Friday, 6 November 2009

Cerita Saya dengan Novel Urang Awak
Beragam kegiatan ditawarkan dalam sebuah sekolah ke setiap muridnya, mampu membawa mereka pada keterampilan yang beraneka macam pula. Keseimbangan ilmu pengetahuan, katakanlah hapalan dan saintis, dipadukan dengan keterampilan yang lebih banyak mengasah otak kanan, cara baru dalam melahirkan generasi muda yang lebih dinamis dan kompeten. Tidak hanya itu, ketekunan, kesungguhan dalam menggali ilmu, dibumbui dengan aturan dan disiplin yang tegas serta sanksi yang mendidik tak kalah pentingnya. Ditambah keikhlasan murid diajar dan keikhlasan guru mengajar, konsep ini yang semakin menggaungkan ‘man jadda wajada’ dalam novel best seller Negeri 5 Menara ini.
Demikian Ahmad Fuadi, sang yang punya ide, memaparkan bagaimana kehidupan Alif dan kelima temannya di Pondok Madani, salah satu pesantren khusus putra di Jawa Timur. Menuntut ilmu jauh-jauh dari salah satu kampung kecil di pinggir danau Maninjau, Sumatra Barat, menyeberang lautan hanya untuk memenuhi kemauan Amak, anak bujang harus menjadi imam, seperti Buya Hamka yang tersohor itu. Cita-cita menjadi Habibie kandas sudah, tatkala Amak ngotot memasukkan anak bujang satu-satunya ini, Alif, ke sekolah agama.
Menuntut ilmu di Madani, jelas jauh berbeda dengan belajar di sekolah umum lainnya. Rutinitas bangun tidur pukul 4 dini hari sudah harus menjadi kebiasaan malah sudah harus wajid ketika duduk di kelas 6, kelas akhir. Seperti orang gila dalam menuntut ilmu, merupakan budaya yang tak asing lagi bagi santri di pondok ini. Di dinding, di jemuran, di dapur umum, dan di kamar mandi, slogan selalu belajar semakin menggaung kencang. Endemi wajib belajar merajalela di sekitar pondok ini. Malu sendiri rasanya jika tidak belajar. Begitu budaya menuntut ilmu di pondok, yang kebanyakan orang mengatakan tempat belajar yang kuno.
Alif, Dulmajid, Atang, Baso, Said, dan Raja adalah produk dari sekolah yang bersistem disiplin ketat ini. Mereka berani bermimpi dengan awan-awan yang berarak tak jelas di atas menara, tempat mereka berkumpul dan bermimpi selepas salat berjamaah di masjid. Membayangkan hal-hal yang rasanya tidak mungkin dicapai dengan mudah. Awalnya mereka tak pernah membayangkan akan berada di benua-benua yang mereka bayangkan dan gambarkan seenaknya. Namun berkat keseriusan dan kerja keras, mimpi yang dulu saling mereka tertawakan, akhirnya tercapai jua. Jika dulu melihat kota Bandung dan Surabaya sudah sangat indah dan exellent bagi anak-anak ingusan ini, namun sebelas tahun kemudian menjejak benua Eropa, Afrika, Asia, dan Amerika sudah sangat nyata. Waallhu’alam..
Seandainya saja banyak generasi kita yang dipersiapkan dengan sistem pendidikan yang mampu mengubah cara ucap siswa dari bahasa kampung sendiri hingga mampu bahasa asing hanya tiga bulan, sebuah kerja yang luar biasa. Dan seandainya saja setiap pendidik di negeri ini dengan modal ikhlas dalam mendidik murid-muridnya, tentu yang dilahirkan dari ‘ibu’ yang mengandung ini akan melahirkan anak yang begitu cerdas dan berbakat. Negeri ini banyak membutuhkan para pendidik yang ter-reinkarnasi dari Kiai Rais dan Ustad Khalid. Semoga saja.

No comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar ^_^