Tuesday, 4 August 2009

Peran Mamak dan Seni Berpakaian Keponakan


Maraknya anak-anak minang, baik si bujang maupun si gadis, mengenakan pakaian ala orang berenang di kolam renang semakin ‘menyilaukan’ mata. Celana pendek di atas lutut dengan warna-warni pelangi, atasan Tank Top (katebe, dalam bahasa urang awak) semakin diminati. Padahal norak, namun biasanya cepat-cepat disanggah ketinggalan mode tuh, jika tak mengikuti. Fenomenanya, coba perhatikan di pusat perbelanjaan kota Padang. Di salah satu mall, tak sedikit kita menjumpai anak muda minang memakai pakaian seperti ini, dan biasanya lebih banyak oleh si gadis. Hal ini tidak hanya di mall, di pasar tradisional Pasar Raya pun tak susah menemukan gadis dengan penampilan serupa.
Budaya ‘baru’ sekarang aneh. Memperlihatkan paha putih, lengan tangan atas, atau malah ketiak, mendapat tempat di hati remaja. Budaya ini menyusup seiring dengan menyebarnya virus kegandrungan terhadap sinetron. Gaya baru dan style banget sekarang memakai celana pendek, baju pas-pasan pada badan, dan sangat tidak Safety.
‘Menariknya’ tidak hanya oleh generasi yang katakanlah sekolah (perguruan tinggi) atau hanya sebatas sekolah menengah dan menengah atas, sama saja. Dan semakin mirisnya tempat dan dimana si remaja memakai model pakaian ‘kuno’ ini terkesan bebas. Di rumah, di samping papa (abak), di samping mama (amak), dan di samping om (mamak), sama pula. Tak bertempat sama sekali.
Ketika si gadis, dengan celana pendek dan blus mininya, duduk dan melenggang kangkung di depan papa, tak merasa risih apalagi malu. Di depan mama, mungkin tidak masalah, namun kewajiban si ibu mengingatkan untuk berpakaian sopan. Nah, bagaimana berjumpa mamak separuh telanjang seperti itu. Risihkah? Malukah? Segankah? Atau tak merasa apa-apa tuh. Nyata ritual berpakaian seronok itu tetap dipertahankan.
Kenapa semakin diminati? Karena masih gencar dipromosikan di TV, pasar, dan majalah pakaian dengan label serba pendek dan mini. Selain itu juga (mungkin) sang papa dan mama senang dengan gaya anak yang tidak kampungan. Bahkan sang mamak sangat menikmati pemandangan tersebut. Ini kemungkinan yang dilihat, menilik dari tidak adanya teguran bagi si remaja.
Kecemasan yang mungkin hanya dirasakan oleh seberapa bagian dari masyarakat kita, yang miris dan malu dengan gaya anak muda sekarang tak dapat berbuat banyak. Pasalnya kuasa masyarakat untuk menegur semakin tipis. Hal ini disebabkan budaya yang dulu saling tegur terhadap anak siapa saja yang sekampung, sudah merupakan hal wajar bahkan diharuskan. Namun pergeseran serta urbanisasi budaya ke ranah minang membuat ‘hak’ tersebut tidak berlaku lagi. Alih-alih malah si anak yang ditegur berbalik ‘menegur’ sang gaek yang berniat baik. Demikian adanya yang terjadi sekarang.
Padahal, hal ini bisa kita atasi secara bertahap. Andai saja kita mau dan berniat membuka mata lebih ‘lebar’ lagi ini semua bisa diminimalisir. Salah satu hal yang sangat berpengaruh adalah kekuatan abak, perhatian amak, dan ketegasan sang mamak. Apalagi jika abak dan mamak orang yang berkuasa atas sebuah daerah, tidak hanya di rumah. Kekuasaan akan sangat mampu merubah sesuatu yang sudah ‘membudaya’ namun tak pernah dideklarasikan. Termasuk pola pikir dan budaya berbaju mini anak muda minang.
Bagaimana pun juga, madarnya (nakal, sukar diatur) seorang anak, abak dan mamak wajib menuntun anak-anaknya ke jalan yang sesuai ABS-SBK (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah). Tidak hanya anak darah daging semata, namun anak minang sebagai penerus ke depannya.
Sudah saatnya abak dan mamak, yang ‘memegang’ dan memiliki sedikit pengaruh di kota ini, tidak sibuk hanya untuk mengurusi masalah pendidikan, ekonomi, pariwisata, dan politik. Namun cobalah sekali-kali melirik pada keponakan yang hilir mudik di pusat keramaian (mall), jalan-jalan, Pantai Padang, Muaro, jembatan Siti Nurbaya, dan serta tempat lainnya. Perhatikan mereka, semakin asyik masyuk dengan pakaian baru yang membuat badan mereka kotor terkena debu dan gampang masuk angin.
Telah tiba waktunya dan tak ada kata terlambat untuk menegur mereka dari budaya sinetron yang sangat fatamorgana tersebut. Kecemasan dari pendahulu yang sekarang hanya bisa menonton, perlu kita idahkan. Kecemasan yang bersebab, dan harapan yang sangat besar pada anak muda minang. Satu harapan, kembalikan peran mamak dan abak dalam keluarga serta masyarakat.
Persma Sebagai Entitas Masyarakat Ilmiah Kampus


Pers Mahasiswa (Persma) adalah salah satu corong bagi mahasiswa untuk lebih menyuarakan suara mereka kepada para birokrat dan antek-anteknya. Peran persma tidak terlepas dari bagaimana pengaktualisasian diri masyarakat lingkungannya. Jika pada media umum, pers lebih terkenal sebagai pilar keempat dari elemen-elemen demokrasi, begitu juga dengan persma dalam lingkup kampus sebagai sebuah miniatur negara. Persma pun juga berperan besar dalam perjalanan kekuasaan lembaga mahasiswa. Karena bagaimanapun, ingat, persma tidak hanya berkutat pada pemberitaan, namun juga sangat mempengaruhi pergerakan mahasiswa.
Pers Mahasiswa mengandung dua istilah yang sama-sama ‘berani’ di dalamnya, yaitu pers, dan mahasiswa. Pemahaman pers, mengacu pada teori secara umum yang terpatri dalam Undang-undang Pers Nomor 40 tahun 1999 bab 2 pasal 3 ayat (1) dinyatakan pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Sementara pemahaman mahasiswa selalu berkaitan dengan kampus. Mahasiswa adalah kelompok usia muda antara 17-25 tahun. Pada usia ini, manusia cenderung bersikap komunal (umum, suka berkumpul), tidak terikat finansial (terikat dengan orang tua), belum berumah tangga, punya semangat dan energi yang berlebih, serta kritis. Tidak hanya itu, usia mahasiswa adalah usia dengan ciri yang cenderung kontroversi, idealis, tidak takut salah serta usia yang sangat produktif.
Keterkaitan mahasiswa dengan kampus sudah jelas meliputi persoalan-persoalan yang tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Selain itu juga menyangkut pada kesejahteraan mahasiswa, serta aktualisasi diri mereka. Karena itu, dinamika pers mahasiswa juga merupakan cerminan dari persoalan-persoalan tersebut. Tentu saja, pers mahasiswa harus memposisikan dirinya secara ilmiah, karena pers mahasiswa merupakan perpaduan antara pers dengan dunia kampus. Karakter yang khas dari pers mahasiswa, idealisme dengan penggodokan independensi yang dinamis, membuat pers mahasiswa mempunyai posisi pas untuk melepaskan diri dari jebakan modal maupun pengaruh lainnya. Di tengah-tengah ketidakmampuan pers umum untuk melakukan pendidikan atau pencerahan kepada masyarakat, pers mahasiswa sangat mungkin untuk mengambil peran tersebut.
Pers Mahasiswa sebagai entitas masyarakat ilmiah kampus lebih mengarah kepada perwujudan masyarakat kampus yang semakin intim dengan hal-hal yang berbau ilmiah. Ilmiah di sini bukan berarti terfokus pada penelitian dan segala sesuatu yang formil, baku, standar, dan untuk sebagian masyarakat (mahasiswa) kadang memuakkan. Namun keilmiahan ini lebih mengarah pada keabsahan sebuah informasi yang dipaparkan. Bagaimana paparan yang disampaikan agar lebih mengarah pada sebuah referensi bagi masyarakat sebagai pembaca. Apa-apa yang dipaparkan adalah sebuah usaha ‘mati-matian’ untuk memberikan yang terbaik bagi pembacanya sesuai dengan fungsi pers tadi dan bukan alat pembodohan.
Fungsi pers yang disajikan dalam produk mahasiswa adalah sesuatu hal nyata adanya. Tampilan yang mereka berikan tidak lebih semacam refleksi bagi masyarakat. (apakah itu mahasiswa sendiri maupun masyarakat luar). Dan melalui pers inilah mereka berkoar untuk sebuah pergerakan atas nama mahasiswa yang mengusung kepentingan masyarakat luas. Tidak menutup kemungkinan di sinilah unsur keilmiahan yang mereka sajikan pada pembaca. Atas nama masyarakat luas mereka mencoba mengemas hal-hal yang demikian seapik mungkin, secermat mungkin, dan seobyektif mungkin.
Sejalan dengan kebebasan pers, pers mahasiswa juga memunculkan sikap profesionalisme sebagai batasan tegas terhadap kebebasan yang kebablasan. Ciri profesionalisme bisa dilihat dari lima hal, yaitu : bersifat keilmuan, berorientasi ke publik, terukur, ada moralitas (kode etik), mempunyai organisasi profesi, dan mempunyai kesungguhan (loyalitas tunggal). Namun, profesionalisme media yang digembar-gemborkan pers umum ternyata runtuh karena adanya kepentingan lain dan jebakan pemilik modal. Dalam banyak kasus, pemilik media lebih mengedepankan penaikan oplah serta berita yang bombastis/ tendensius. Pemilik modal sering mengawasi tajuk rencana dari media, untuk memasukkan kepentingan-kepentingannya. Orientasi pada publik dan pencerahan masyarakat, sering diabaikan demi naiknya oplah media. Dan hal ini sangat berbeda dengan pers mahasiswa.
Untuk itu pers mahasiswa sangat berperan dalam mengusung hal-hal yang diingini masyarakatnya. Jika pada pers umum hanya menemukan hiburan dan jauh dari unsur pendidikan atau pencerahan, maka berbeda dengan pers mahasiswa. Perbedaan ini akan semakin terang tatkala pers mahasiswa semakin matang dengan keilmuan yang disodorkannya. Keilmuan yang beranjak dari fakta, penafsiran, dan keberpihakan yang jelas serta terstruktur. Pers mahasiswa akan selalu mencari nilai dan arah gerakan yang tepat. Dalam konteks inilah terdapat arti penting perlunya menata kembali pola gerakan ilmiah. Dengan demikian, mari masuk ke wilayah pergerakan, wilayah konsepsional, terarah dan terkendali dalam konteks ideologi terpadu, komprehensif, dan bersinergi. Dalam hal ini bagaimana mencapai sasaran strategis yang didasari pada pilihan-pilihan ideologis serta bertarget orientasi ilmiah. Lebih dari itu, juga mempunyai barometer yang jelas dan bisa diukur secara obyektif. Bukan rintangan namun tantangan bagi pers mahasiswa.


.
Perempuan Bergelombang


Kembali kuangkat dan kubersihkan ubi-ubi itu dari gerobak yang disodorkan ayah. Tanaman berkarbohidrat tinggi ini akan diolah menjadi panganan godok. Ibu akan menjualnya besok hari, Minggu pagi di pasar. Sudah beberapa bulan ini setiap Sabtu Minggu aku berkutat di dapur. Menyiapkan berbagai panganan. Mulai dari godok ubi, kacang hijau, bakwan, tahu isi, dan beberapa gorengan lainnya. Usaha ibu yang sudah lima tahun terakhir dilakoninya. Penambah uang dapur, kata ibu pada orang-orang. Aku tak bergabung lagi dengan teman-temannku di los pasar lama, 50 meter dari rumahku. Biasanya aku lebih sering di sana, waktu masih sekolah SMP dulu. Sekarang tidak. Apalagi ke sekolah. Ah itu tak mungkin.
“Sudah kau bersihkan ubi itu Mar?” buyarkan lamunku.
“Kau ini, pemalas sekali, minta uang kau bergegas. Gadis apa itu,” dengus ayah sambil berlalu dari dapur ke ruang depan.
Aku hanya diam. Tak kuidahkan. Aku tahu gaek itu selalu begitu. Kalau tak punya uang lagi, pasti emosinya lebih cepat meninggi. Dua hari ini gaek, ayahku, tak berhasil menjerat burung-burung hebat itu. Buruannya tiung. Hewan yang kata orang sudah jarang ditemukan itu ternyata ayah memburunya. Ayah sangat berhasrat memindahkannya dari hutan luas ke rumah kami. Dan itu hanya beberapa hari di rumah. Karena akan langsung di beli oleh orang kaya yang pakai sedan. Baik masih kecil maupun sudah besar.
Berburu beo adalah satu-satunya kerja ayah sejak dulu. Kalau tak salah aku masih sekolah dasar, ayah sudah begitu. Tiga orang kakak laki-lakiku dipekerjakan ayah mencari beo. Hasilnya bagi lima. Dua untuk ayah, selebihnya dibagi oleh kakak-kakakku. Kata ibu itu tak cukup. Dan itu pula yang kurasakan. Sampai-sampai aku yang bungsu ini tak bisa lanjut sekolah lagi. Alasannya, aku tak akan jadi guru. Kenapa harus sekolah tinggi.
“Kalau kau jadi guru, baru aku sekolahkan,” kata ayah, panas. Karena aku selalu merengek pada ibu untuk sekolah lagi, lima bulan lalu.
Kembali aku hanya diam. Tak bisa berkata apa. Badan ayah tinggi besar dan jarang berbaju.
“Panas rumah ini,” katanya.
Cerita kakakku perempuan, nomor empat di atasku, selama ini belum ada yang berani melawan ayah. Siapa melawan, ayah mengharamkan dia jadi anaknya lagi. Ayah kasar, itu di mataku. Dan benar tak ada perlawanan. Namun sekarang dia telah almarhumah. Melawan ayah, itu kata ibu.
Pagi-pagi sekali aku dibangunkan.
“Mar, Maryati..sudah pagi ini. Cepat, ambil air seember untuk mandi beo ini,” pinta ayah di pagi buta.
“Ih, masih gelap ayah. Nanti kan bisa,” elakku di balik selimut.
“Kau, memang gadis pemalas. Tak berguna. Cuma bisa minta uang. Berpikirlah kau Mar,” suara ayah mendekat.
Sirrrr, darahku berdesir. Sangat tak nyaman kedengarannya. Kantukku raib. Pagi ini pun tak lagi dingin. Aku tak butuh selimut. Dan kujawab kata gaek itu.
“Sudah cukup ayah mengataiku gadis tak berguna. Gadis peminta uang,” sungguh, aku amat bengis waktu itu. Walau suaraku belum jernih betul.
“Apa! Kau menjawab juga.” Sekarang ayah telah di daun pintu kamarku.
Diambilnya bantal guling di kakiku dan dihempaskannya ke kepalaku. Aku kaget bukan main. Cepat sekali reaksi itu. Aku sudah duduk di bibir dipan. Dan gaek pun berlalu. Amat sakit, bukan kepalaku, tapi hatiku. Sebenarnya aku tak mengundang tangis itu. Tapi ia datang juga. Dan aku berusaha mengusirnya, hingga aku sesenggukan dengan sangat ganjil.
Ibu kemana. Aku mencari ibu. Sampai di dapur, aku temukan ibu baru pulang dari sungai belakang rumah. Sehabis membuang hajat besar, itu biasa di pagi ini. Aku duduk di atas lesung. Ibu mendekat.
“Sudah salat subuh kau Mar?”
Aku diam.
Kusut mukaku tak bisa kusimpan. Dan memang aku tak berniat menyimpannya.
“Bertengkar lagi kau dengan ayah?”
Lagi, aku diam. Dan tak membalas tatapan ibu.
Cepat-cepat ibu ke luar, mungkin menyusul ayah. Sambil mengingatkanku lagi salat subuh.
***
“Ibu, aku belum mau kawin,” pintaku pada ibu.
“Kau mau jadi apa ha!, apa kau berzina dulu, baru kau mau kawin seperti anak si anu itu!” hardik ayah.
Untuk kesekian kalinya aku hanya diam. Termasuk untuk masa depanku. Kenapa aku ini. Siapa yang sudi menikah, berumah tangga dengan umur yang ‘amis’ ini. Kupinta bantuan pada kakak-kakakku yang hadir waktu itu.
Laki-laki yang tua berkata,”Sampai kapan kau akan menyusahkan ibu untuk membelikan bedak-bedakmu, Mar?” lebih halus dari ayah.
“Kau kan sudah kenal dia, lima minggu ini Mar, kalian akan cocok kok,” bujuk kakakku yang baru selesai bersalin, dua minggu lalu.
“Lagi pula, dia sudah berpengalaman dari kau, sebaya pak Ilis ya Uda?” begitu jalan keluar dari kakak iparku yang perempuan.
Apakah ayah tak sadar akan umurku yang baru 15 tahun ini. Menikah di usia dini, sehatkah. Aku masih ingin berkumpul di los. Aku masih ingin berkeliaran di pasar selagi ibu berjualan kue. Dan aku tak pernah membunuh niatku untuk sekolah lagi. Walau itu hanya paket. Hanya aku yang mempunyai ijazah dua buah di rumah ini. Dan sekarang untuk ketiganya itu tak dibolehkan. Semua kakak-kakakku tak tamat sekolah dasar. Mereka hanya diperkenalkan dengan huruf a, b, c, d, dst sampai z. Dan hanya mahir mengeja. Kalau berhitung lebih selangkah dari membaca.
Tapi, bukan berarti tidak sekolah justru tak bisa melihat mana yang lebih baik dari yang akan diputuskan. Pintaku pada mereka. Orang-orang disekelilingku, rata-rata sekolah mereka tinggi. Tetanggaku ada yang jadi guru, dokter, tentara, bahkan hanya tukang kuli pasir di sungai. Namun, aku tak menemukan anggota keluarga mereka dinikahkan sebegini muda. Aku malu. Pada teman-temanku. Pada bapak guruku. Pada orang di sekelilingku. Tapi ayahku tak malu.
“Begini, sekarang kau kawin dengan bujang itu. Jauh-jauh dia kesini. Kasihan kita.” Kata ayah.
“Bagaimana Pik?”
“Si Mar hanya diam, tanda setujulah dia Uda,” itu putusan sepihak ibu.
Duniaku bergemuruh hebat. Musiman awan hitam semakin pekat. Semua selesai sudah. Aku tak berdaya. Aku diam ibu, bukan karena suka, tapi tak terbayangkan akan hal ini sebelumnya. Itu berontakku, namun hanya dalam renungan.
Di kamar aku disuguhkan ibu sepasang baju tidur yang baunya menandakan barang baru. Ini dari ayah, kata ibu. Tak kusentuh. Ibu tak marah dan segera berlalu.
“Wah, banyak sekali ayah membeli gula manis dan kopi,” sorak kakakku yang baru menjadi ibu itu, sambil mengaduk kopi untuk lakinya.
“Itu dari menantu baru ayah,” sela ibu disela-sela derai tawanya.
Tawa antara ibu anak itu semakin kuat serta begitu renyah. Tak lama ditimpali oleh iparku di sebelah. Tak kalah hebohnya dan sangat memuakkan bagiku.
Betul kata kakakku nomor empat di atasku. Masih terngiang segar. Segar sekali. Tak ada yang bisa melawan. Ayah terlalu ‘kuat’ untuk kami anak-anaknya. Pengaruhnya bisa merubah otak siapa saja yang ada di rumah ini. Ibu juga tak luput. Aku korbannya yang mungkin tidak untuk terakhir.
Ayah penentu nasib kami. Mau punya suami yang kuat, ayah bisa carikan. Mau punya suami yang beruang ayah juga bisa carikan. Namun itu tak pernah bertahan lama. Kakakku yang tua nomor dua, cobaannya. Dan sekarang jarum itu mengarah padaku. Tak kuasa kumembalikkannya pada posisi semula. Terlalu berat.
***
Sudah setahun umur anakku, Edo Andinata. Ibunya Maryati, sembilan belas tahun. Dan Andi alias Zulkipli, suamiku sekitar 30-an. Sekarang aku di provinsi yang berbeda dari ayah dan keluargaku yang lain. Namun aku tak berubah. Gelar SMP yang kubawa ke negeri ini tak banyak perannya. Suamiku kuli di pasar mingguan. Kami tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana, 4 x 5 meter. Dan semua perkakas juga sangat sederhana.
“Mar, hari ini aku tak kerja,”
“Janganlah memancing terus Uda, tak banyak guna itu. Cuma buang waktu,”
“Cigoklah beras di peti. Tinggal segenggam.”
Suamiku hanya diam. Dan kembali menarik sarung lusuhnya, meringkuk di dipan beralas pandan. Aku pastikan, beberapa saat lagi ia akan beranjak dan segera ke pasar.
Zulkipli, lelaki yang paling betah denganku sejak dua tahun belakangan. Aku heran dengan diriku. Tiga tahun aku meninggalkan ayah dan ibu. Dan tiga pula lelaki telah meniduriku di rantau ini. Sejak itu, aku poliandris, mungkin.



Sagarmadji, Padang, 2009