Friday, 6 November 2009


Memungut di Lumbung Ilmu
Oleh Adek Risma Dedees
Tak malu-malu mereka kembali memilih dan mengambil barang-barang bekas orang-orang minum tersebut di sekitar kampus. Sambil bercakap-cakap sesekali diselingi gelak tawa, dua bocah umur belasan ini sigap menjangkau apa saja yang ia temukan dan dikira dapat dijual. Di bawah gedung bertingkat yang megah ini, walau sedang dalam tahap perbaikan akibat gempa tempo lalu, dua putri dari daerah Gunung Pangilun ini terengah-engah memikul tiga kantong cukup besar di paundaknya. Sekitar lima kilogram berat masing-masing kantong yang dibawanya.
Begitu rutinitas Riri dan Ija setiap hari. Budak kecil ini setiap hari sepulang sekolah rutin mengais-ngais rezeki dari sisa bekas minuman orang lain di sekitar daerah tersebut. Mengumpulkan gelas-gelas plastik bekas minuman. Kawasan mereka beroperasi biasanya sepanjang daerah Alai sampai Gunung Pangilun, kota Padang.
Pukul tiga sore mereka mulai menemukan benda-benda yang bisa menjadi hak mereka. Waktu itu hujan rintik-rintik, Riri dan Ija tengah seriusnya memasukkan barang-barang yang mereka temukan hasil pencaharian ketat mata. Bisa di dapat dari bawah meja, selokan, onggokan sampah, maupun di tengah-tengah jalan. Sudah tiga kantong Riri, bocah kelas 4 sekolah dasar, ini berhasil mengumpulkan barang kerja kerasnya. Sedangkan Ija, sedang duduk di kelas 6 ini hanya mampu mengumpulkan dua kantong plastik hitam. Walau langit sudah tampak gelap dan jam tanganku mengarah pukul setengah enam sore, namun Riri dan Ija akan menjual dulu barang temuanya di pasar Alai, sekitar satu kilometer dari kampus STKIP PGRI Padang itu.
“Jalan kaki saja kak,” katanya. Tidak usah naik angkot (angkutan kota,red), di jalan pasti masih menemukan botol-botol bekas minuman. Sore ini bocah ingusan ini akan menjual hasil kerjanya. “Enam sampai tujuh ribu per kilogram kak, botol-botol ini dijual,” kata Ija, Minggu (1/11) lalu. Hasil penjualan ini bisa digunakan Riri dan Ija menambah jajan, dan juga membantu ibu di rumah. Ibu Riri hanya seorang ibu rumah tangga, sedangkan ayahnya telah merantau ke Jakarta dan menjual sate di sana. Ija, adalah anak sulung dan memiliki adik, kerja ibunya sehari-hari hanyalah buruh cuci dan nyetrika pakaian di daerah sekitar dan ayah yang seorang supir angkot di kota Padang. Hingga mentari tenggelam, barulah kedua bocah ini pulang ke rumah, membagi hasil kerja dan belajar, persiapan sekolah esok hari, walau pundak pegal-pegal.
Cerita Saya dengan Novel Urang Awak
Beragam kegiatan ditawarkan dalam sebuah sekolah ke setiap muridnya, mampu membawa mereka pada keterampilan yang beraneka macam pula. Keseimbangan ilmu pengetahuan, katakanlah hapalan dan saintis, dipadukan dengan keterampilan yang lebih banyak mengasah otak kanan, cara baru dalam melahirkan generasi muda yang lebih dinamis dan kompeten. Tidak hanya itu, ketekunan, kesungguhan dalam menggali ilmu, dibumbui dengan aturan dan disiplin yang tegas serta sanksi yang mendidik tak kalah pentingnya. Ditambah keikhlasan murid diajar dan keikhlasan guru mengajar, konsep ini yang semakin menggaungkan ‘man jadda wajada’ dalam novel best seller Negeri 5 Menara ini.
Demikian Ahmad Fuadi, sang yang punya ide, memaparkan bagaimana kehidupan Alif dan kelima temannya di Pondok Madani, salah satu pesantren khusus putra di Jawa Timur. Menuntut ilmu jauh-jauh dari salah satu kampung kecil di pinggir danau Maninjau, Sumatra Barat, menyeberang lautan hanya untuk memenuhi kemauan Amak, anak bujang harus menjadi imam, seperti Buya Hamka yang tersohor itu. Cita-cita menjadi Habibie kandas sudah, tatkala Amak ngotot memasukkan anak bujang satu-satunya ini, Alif, ke sekolah agama.
Menuntut ilmu di Madani, jelas jauh berbeda dengan belajar di sekolah umum lainnya. Rutinitas bangun tidur pukul 4 dini hari sudah harus menjadi kebiasaan malah sudah harus wajid ketika duduk di kelas 6, kelas akhir. Seperti orang gila dalam menuntut ilmu, merupakan budaya yang tak asing lagi bagi santri di pondok ini. Di dinding, di jemuran, di dapur umum, dan di kamar mandi, slogan selalu belajar semakin menggaung kencang. Endemi wajib belajar merajalela di sekitar pondok ini. Malu sendiri rasanya jika tidak belajar. Begitu budaya menuntut ilmu di pondok, yang kebanyakan orang mengatakan tempat belajar yang kuno.
Alif, Dulmajid, Atang, Baso, Said, dan Raja adalah produk dari sekolah yang bersistem disiplin ketat ini. Mereka berani bermimpi dengan awan-awan yang berarak tak jelas di atas menara, tempat mereka berkumpul dan bermimpi selepas salat berjamaah di masjid. Membayangkan hal-hal yang rasanya tidak mungkin dicapai dengan mudah. Awalnya mereka tak pernah membayangkan akan berada di benua-benua yang mereka bayangkan dan gambarkan seenaknya. Namun berkat keseriusan dan kerja keras, mimpi yang dulu saling mereka tertawakan, akhirnya tercapai jua. Jika dulu melihat kota Bandung dan Surabaya sudah sangat indah dan exellent bagi anak-anak ingusan ini, namun sebelas tahun kemudian menjejak benua Eropa, Afrika, Asia, dan Amerika sudah sangat nyata. Waallhu’alam..
Seandainya saja banyak generasi kita yang dipersiapkan dengan sistem pendidikan yang mampu mengubah cara ucap siswa dari bahasa kampung sendiri hingga mampu bahasa asing hanya tiga bulan, sebuah kerja yang luar biasa. Dan seandainya saja setiap pendidik di negeri ini dengan modal ikhlas dalam mendidik murid-muridnya, tentu yang dilahirkan dari ‘ibu’ yang mengandung ini akan melahirkan anak yang begitu cerdas dan berbakat. Negeri ini banyak membutuhkan para pendidik yang ter-reinkarnasi dari Kiai Rais dan Ustad Khalid. Semoga saja.

Wednesday, 4 November 2009

Kepada Perempuan dan Hujan

Tak rambut yang kau sisir saat mentari memancar
Tak pula konde yang kau lirik diramainya majelis
Tapi coba kau bumbun lili di pagar belakang
Mekarnya dapat redakan isak si upik sayang

Oiii.. upik yang rindu pada hujan
Jejak kecilmu gemericik dicelah genangan
Lekaslah naik dan terbang ke pangkuan
Karena rembulan sebentar lagi kan terbenam

Oiii.. upik yang rindu pada hujan
Tak guna bermain lilin di buaian
Panasnya kan rayapi jemari kepalan
Hingga gelak deraimu redup mendiam


Adek Risma Dedees
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia BP 2007
Dalam Renungan Kita Berbagi
Oleh Adek Risma Dedees

Pentas itu dipenuhi onggokan-onggokan benda yang beragam ukuran dan bentuk. Ada bulat, persegi, panjang, dan beberapa kardus-kardus bekas meramaikan panggung itu. Kotak yang menyerupai televisi, bertuliskan pascagempa, beberapa batuan beton, sisa-sisa reruntuhan, serta sebaskom air kekuningan bercampur tanah, juga menghiasai Laga-laga Taman Budaya, Padang, Sumatra Barat malam itu.
Tiba-tiba tiga orang memasuki panggung, bertelanjang dada, dan menggiring sesuatu yang bergerak-gerak di dalam karung biru muda yang terikat, tampaknya kuat sekali. Dua lelaki lainnya langsung meninggalkan panggung. Sedangkan yang satu tinggal dan mamatut-matut benda, yang entah apa isinya, itu dengan sangat tenang. Tidak lama karung itu ia tinggalkan dan menuju kotak menyerupai benda yang bisa memuat gambar apapun bergerak secara sempurna. Duduk rapi di dalamnya.
Ayunan musik mulai meramaikan pendengaran penonton. Mungkin, banyak di antara penonton, tidak mengenal jenis musik tersebut sebelum diperdengarkan di panggung itu. Kata pembawa acara, pemain musik berasal dari komunitas seni Belanak di Tunggul Hitam. Sekitar lima belas pemain, dengan kusyuk, membanggakan keahlian mereka di depan penonton malam Kamis (28/10) itu. Sama saja, pemain musik ini juga tidak menutup dada mereka dan seluruh tubuhnya dipenuhi warna tanah hingga wajah aslinya tak dikenal lagi.
Tampilan ini merupakan, performance Art pembukaan ‘Malam Renungan Gempa Sumatra Barat, Barek Samo Dipikua’. Sebuah acara yang diangkat secara spontanitas oleh beberapa budayawan, seniman, mahasiswa, serta relawan yang biasa nongkrong di pusat kegiatan kesenian Sumbar tersebut. Menurut Kepala Taman Budaya Sumbar, Asnan Rasyid, acara ini menghimbau agar masyarakat minang tidak begitu larut dalam kesedihan akibat bencana melanda.
Ketua Dewan Kesenian Sumbar, Dr. Harris Effendi Thahar, pun membenarkan tujuan acara yang bertepatan dengan lahirnya Sumpah Pemuda itu. Merubah orientasi pikiran masyarakat pascagempa, merekonstruksi mental dan spiritual masyarakat yang dulunya giat bekerja, namun setelah gempa hanya mengharap bantuan dari pemerintah dan donator. Padahal, minangkabau terkenal dengan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Ktabullah (ABS SBK). Sudah seharusnya meninggalkan hal-hal yang berbau ketakutan dan traumatik akibat gempa, hingga manajemen kehidupan kurang terkontrol. Dengan renungan dan doa malam ini, setidaknya dapat menenangkan hati yang risau dan kembali kepada kehidupan normal yang dulu dengan tidak melupakan, apa-apa yang harus diusahakan untuk diperbaiki, rusak akibat gempa akhir bulan lalu.
Barek Samo Dipikua, klausa yang temaktum dalam tema acara adalah suatu musibah yang diharapkan dapat ditanggung bersama-sama, masyarakat minang. “Karena bencana ini bukanlah bencana ringan yang mungkin bisa dijinjing bersama-sama,” kata Harris.
Beragam acara yang dilangsungkan malam itu. Tentunya setiap acara terbungkus dalam kotak yang berlabel seni. Mulai dari penampilan komunitas seni Belanak, pembacaan puisi dari sastrawan dan budayawan, tidak hanya dari Sumbar, namun juga dari ibu kota Jakarta, dan daerah lain, komunitas Rumah Hitam dari Batam, misalnya. Komunitas ini sengaja menggalang dana yang dikhususkan untuk membantu sastrawan dan budayawan Sumbar yang tercatat sebagai korban. Apakah itu saudaranya meninggal, rumah rusak dan terbakar, serta lainnya.
Selain penampilan seni, acara ini juga diramaikan dengan diskusi bersama. Menghadirkan salah satu dosen tersohor di Universitas Negeri Padang (UNP), Prof. Mestika Zed. Membahas pengaruh dan bagaimana mencarikan solusi yang tepat dan efektif bagi masyarakat yang masih dihantui ketakutan dan traumatik akibat bencana gempa. Sayangnya, acara ini disetting terlalu larut, sekitar pukul sepuluh malam, barulah diskusi bersama dimulai. Padahal, pembukaan acara yang berlangsung sekitar pukul 20.00 itu tidak hanya dihadiri budayawan, wartawan, dan mahasiswa, namun juga pelajar. Berat hati, tepat pukul 21.00 bangunan yang masih bertahan dari guncangan gempa 7,9 skala richter itu berangsur sepi. Penonton merangkak menjauhi acara, dan sesi diskusi masih belum sempat dibuka. Andai saja acara spontanitas ini didesain lebih rancak tentu anak muda minang masih menyimak kata-kata professor di depannya itu.
Lagu Sore di Kampus Selatan

Kelahiran karya sastra anak nagari (Sumatra Barat) dari A. Fuadi sontak tidak hanya membuat urang awak ranah Minang berdecak kagum, namun juga masyarakat Indonesia secara universal. ‘Negeri 5 Menara’ begitu tulisan besar-besar tertulis di bagian depan sampul buku ini. Karangan yang bertema pondok pesantren ini menyajikan bacaan yang tentunya beda dari bacaan kebanyakan. Setting pendidikan pun masih menjadi pilihan novel, mungkin sekitar lima tahun mendantang akan terus menjadi buah ‘bibir’ masyarakat.
Kampus Selatan Universitas Negeri Padang (UNP) tepatnya Fakultas Bahasa Sastra dan Seni (FBSS) mengajak mahasiswanya, beramai-ramai memecahkan tendens yang disampaikan oleh anak Maninjau ini. Melalui tokoh-tokohnya, Alif, Raja, Dulmajid, Baso, dan Said, tergambarkanlah sekaligus mewakili keinginan dan cita-cita kebanyakan anak bangsa. Beragam cara yang mereka lakukan hingga suatu hari, setelah tidak di pondok lagi, mereka kembali bersua di negeri yang sama sekali tidak pernah terbayangkan sebelumnya, Eropa.
Tepat pukul setengah lima sore, sekitar tiga puluh mahasiswa berkumpul mengerubungi Leni Marlina, S.S., salah seorang dosen sastra di jurusan bahasa Inggris FBSS. Miss Leni, akrabnya dipanggil begitu, mematut-matut di atas panggung terbuka sekaligus dengan sangat berhati-hati menyampaikan orasinya tentang novel A. Fuadi ini, Selasa (3/11) lalu. Menyampaikan pesan yang terkandung serta pola pendidikan seperti apa yang bisa ditiru mahasiswa agar sama suksesnya dengan tokoh-tokoh dalam novel.
Kehadiran miss Leni dan mengupas tentang sosok kurcaci-kurcaci yang sukses di tanah Jawa tersebut, memberikan masukan kecil yang berarti bagi yang mengikutida n mendengarkan orasi tersebut. Walau penyampaian dari miss Leni jauh dari kemenarikan bak novel itu sendiri, tapi cukup menutrisi otak pendengar dengan karya sastra.
Mengkaji novel, cara peyampaiannya memang tidak sesaintic Laskar Pelangi, dan tetap menampilkan indept analytic mengenai berbagai macam ilmu di Pondok Madani. Walau begitu, justru di sinilah letak kekhasan dan keunikan karya sastra ini. Ditambah lagi mantra ‘Man Jadda Wa Jadda’ siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapat. Rupanya teori kesungguhan dan feedback berlaku keras dalam karya ini.
‘Man Jadda Wa Jadda menjadi begitu kesohor beberapa bulan ini. Menjadi stimulus ampuh bagi pelajar dan mahasiswa untuk meraih mimpi mereka. Bukan akhir yang menjadi fokus utama, namun proses, kesabaran, dan keikhlasan menjadi pekerjaan rumah guna menggapai mimpi.