan perdagangan secara keseluruhan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, mutlak harus diwaspadai oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan sudah terlalu banyak sumbar daya alam Indonesia dikuasai oleh pihak asing, dan rakyat serta pemerintah Indonesia tak banyak berkutik. Mulai dari tambang minyak bumi, tambang batu bara, tambang emas, dan lainnya, tampuknya selalu dipegang bangsa asing. Kemudian yang didapat bangsa ini adalah sisa-sisa dari pertambangan tersebut, seperti produk yang kurang bagus, kerusakan lingkungan serta bencana-bencana yang ditimbulkannya. “Kalau tidak cermat kita akan kehilangan sensitivitas nasional,” kata Daeng.
Bagi M. Taufik, sosiolog, sudah saatnya bangsa ini jeli mencermati dan memandang segala keputusan dan kebijakan yang dibuat pemerintah. Keputusan yang dibuat pemerintah sarat dengan kepentingan ideologi tertentu. Penjajahan gaya baru dari bangsa asing, adalah penjajahan mainset atau pola pikir yang pada dasarnya telah merebak ke dalam kampus. Kondisi kekinian terkesan pendidikan tidak lagi memanusiawikan manusia, tetapi hanya untuk memenuhi pasar kerja.

‘Bahasa Gagap’ atau Gagap Berbahasa?

Sejarah perjalanan bahasa bangsa ini cukup panjang dan lama. Katakanlah berawal sebelum kemerdekaan dikumandangkan di tanah air, bangsa ini telah jauh hari merintis bahasa yang bisa dimengerti dan dapat digunakan oleh semua rakyat. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, benar adanya. Sumpah Pemuda ini dijadikan pijakan pertama akan pengakuan bahasa persatuan dan nasional yakni Bahasa Indonesia.
Sekitar 82 tahun kemudian, Bahasa Indonesia pun beradaptasi, kalau tak mau mengatakannya berubah, ke bentuk bahasa-bahasa yang kita kenal dewasa ini. Kalau dalam istilah akademisnya ada Bahasa Standar, Klasik, Artifisial, Vernakular, Pijin, serta Kreol. Jika melirik dalam bahasa di sekitar tempat tinggal kita, ada Bahasa Sleng atau Ken, Gaul, Jargon, dan sepadannya.
Kesemua variasi bahasa tersebut subur berkembang di sekitar kita. Mulai dari para siswa, mahasiswa, pegawai atau karyawan, pemuda-pemudi di lingkungannya, serta tak ketinggalan para waria dan banyak jenis profesi lainnya. Variasi bahasa tersebut diciptakan tentu tidak asal cipta dan tanpa tujuan tertentu. Setiap bahasa dalam beberapa buku sosiolinguistik, perannya tidak terlepas dari sang pencipta serta pemakainya untuk masa mendatang.
Sang pencipta dan pemakai bahasa berperan aktif sebagai penyebar variasi bahasa kepada pihak lain. Latar belakang sang pencipta dan pemakai adalah semacam ‘perwakilan’ dari apa yang mereka kerjakan. Sederhananya, refleksi diri dari si pemakai. Jika boleh diungkapkan dengan pribahasa, Bahasa Menunjukkan Bangsa.
Nah begitu juga dengan ‘bahasa gagap’ pada judul tulisan ini. Seorang teman bercerita akan ‘bahasa gagap’ yang marak di lingkungan remaja khususnya pada penulisan pesan pendek atau sms. Kategori bahasa ini tidaklah begitu ‘menggagapkan’, menurut remaja tentunya. Namun cukup memumetkan kepala, jika tak terbiasa. Sebagai contoh, /Lhu m0 M4Na?/, n3 z4 dkj4RkN cRp3nX/ atau Un!q t’ za kyuT. Bahasa seperti ini sering disebut bahasa gagap, karena ketika membacanya sedikit gagap jika tak terbiasa.

Belum lagi jika diperhatikan bahasa lisan atau percakapan sehari-hari. Ada beberapa kosa kata yang mengekori ujaran, semisal, …emang bener?/ …donk, denk/…ember/…capcay ah/ ...cape deh/ …lebay tuh/ …masa sehhh/ atau …itu mah IDL (itu derita lo) dan masih banyak lagi. Kosa kata ini pun semakin akrab di masyarakat. Ada semacam nilai rasa yang dikandung pada kosa kata tersebut yang ‘sahih’ dan harus digunakan. Tak heran jumlah pemakainya pun semakin meningkat, khususnya pada kalangan, katakanlah para siswa, mahasiswa, karyawan, pemuda pemudi dan sepadannya.
‘Bahasa gagap’ satu sisi memiliki kemenarikan tersendiri dalam perkembangan Bahasa Indonesia ke depannya. Bahasa ini menambah khasanah variasi Bahasa Indonesia. Perkembangannya pun tak bisa dibendung. Bermunculan dari berbagai tempat dan profesi tidak hanya di kota-kota besar. Selain itu, media massa cetak dan media elektronik, ikut serta menyebarluaskannya.
Sedangkan di sisi lain, bahasa ini bisa saja menjadi tantangan tersendiri bagi kelestarian dan kemurnian Bahasa Indonesia, khususnya Bahasa Indonesia resmi atau standar. Sebagai contoh, kebiasaan pemakai bahasa ini, akan terbawa-bawa dalam situasi resmi atau formal, tanpa disadarinya. Pemakaian bahasa jika tak sesuai dengan konteks, akan menimbulkan kerancuan makna dan nilai rasa bahasa yang tak menentu. Buktinya, sesekali coba perhatikan variasi bahasa yang digunakan oleh wakil-wakil rakyat di DPR atau DPRD sana. Faktanya sekarang, kita tidak hanya tergagap dari kenaikan sembako, dalam berbahasa pun sama halnya.

Thursday, 29 July 2010

Tiga Pengemis dan Lelaki Berpiyama


"Bocah itu, kemarin yang meminta-minta padaku.”
"Kamu kasih berapa?"
"Ogah ah, emang aku bodoh."
"Heheheh, kirain."
Sangat jernih kata-kata yang diucapkan bocah-bocah itu. “Minta duit Bang. Buk. Pak”. Anak-anak jalanan, mungkin juga tidak. Mereka, suka minta-minta pada orang-orang. Kadang di pasar, di terminal, di SPBU juga. Tak takut.
Pakaian seadanya. Celana pendek tambalan di paha, kaos oblong lusuh, dan kaki tak beralas. Kadang membawa plastik, isinya beras, dan macam lainnya. Kadang juga lenggang kangkung. Ketiganya laki-laki, belum beruntung. Si tua, sekitar 13 tahun, tengah, 10 tahun, dan yang kecil 8 tahun. Sama-sama plontos.
Hari itu, mereka di pasar. Awalnya, pagi hari tak bawa apa-apa. Celingak-celinguk di belakang orang-orang yang sedang jual beli. Tangan dibelit di belakang pinggang. Jalan beriringan. Jangan berpisah. Dan jangan takut nanti kalau tak makan. Sudah biasa. Kalimat terakhir, kalimat iseng dari kami.
“Kamu sering lihat mereka?” Tanya Arman padaku.
“Tiga kali. Di terminal, dan dua kali di sini.”
Sudahlah, lanjutkan saja apa yang akan kita beli pagi ini, pintaku pada Arman. Dia hanya mengangguk. Baru dua hari kami menginjakkan kaki di kampung ini. Aku dan Arman, mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) selama enam bulan dari salah satu perguruan swasta di kota kabupaten, 398 kilometer dari sini.
Aku sudah melarang Arman agar tak lagi mencurahkan perhatiannya pada si bocah yang lalu lalang di kerumunan orang pasar. Dan aku sudah jelaskan apa dan bagaimana tentang kehidupan si bocah ingusan pada temanku ini. Info yang aku peroleh, bocah-bocah ini anak piatu. Tak punya bapak. Sudah dua tahun katanya. Tetap saja teman satu kampusku ini mengekori bocah-bocah tersebut. Aku tak ambil pusing.
Aku lelah. Kami berhenti sejenak. Arman masih mencari si bocah dengan sudut matanya. Aku pun sibuk dengan es kelapa muda di tangan. Ah, biarlah. Nanti dia juga tak tartarik lagi, capek. Pikirku dalam hati.
“Kamu tahu nama-nama mereka?”
“Belum,” tolehku pada Arman.
“Aku mau kenalan dengan mereka,” ujarnya sambil menyeringai.
“Mending sama gadis desa di sini, Man. Lebih afdol,”
“Mana tau mereka bisa dijadikan teman,” alihnya.
“Teman apaan?”
“Disuruh beli rokok,” ucapnya sambil berlalu.
Aku diam saja. Tidak mengerti. Dan tak kuhiraukan.
***
Arman, temanku sejak tiga tahun lalu. Baru menginjak perguruan tinggi tersebut, aku telah mulai berkawan dengannya. Asal, ibu kota Jakarta. Sekolah Menengah Atas di Depok. Kota yang cukup rindang jika dibanding Jakarta. Sejuk, dan tempat berdirinya perguruan tinggi terbesar di Negeri ini, Universitas Indonesia. Itu cerita Arman padaku suatu waktu di musim ujian lalu.
Awal kuliah, Arman selalu menjadi acuan teman-temanku. Khususnya bahasa yang ia gunakan sehari-hari di kampus. Dialek Jakarta banget. Belum lagi pakaian dan sepatunya. Selain dari otaknya yang cukup encer juga keterampilannya memainkan alat musik, gitar, sebagai bassist. Cukup menghipnotis para gadis jika sedang manggung di atas panggung. Seperti Ariel ‘Peterpan’ kata teman gadisku, suatu hari dimusim lalu. Itu Arman di awal kuliah.
Sekarang, aku dan Arman, telah menginjak semester delapan. Banyak berubah, dan itu mungkin kesengajaan. Mengingat tuntutan kami jauh lebih besar dibanding tahun-tahun lalu. Menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang semakin banyak dan tentunya lebih berat. Belum ditambah dengan kegiatan-kegiatan lain, seperti pelatihan, seminar, dan temu-temu lainnya. Entah untuk apa. Sampai saat ini aku belum memetik manfaatnya.
Kini, sudah lima bulan aku tak banyak berkomunikasi dengan Arman. Tak seperti awal kuliah beberapa tahun lalu. Aku hanya bercakap dengannya jika ada keperluan penting saja. Atau hanya kebetulan. Aku lebih memfokuskan diri pada penyusunan tugas akhir kuliah. Kuambil penelitian bersifat kuantitatif, Arman kualitatif. Perbedaan yang signifikan, pikirku. Bahan dan referensi penyusunan tugas akhir pun tak bisa ditemukan pada satu tempat. Namun kami bisa disandingkan pada satu desa sewaktu KKN ini. Ini aneh bagiku.
Sebenarnya Arman tak butuh hal-hal yang berbau kuliah kerja nyata, magang, dan lain-lain. Toh tugas akhirnya bisa dikerjakan dengan tanpa cara ini.
“Tapi saya ingin jalan-jalan, dan nemenin kamu, suntuk!”
“Ini baru sohib,”
“Aku senang sekali, Man,” lanjutku.
Dan sampailah kami di desa ini.
Dulu, keseharian Arman setelah tidak lagi tergabung dengan teman-teman bandnya, hanya duduk di koridor jurusan kami. Duduk di sana, berlama-lama, dan betah sekali. Aku dengar dari beberapa teman lamaku perihal Arman. Walau aku tak bisa langsung bertemu muka dengannya, namun apa saja kegiatan yang ia lakukan, aku selalu tahu.
Setahuku, sejak kami telah jarang berkomunikasi, Arman semakin disibukkan dengan teman-teman mayanya. Sepertiga dari waktunya acapkali dihabiskan di depan komputer jinjing. Hampir setiap hari ia lakukan hal itu. Dengan sukacita ia selalu memberi kabar tentang dirinya dan menanyakan balik. Bercengkerama, berbagi cerita, dan saling mengirim pesan.
Arman kadang menceritakan kenikmatan berinteraksi dengan teman-teman mayanya kepadaku. Setiap ada kesempatan kami berjumpa, Arman menerangkan apa saja yang ia lakukan dalam dunia mayanya. Mulai dari perkenalan konyol sampai pada keinginan akan melamar seorang dari mereka. Namun dilain hari, Arman telah memutuskan mereka, bahkan menyumpahi. Hal ini tak asing bagiku. Begitulah Arman, di mataku.
***
“Man, tolong ambilkan asbak di kakimu,”
“Rokoknya habis ya,”
Aku mengangguk. Kutawarkan agar Arman membeli rokok lagi. Namun ia hanya diam. Melihatnya tak bereaksi, aku kembali pada bukuku. Kularutkan pikiran dalam tata kelola sebuah ruangan yang akan menjadi objek penelitian dari tugas akhirku. Tata kelola ruangan sebuah rumah megah abad 15. Peninggalan leluhur bangsa Indonesia yang sampai sekarang tidak dikenal banyak generasi. Generasi terlalu sibuk dengan dongeng tempo dulu yang indah dan jaya-jaya. Tapi lupa pada hakikat sebuah perjuangan.
Sebentar saja, pikiranku sudah melayang kemana-mana. Mulai dari teman-teman di kampus, orang tua, gadisku yang menjauh, dan berujung pada Arman. Kutolehkan pandangan pada tempat duduk teman sekampus ku ini, Arman tak di situ lagi. Kemana dia? Kubiarkan saja ia menghilang. Sebentar lagi matahari turun. pak tani yang biasa lewat pagi hari di samping rumah ini akan kembali lewat, pulang ke rumahnya. Arman akan kembali. Kupicingkan mata, mengingat masa indah dengan gadisku yang menjauh di sana dan terlelap.
Jam beker hitam, di atas meja bersama tumpukan buku-buku menunjukkan tepat pukul delapan malam. Aku baru terjaga dari tidur lelap dengan gadisku. Pandangan di luar jendela gelap. Tak ada bintang apalagi bulan. Kuangkat tubuh yang lunglai ini. Kubiarkan jendela menganga. Kebiasan baru kami di rumah ini. AC alam, terang Arman pada malam pertama kami menginap.
Mataku mencari-cari Arman. Sudah malam begini, di tengah desa sepi dan kerlap-kerlip lampu kecil, masih juga keluyuran. Apa yang dicari pukimae itu, umpatku. Berat hati, kuturunkan kakiku dari lantai rumah ini. Kususuri jalan setapak, tak lupa menutup pintu. Dengan bantuan senter baterai kumulai bergerilya mencari lelaki jalang di kampung ini. Begitu kunamai Arman malam itu. Sesekali kuberpapasan dengan orang-orang desa, kebanyakan bapak-bapak, berkain sarung dan berbaju panjang lengan. Itu saja, menuju kedai menghilangkan penat setelah seharian bergumal dengan tanah dan kerbau.
Dimana Arman. Tidak biasanya ia pergi semalam ini dan tak mengajakku. Sudah dua puluh rumah, kakiku beranjak dari tempat hunian. Di ujung jalan ini ada surau. Arman tak pernah ke surau selama di kampung ini. Namun kujejali juga surau yang mulai sepi itu. Kiri kanan surau ada lorong lepas, langsung berbatasan dengan rumah penduduk. Lorong kanan kosong, sedikit temaram karena di sampingnya rumah warga berpenghuni. Lorong kiri juga kosong, sekilas. Gelap, hanya samar-samar cahaya dari surau. Tak ada Arman.
Tiba-tiba, dua bocah lari terbirit-birit ketakutan dari samping kananku. Segera mereka meninggalkanku tanpa sapa. Langkah kakinya membuatku menoleh, aku sangat yakin mereka bocah peminta-minta di pasar tempo hari. Malam-malam begini masih berkeliaran. Kudekati arah kira-kira dimana mereka keluar. Lorong kiri. Tempat segelap ini. Sebelum kutinggalkan lorong tak berguna itu, sayup-sayup kudengar suara tertahan dari balik semak-semak rumah warga yang kosong. Bergoyang-goyang dengan frekuensi tak menentu. Hentakan-hentakan kebinalan. Serta rintihan kepasrahan.
Kemeja putih dengan garis-garis hitam vertikal, mencengkeram benda bulat, kepala manusia. Kudongakkan kepalaku di sela-sela dedaunan. Senyum kepuasan mengembang dari raut wajah laki-laki yang seminggu ini satu peraduan denganku. Sedetik pikiranku tak terkendali, dan didetik lain kutelah kembali pada jasadku. Tak butuh waktu lama, kutinggalkan tempat jahanan itu. Kerongkonganku tercekal, mataku memanas dengan tangan terkepal.
Pagi-pagi sekali aku terbangun. Sebuah benda melingkari pinggangku, Arman, pulas dengan piyamanya. Aku terpaku. Dan jendela menganga melukiskan awan hitam nan berat.


Padang 2010

Apresiasi untuk ‘Pahlawan Ceplas-ceplos’

Apresiasi untuk ‘Pahlawan Ceplas-ceplos’


Judul : Gus Dur: Islam, Politik, dan Kebangsaan
Pengarang : Mahfud MD
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Tebal : xiv + 268 halaman
Cetakan : Pertama, Mei 2010
Harga : Rp 75.000 ,-
Resensiator : Adek Risma Dedees, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia BP 2007 UNP



Siapa yang tak kenal Gus Dur? Siapa yang tak kenal dengan sosok yang kerap melemparkan ungkapan gitu aja kok repot? Ya, ia adalah Abdurrahman Wahid, salah satu guru bangsa di tanah air yang begitu nyentrik, unik, dan tentunya mengesankan baik ketika berbicara maupun pola berpikirnya. Namun, sekarang ia telah tiada.
Pascawafatnya mantan presiden Gus Dur, kira-kira pukul 18.40 WIB pada 30 Desember 2009 lalu, pemberitaan media massa tentang obituari Gus Dur dari berbagai dimensi yang penuh talenta disiarkan dengan besar-besaran hingga berhari-hari. Ekspresi kesedihan, simpati, perhatian, dan duka yang mendalam datang tidak hanya dari masyarakat dalam negeri, akan tetapi juga datang dari dunia internasional.
Begitu juga dengan isi buku ini. Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, adalah salah satu tokoh nasional yang dikenal memiliki kedekatan tersendiri dengan Gus Dur. Pada saat Gus Dur menjabat presiden RI (1999-2001) ia dipilih menjadi Menteri Pertahanan dan Kehakiman-HAM, hingga sekarang menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Dalam buku ini Mahfud MD mengupas semua tentang Gus Dur dalam bentuk artikel dan kolom yang sebelumnya telah dipublikasikan oleh media-media nasional, seperti Jawa Pos, Kompas, Majalah Tempo, Gatra, dan lainnya.
Pada dasarnya tulisan-tulisan Mahfud MD dalam buku ini terbagi dalam tiga bagian: 1) Gus Dur, Islam, dan Kebangsaan; 2) PKB, Politik, dan Konflik; dan 3) Membenahi Konstitusi Membangun Indonesia. Bagian pertama buku ini, pembaca disambut dengan percakapan Gus Dur dan Megawati semasa menjadi partner di Istana Merdeka tentang menu sarapan sang presiden yang langsung disiapkan oleh wakil presiden setiap Rabu pagi, kemudian disebut oleh media massa sebagai sarapan politik. ‘Ritual’ Rabu pagi ini menggambarkan kepada pembaca bagaimana hubungan Gus Dur baik secara pribadi maupun secara dinas dengan Megawati, yang nantinya turut mewarnai sikap politik masing-masing.
Tidak hanya itu, Mahfud MD dalam buku ini juga mengisahkan bagaimana Gus Dur menyoroti Peraturan Daerah (Perda) Syariah, memberlakukan syariat Islam di beberapa daerah. Awalnya, sebelum Gus Dur belajar ke Mesir, Irak, dan bekerja beberapa tahun di Eropa, Gus Dur sangat mengagumi dan ingin menerapkan gerakan Islam radikal di tanah air. Namun setelah pulang dari luar negeri, Gus Dur justru berubah menjadi sosok dengan visi pluralisme yang sangat liberal dan sangat anti-formalisasi Islam dalam kehidupan kenegaraan. Dan buktinya, visi ini mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia, walau tidak secara keseluruhan.
Mengenai kecintaan terhadap bangsa, Gus Dur sesuai pemaparan penulis, kecintaannya kepada NKRI adalah harga mati. Harga mati yang tak ada tawar menawar. Gus Dur di hadapan menterinya dengan gamblang menyatakan mempertahankan negara Indonesia dengan dasar pancasila. Pada waktu itu pemerintah ‘dipaksa’ untuk memberikan ‘lampu hijau’ kepada daerah guna menerapkan Perda Syariat Islam. Putusan tersebut diambil penuh pergulatan baik dengan pemerintahan maupun dengan Nahdatul Ulama (NU) sendiri.
Sementara itu, perpolitikan yang dibangun Gus Dur dalam tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tentu sangat sarat kontroversi. Misalnya, ketika PKB mendukung pasangan Wiranto-Gus Sholah sebagai capres-cawapres pada pemilu 2004 lalu. Belum lagi keberangan Gus Dur atas keluarnya SK KPU No. 26 tahun 2004 yang akan mengganjal dirinya untuk lolos menjadi capres. Teriakan untuk bersikap golput dan berada di luar sistem (PKB), terutama dari Gus Dur sendiri memutuskan secara aklamasi. Namanya demokrasi, tentu ada yang mendukung dan ada yang menolak.
Dari judul buku ini, terkesan isinya sangat serius dan berat. Namun kenyataannya bukanlah demikian. Di sela-sela tulisannya, Mahfud MD menyempatkan mengomentari dunia sepak bola seperti Piala Dunia. Bagi Mahfud MD, menikmati sepak bola kelas dunia dengan segala keindahannya. Walaupun tim nasional Indonesia tak ikut dalam ajang akbar tersebut. Akan tetapi Indonesia memiliki komentator-komntator yang hebat-hebat walau menurut Mahfud MD hanya untuk lucu-lucuan.
Satu sisi dengan buku ini pembaca akan lebih banyak tahu tentang Gus Dur, Islam, Politik, dan Kebangsaannya. Penulis mencoba menjabarkan semua itu dengan apik, ringan, dan tentunya menarik. Namun, karena buku ini adalah kumpulan tulisan-tulisan penulis, ada beberapa pokok persoalan tercakup dalam beberapa tulisan selanjutnya. Walaupun demikian, setidaknya buku ini mampu mengingatkan pembaca kepada sosok Gus Dur yang dikagumi bangsa Indonesia yang kini telah tiada.

Bisakah Indonesia Ikut Piala Dunia 2022?

Euforia Piala Dunia 2010 segera berakhir. Namun tidak untuk tim nasional (timnas) Spanyol empat tahun ke depan sebagai the winner yang berhak membawa trofi piala dunia dan memboyong hadiah lainnya. Kemenangan yang dipetik tim Matador bukanlah sebuah kado cuma-cuma yang dihadiahkan Belanda. Perjuangan yang gigih, tangguh, dan apik adalah kunci untuk memperoleh kesuksesan tersebut.
Sebanyak 32 negara mengikuti ajang akbar tersebut. Semua corong negara pun membicarakannya setiap hari selama kompetisi berlangsung, atau bahkan sepanjang masa. Tentu tak ketinggalan Indonesia. Walau hanya sebagai penonton dan komentator, yang tak kalah hebatnya, setidaknya kita (Indonesia_red) merasakan euforia tersebut.
Beberapa tahun silam, wacana yang digulirkan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) adalah Indonesia akan mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia tahun 2022 kelak dengan tema Road to Green World Cup Indonesia 2022. Begitu optimis. Sayangnya, setelah wacana ini singgah di Istana Merdeka, Andi Mallarangeng, juru bicara presiden dan sekarang Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, menyarankan dan memikirkan kembali akan mencanangkan wacana tersebut.
Menurutnya tantangan terbesar timnas Indonesia adalah bagaimana bisa berjaya tampil di depan negara-negara Asia Tenggara serta Asia secara keseluruhan. Setelah itu baru percaya diri mencalonka diri ikut ajang sepakbola sejagat tersebut. Jangankan menang melawan Jepang, melawan Laos saja dalam Sea Games, Indonesia tak berkutik. Begitu merosotnya dunia persepakbolaan di tanah air.
Kalau ingin mengingat sejarah, Indonesia pernah ikut berlaga pada Piala Dunia 1930 hingga 1934 yang pada waktu itu bernama negara Hindia Belanda. Kesohoran Indonesia pada waktu itu cukup menjanjikan. Namun pascatahun 1990-an prestasi sepakbola tanah air pun semakin merosot.
PSSI yang dinilai serta diharapkan mampu melahirkan pemain-pemain tangguh, hebat, dan menjanjikan bagi timnas, harus segera mereformasi visi dan misi serta benar-benar serius untuk mewujudkannya. Kongres Sepakbola Nasional Indonesia di Kota Malang, Jawa Timur, pada 30-31 Maret 2010 lalu, merekomendasikan tujuh poin penting sebagai pekerjaan rumah PSSI. Ketujuh poin tersebut meliputi reformasi dan restrukturisasi, pembangunan dan peningkatan infrastruktur olah raga, pembinaan atlet usia dini, serta poin penting lainnya.
Namun hingga saat ini rekomendasi tersebut tidak memberikan arti kepada dunia sepakbola nasional. Stagnasi persepakbolaan tanah air tak dapat dihindari. Rekomendasi tinggal rekomendasi. Asumsi PSSI ditunggangi oleh kepentingan dan kekuasaan yang kuat, dalam hal ini kapitalistik, bisa saja tak terbantahkan. Pengaruh ini menyebabkan PSSI tak mampu lagi menentukan jalan ‘hidupnya’; melahirkan timnas yang berprestasi. Walaupun di luar sana sering mendengung-dengungkan sistem administrasi dan manajemen yang bagus, tetapi dalam segi prestasi diragukan, sama saja dengan omong kosong.
Dunia sepakbola tanah air tak bisa dibiarkan melempem begitu saja. Jika PSSI tak mampu lagi, campur tangan pemerintah harus ada di sini. Pemerintah seharusnya menagih rekomendasi kongres di Malang kepada PSSI. Ada saat-saat tertentu pemerintah harus campur tangan dalam urusan dapur PSSI dan hal tersebut harus dilakukan dengan penuh ketegasan.
Jadi apakah Indonesia (mampu) bergabung dalam Piala Dunia 2022? Jawabnya, berkaca pada kondisi sekarang, jauh panggang dari api. Atau tak buruk jika ingin bertanya kepada Paul Si Gurita.

Surat Cinta, Abad XXI, dan Keterampilan Menulis

Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Harris Effendi Thahar, M.Pd


Masih adakah gadis remaja kita sekarang yang menerima surat cinta dari kekasihnya seperti Hayati menerima surat cinta Zainuddin dalam roman Tenggelammnya Kapal Van der Wijck karya Hamka yang terkenal itu? Begitu juga dengan surat-surat mahasiswa kepada orang tua di kampung, minta dikirimkan uang segera karena keperluan mendesak, juga tidak ada lagi sekarang.

Demikian kalimat pembuka pidato pengukuhan guru besar Prof. Dr. Harris Effendi Thahar, M.Pd., yang berjudul ‘Merangkai Kata Membangun Indonesia: Membenahi Pembelajaran Menulis di Sekolah’ di depan sekitar 100 tamu undangan yang hadir di Ruang Serba Guna Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang (UNP), Kamis (24/6) lalu. Hari itu Harret, begitu ia disapa, dikukuhkan langsung oleh Rektor UNP Prof. Dr. Z. Mawardi Effendi, M.Pd., didampingi para guru besar lainnya di selingkungan UNP.
Dalam pidatonya, Harret, menyampaikan bahwa tradisi menulis surat atau menulis dalam kerangka yang lebih luas semakin langka dan jarang pada dunia remaja atau anak muda sekarang. Remaja kini tak lagi mengenal Sahabat Pena, atau bahkan tak pernah lagi melihat perangko dan kegunaannya. Kedatangan tukang pos pun tak lagi selalu dinanti-nantikan.
Hal ini semakin mencemaskan Harret, bahkan yang membaca naskah pidatonya misal Mawardi, dengan keadaan pemerolehan nilai ujian nasional (UN) mata pelajaran bahasa Indonesia yang menurun drastis. “Banyak siswa SMA tidak lulus UN karena nilai bahasa Indonesianya tidak memenuhi standar,” ungkap Harret.
Sebelum mengukuhkan Harret sebagai guru besar, Mawardi menyayangkan kondisi remaja sekarang yang memang terkesan kurang tertarik dalam dunia tulis menulis. Padahal dunia tulis menulis tidak kalah menarik dan bergengsinya dari dunia lain. “Dunia bahasa sama pentingnya dengan pengetahuan ekonomi, teknologi, dan lainnya,” jelas Mawardi.
Sekarang, tambah Harret, adalah abad XXI. Orang-orang menyebutnya abad milenium. Saling berkirim surat tak lagi menggema. Pada abad ini ada sms, facebook dan lainnya. Setiap orang bisa berinteraksi dengan siapa saja. Tak perlu bertatap muka, apalagi memakai sarana surat menyurat dalam berkomunikasi. “Tak lagi menggunakan bahasa yang indah, cukup bahasa spontan dalam ragam gaul,” tutur pengarang Si Padang ini.
Aktivitas menulis, jelas Harret, merupakan salah satu dari empat aspek berbahasa yang diajarkan di sekolah. Keempat aspek itu, adalah mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Mendengarkan dan membaca adalah aktivitas reseptif, sementara berbicara dan menulis merupakan aktivitas produktif.
Di sisi lain, Harret menjelaskan kemajuan teknologi bagi sebagian masyarakat Indonesia ternyata tidak mendukung keterampilan menulis, justru ‘melumpuhkan’ minat menulis. Hal ini tercermin dari minat remaja dalam menulis. Sebenarnya tidak hanya remaja, para guru dan dosen di Indonesia pun kurang berminat menulis dan menuangkan ide-ide kepada khalayak melalui media massa. Jika pun harus menulis tulisan ilmiah, hanya untuk kepentingan persyaratan naik pangkat. “Dan kalaupun tulisan itu dimuat, hanya dengan pertimbangan pertemanan dan ‘rasa kasihan’,” jelas Harret.
Sehubungan dengan hal itu, Ketua Umum Dewan Kesenian Sumatra Barat ini, menawarkan langkah-langkah yang bisa digunakan. Di antaranya, mendirikan sanggar menulis sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler, menyelenggarakan lomba-lomba menulis baik ilmiah maupun nonilmiah, menggiatkan majalah dinding di sekolah-sekolah, serta melengkapi koleksi buku di perpustakaan dengan karya sastra terbaru dan mewajibkan para siswa membacanya. Akhir kata, selamat atas pengukuhan guru besar UNP Prof. Dr. Harris Effendi Thahar, M.Pd., dan selalu berkarya.