Wednesday, 27 May 2009

Nasib Baik Tak Pernah Berpihak pada Si Pembual

Mungkin slogan demikianlah cocok untuk seorang pembual yang tak pernah habisnya membohongi dan ‘meng-ota-i’ orang lain hanya untuk sekedar hiburan diwaktu senggang. Seringkali seseorang membesar-besarkan sesuatu yang padahal hanya masalah sepele. Hal-hal kecil akan menjadi besar dan mengundang orang lain lebih banyak terlibat dalam masalah yang tidak sewajarnya menjadi wah dan menarik khalayak ramai.
Bagi si pembual sendiri, ide untuk membuat suatu lelucon menjadi besar dan dahsyat bukanlah hal yang sulit. Dengan ‘bumbu’ dan ‘mantra’ angek-angek cik ayam persoalan ataupun salah ungkapan dan bicara seseorang bisa menjadi bahan tertawaan sampai sekian waktu. Dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi sebuah pendahuluan yang ‘bagus’ dari awal perkelahian dan pertengkaran antar sesama.
Begitulah ulah dari si pembual. Tak pernah kehabisan ide untuk membuat orang lain tertawa sekaligus kesal dan marah oleh sikap dan sifatnya yang kurang terpuji. Toh walaupun begitu, tidak sedikit orang yang menyukai tabiat seperti ini. Berbagai alasan yang menguatkan pendapat ini. Salah satunya ialah sebagai sumber dan bahan hiburan atau bahasa kasarnya sumber tertawaan bagi orang lain. Biasanya diungkapkan dengan kalimat “Kalau tidak ada kamu, jadi sepi tempat ini” atau “Coba kamu tidak datang, kita pasti sepi,” dan kalau dan jika-jika lainnya. Begitulah ungkapan yang biasa kita dengar dari orang-orang yang menyukai sikap dan sifat ini.
Si pembual yang identik dengan sikap suka bicara, pertama. Akan merasa sangat tidak nyaman jika berada pada suatu tempat yang justru diisi oleh orang-orang yang lebih banyak diam dan bepikir. Kedua, terlalu ‘kreatif’ untuk hal-hal yang berbau cemoohan (ejekan), dan slengekan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan hal yang nyata dan serius.
Yang menjadi hal menarik dari seorang pembual adalah nasib baik jarang berpihak padanya. Toh kalaupun si pembual beruntung dalam sebuah permainan, atau lotre semisalnya, hal ini hanya dikarenakan pada waktu itu ia lagi beruntung dan atau justru bermain curang. Kenapa demikian? Suatu hal wajar dan sangat masuk akal jika orang yang selalu membawa sial akan mengais hal serupa sesuai dengan apa yang ia tanam sebelumnya. Sangat mustahil orang yang baik-baik akan menimpa nasib yang sebelumnya tidak pernah ia perbuat, kecuali hal ini memang disengaja dari sifat benci dan iri dari seseorang.
Untuk si pembual apalagi si pembual besar dan khusus bagi calon pembual yang tidak disadari telah terjangkit ‘virus’ ini jangan pernah berharap akan menerima nasib dan layanan dari orang lain secara wajar dan baik-baik apalagi istimewa. Hal ini dikarenakan sifat dan sikap tadi yang lebih sering menyusahkan orang lain dari pada membantu dan membawa manfaat bagi orang sekitar.
‘Penyakit’ ini sebenarnya sangat berbahaya dan lebih parah lagi bagi penderita yang tidak sadar telah mengidapnya. Bahaya penyakit ini tidak hanya bagi pengidap dan ‘korbannya’ namun juga akan menular pada orang lain yang tidak tahu-menahu sebelumnya.
Khusus bagi si pembual yang telah mengidap ‘penyakit’ ini menahun, cobalah dari sekarang untuk mencari ‘ramuannya’ yang paling manjur dan sangat berkhasiat. Salah satu dari sekian banyak resep yang dapat dipakai ialah mulailah mencoba memahami orang lain dan lebih banyak berpikir. Mamahami orang lain bukan berarti harus selalu serba hati-hati dan tidak berbicara pada orang lain, namun lebih menjurus pada etika, sopan santun, dan keramahtamahan. Bukankah ketika kita diam akan menjadi sebuah pahala dari pada banyak bicara yang tidak berbobot sedikit pun.
Sedangkan anjuran untuk lebih banyak berpikir ialah agar kita lebih paham dan ‘sadar’ terhadap apa yang telah, sedang, dan akan kita lakukan. Semua itu akan lebih maksimal kita lakukan dengan meningkatkan referensi membaca kita. Membaca tidak hanya yang dalam konteks yang tersurat namun juga yang tersirat.
Dan dari hadist Rasulullah Saw, “Jika kamu diam pada si bodoh dengan kata-katanya, maka kamu telah mengajarinya dan jika kamu diam pada si cerdas terhadap kata-katanya berarti kamu telah menambah ilmumu sendiri.”
Menarik dan asyik bukan menjadi seseorang yang selalu memperhatikan kata dan kalimat yang akan keluar dari dirinya. Nah, sekarang kenapa kita tidak mencobanya???
Senja Berselimut

Tatkala kata kabut kalbu penuh berlumurkan petaka bohong
Kerisauanku pada sejarah terdera sudah
Dan kusadari langkah ini berat terseret asa
Kereta ku tak mampu lagi bedakan aku dan kamu
Tak juga dikenal siapa ia

Terlarut dalam mimpi nyata kesemuan hari
Jauhnya pergi tak bisa kucegah dengan kecemburuanku

Pandangannya mengecil di kelok jalan sepi
Tak tampak dalam kesendirian dan semakin kabur dalam benakku

Ah…apa daya semua kenang hanya susunan waktu yang lebih cepat dari waktu ini
Tak berbeda jika dia alami kenyataan waktu justru tak kenal nurani mana yang ia singgahi
Sayang hari ini lebih sore dari hari kemarin dan lampu geladak tak bercahaya lagi ketika kita pernah bercerita tentang senja, waktu, dan lilin

Sunday, 10 May 2009

Latah Berbahasa
Adek Risma Dedees

Semakin banyak penulis memperkenalkan kosa kata baru dalam karya-karya mereka, maka semakin banyak pula terlahirnya manusia-manusia latah, plagiat dan tak bertanggung jawab menggunakan kata-kata tersebut. Kata-kata ‘mewah’ tersebut seolah-olah mampu menyalurkan suatu energi yang akan ‘menyulap’ pendengar atau pemakainya menjadi sosok yang tidak berbeda atau mirip dengan tokoh yang digambarkan mendekati kesempurnaan dalam cerita. Sangat naïf, jika kita lebih percaya dengan kata yang sebatas simbol berbahasa dari pada kekuatan dan kemampuan sendiri.
Fenomena nyata di sekeliling kita adalah penggunaan kata ‘mimpi’. Penggunaan kata mimpi mendapat rating tertinggi dalam berbagai diskusi, khusus diskusi mahasiswa. Kata ini pertama sekali lebih dipopulerkan oleh Andrea Hirata sang penulis fenomenal novel Laskar Pelangi. Salah satu kalimat yang sangat digandrungi adalah ‘ Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu’ (kurang lebihnya seperti itu), sangat dahsyat, walaupun si penyampainya sendiri kurang paham makna kalimat tersebut.
Untuk beberapa bulan terakhir, seiring melejitnya novel Laskar Pelangi, maka melejit pulalah penggunaan kata mimpi bagi pembaca dan orang lain. Sedikit-sedikit persoalan dihubungkan dengan mimpi. Adakalanya sampai dijadikan sebuah slogan dan motto hidup.
Tidak hanya kata mimpi, kata bermartabat yang biasanya lebih sering dijumpai pada tema seminar-seminar, konstruksi, main set (bingkai berpikir), cerdas, dll semakin akrab di telinga kita walaupun terkadang penggunaanya terkesan dipaksakan. Ketika penggunaan kata tersebut tidak sesuai dengan benda atau symbol yang diwakilinya, maka akan menimbulkan kerancuan makna dan tanpa disadari pemakai, telah menodai hakikat bahasa. Hakikat bahasa yang memiliki sistem sendiri, dalam penggunaannya tentu pula memakai sistem yang telah ditetapkan.
Tidak salah jika seseorang begitu ‘mengagungkan’ dan ‘mengidolakan’ kata tersebut. Yang salah adalah ketika si pemakai semaunya menggunakan bahasa dan tidak tahu-menahu tentang peran bahasa yang sebenarnya ia gunakan. Ketidakseimbangan ini yang akan menjadi masalah besar dan menimbulkan perpecahan, hanya dikarenakan si pemakai tak tahu dan tak mau tahu aturan.
‘Penodaan dan pemerkosaan’ terhadap bahasa memang belum begitu mendapat sorotan dari berbagai pihak, namun apakah hal ini akan semakin dibiarkan dan ditelantarkan tak tentu arah. Bahasa sebagai aset terpenting nasional dan budaya, kekayaan yang tak kan tergantikan, jika kita lengah dan lalai dalam memproduktifkan bahasa sebagai icon bangsa, maka tunggulah bahasa persatuan ini akan semakin luntur dan hancur tergilas waktu.
Kita sebagai pengguna aktif bahasa, dan jika kita sebagai makluk yang merebut keteraturan penggunaan bahasa secara janggal dan kasar, bagaimana kelak dengan bangsa lain yang akan lebih semena-mena memakai bahasa kita tanpa rasa. Kerisauan sekaligus ketakutan. Bukankah penjajahan gaya baru adalah ketika penjajah mulai menguasai otak dan pikiran korbannya terlebih dahulu. Salah satunya ialah melalui bahasa.
Bahasa Indonesia, bahasa ibu bagi bangsa ini, tak kan ada yang menghargai selain kita. Kita sebagai penerus tahta dan tampuk negara, sudah selayaknya memperhatikan dan menilai perkembangan bahasa dari waktu ke waktu. Apakah kita akan selalu berdiri menepi dan menunduk ketika orang lain mengobok-obok hak milik kita (bahasa) semaunya. Dan tentunya kita malu jadi bangsa yang selalu meniru bukan??

Saturday, 9 May 2009

Catatan Kuliah

Adek Risma Dedees

Sstttt…..Diam, Lagi Doa Ni

“Jangan ngota lah fren…”

Demikian ungkapan seorang teman sambil berbisik ketika sedang mengikuti upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei lalu. Ungkapan itu ia sampaikan ketika pak rektor membacakan pidato resmi Hardiknas. Pidato yang dibacakan rektor memang lebih panjang dari pidato lainnya, misal pidato sambutan pembukaan atau peresmian suatu gedung, dan sebagainya. Tak heran jika hal ini cukup membosankan bagi pendengar, apalagi jika mendapat barisan di bagian ketiga, keempat atau justru di belakang.

Penyampaian pidato yang kurang menarik tersebut, bagi mereka, mengundang teman-teman untuk ‘berpidato’ pula di belakang. Apa yang mereka ‘pidatokan’? Beragam. Mulai dari curi-curi pandang pada mahasiswa lain yang tidak hanya beda fakultas tapi juga pada siswa menengah atas yang sejajar barisannya. Sedikit lucu, tapi inilah realnya. Selain itu, memelototi penampilan mahasiswa lain, maklum cewek. Membicarakan hal pribadi, mulai dari anak kucing yang baru lahir tadi subuh sampai pada kasus perceraian selebritis. Ah, terlalu panjang jika harus dibahas dari A sampai Z.

Saking asyiknya mereka ‘mendiskusikan’ petualang yang didapat dari teve, diselingi tawa cekikikan layaknya hantu-hantu gaul seperti yang disinetron. Sampai-sampai lupa bahwa mereka sedang mengikuti upacara Hardiknas dan di depan sana adalah pimpinan kampus mereka yang sedang kepanasan membacakan pidato. Sekilas miris sih menyaksikan tingkah mereka yang jauh dari etika pendidikan. Namun, sekali lagi ini realnya di lapangan.

Meskipun demikian, ketika akhir penutupan acara, sewaktu membacakan doa, tiba-tiba suasana hening. Hening seperti berada di kuburan. Tak ada suara-suara sumbang di belakang. Tak ada tawa cekikikan kuntilanak. Tak ada yang melirik kiri kanan sambil senyam-senyum. Ajaib. Namun, sebenarnya wajar saja.

Kenapa wajar? Karena memang begitu adabnya. Mulai dari sekolah dasar sampai perkuliahan ini, memang harus demikian. Mungkin kurang tepat kalau ‘harus demikian’ tapi budaya yang memperkenalkan, kalau sedang berdoa itu harus diam. Kalau tidak diam, pendapat sebagian teman-teman, terkesan tidak menghormati Tuhan YME. Kalau sudah tidak menghormati Tuhan YME, maka tunggulah kutukan dan kekualatan menimpa diri dalam waktu dekat, tambahan pendapat teman yang suka cekikikan. Sedangkan yang lain mengomentari, doa adalah sesuatu yang sakral, jadi harus serius, kalau bercanda, sempat dilirik pak rektor batal dapat beasiswa. “Ingat itu,” tegasnya. Apa hubungannya? Gak nyambung dong. Kalimat yang tidak sinkron antara sebab dan akibat.

Tidak tahu pendapat mana yang mendekati kebenaran, benar, ataupun melenceng. Namun yang jelas budaya diam sewaktu berdoa selalu mewarnai di setiap upacara-upacara bendera. Hal ini sangat bertolak belakang sekali dengan ketika pembina upacara menyampaikan sambutan atau amanatnya. Bertolakbelakang, konyol, ajaib yang sering dijumpai, kurang pantas, namun asoy. Demikian simpulan kami.

Termudah Menjadi Orang yang Gampang Senyum

Senyum adalah sedekah. Senyum dapat mencairkan suasana dan mengakrabkan diri dengan orang lain. Tapi kita terkadang agak sulit untuk tersenyum. Terlebih jikaharus foto bersama. Tak peduli wajah anda fotogenik atau tidak, kalau tidak senyum rasanya kurang memikat.

Bagaimana caranya agar anda menjadi ornag yang mudah senyum??? Caranya gampang. Lakukan kiat-kiat mudah berikut:

1. bercerminlah

2. lihat wajah anda di cermin

3. bayangkan anda sedang menerima uang, atau berjabatan tangan dengan orang yang anda kenal atau bayangkanlah hal-hal lain yang membuat hati anda merasa senang dan gembira.

4. rasakanlah kesenangan itu hingga wajah anda tersenyum dengan sendirinya. Mungkin anda pernah menerima uang atau hadiah yang membuat hati anda berbunga-bunga. Coba anda ingat, wajah anda langsung tersenyum, bukan??

5. lakukanlah beberapa hari setiap kali anda bercermin.

6. ketika anda ingin difoto dan fotografer akan bilang cheese, bayangkan terlebih dahulu trik tadi. Anda pasti langsung tersenyum.

7. jika anda suda terbiasa, maka bawah sadar akan mengambil alih fungsi ini. Jadi setiap kali anda ingin tersenyum, dengan otomatis anda akan tersenyum.

Percayalah, saya sendiri sudah mempraktekkan dan membuktikannya... maka mulai sekarang berilah senyuman termanis yang anda miliki kepada saudara anda, tapi ingat jangan sampai senyum anda mengandung arti negative bagi orang lain…^_^ (dari berbagai sumber)

Thursday, 7 May 2009

Sajak Adek Risma Dedees

Cerita setangkai mawar putih dan kekalutan

Deretan pagar bonsai

Luruhkan hatimu ketika laluinya

Tiga ramadhan lalu, kau masih bersamaku

Hiasai pelupuk matamu nan sayu

Ah, kau begitu putih

Tuk sebuah pengorbanan

Jangankan tangis, matamu tak berbisik lagi

Tangan ini, eluskan jenggot bonsai itu pada wajahku

Tiga ramadhan lalu, kau masih bersamaku

Derai tawa, temani bibirmu

Ya, kau begitu putih

Tuk sebuah pengorbanan

Tinggal kampung ini, ketika kau belakangiku

Dan si putih ini, merbaknya merona lagi

Cekal tenggorokanku pagi itu

Namun roda tak mungkin kuhentikan berputar

Ah, biarlah

Mati pun aku tlah sendiri

Lepaskan

Berat, ikhlasnya

Lemah, bisikannya

Kau jajari keretamu dengan ku

Kau kadokan sebuah senyuman iringi jalanku

Satu, dua, tiga lamanya

Ku mulai enggan bawa keretaku karena kau, bersamamu

Ku lepaskan tawaku karena kau, sambutanmu

Empat, lima, enam lamanya

Awan berirama

Mentari pun bernada

Keretaku berkeping, kau mengabur

Keretaku rongsok, kau tak terlihat

Keretaku hancur, kau semakin sayup

Hei!

Keretaku,,,keretaku,,,

Jika kau betah, ambil kembali kadomu

Sajak Adek Risma Dedees

Hikayat Nenek Tak Bersamar

“Tanganmu alirkan semangatku. Mencuat lagi di pagi ini. Lekaslah jalani arung jeram ini. Begitu, jika ingin bebas dari kungkungan. Ya, kehijauan, dan keemasan semburat mentari, hangati jalanmu. Begitu, damainya tanah ini. Kami dekati, kami jamah, dan kami kuasai. Tak kan kami lari dari pekatnya abad ini. Begitu, tetapkan hati”.

Beriak awan ini, hingga aku hadir. Tapi tanganku tak mengalir. Sudah kucoba. Sama saja. Semua, lamat-lamat terjeram. Aku terpekik. Sama saja.

Kungkungan ini hantarkanku ke sudut tak bertepi. Sama saja.

Hingga huruf-huruf tak bermakna. Dan suara tak berkasta lagi.

Semakin sama jika kita tak berkaca.

Bunuh Diri, Solusi ‘Cerdas’ yang Tak Pantas

Oleh Adek Risma Dedees

Baru-baru ini, hampir disetiap media massa baik cetak maupun elektronik, lokal maupun nasional, kembali membahas tragedi pembunuhan dengan cara bunuh diri. Apakah itu dengan gantung diri, seperti yang dilakukan Hendriadi, warga Jorong Gantiang, kenagarian koto Tangah, kabupaten Agam (Singgalang, Minggu 26/4), memotong urat nadi, meminum racun, melompat dari ketinggian, menusuk bagian tubuh, dan menembak diri, seperti yang dilakukan oleh Kapolsek Padang Utara Ajun Komisaris Polisi Asril Radjam. Ini hanya segelintir dari kasus pembunuhan di sekeliling kita. Belum lagi dari kalangan rakyat biasa, bunuh diri juga sesuatu yang jamak. Namun, karena yang bunuh diri hanya rakyat biasa dan tidak cukup punya nilai berita maka bunuh diri seorang buruh miskin, pemuda yang sedang patah hati atau anak yang gagal masuk universitas tidak begitu menjadi sorotan.

Semakin maraknya kasus bunuh diri yang tidak hanya dilakukan dari kalangan masyarakat biasa namun juga oleh mereka yang di ‘atas-atas’ sana, membuktikan kalau bunuh diri sudah mendapat ‘tempat’ di hati masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Bunuh diri telah dianggap sebagai sebuah solusi yang ‘cerdas’ untuk menyelesaikan masalah. Dengan bunuh diri semua problema yang sedang mendera dan membayang-bayangi seseorang (mungkin) akan terselesaikan dengan lebih mudah dan sempurna. Padahal anggapan ini sangat tidak sesuai dan bertentangan dengan hakikat kehidupan manusia itu sendiri.

Kenapa mereka bunuh diri? Apakah karena faktor ekonomi, dililit hutang dan kemiskinan misalnya, depresi, psikosis atau gelisah, dipermalukan atau direndahkan oleh teman sejawat maupun pacar, atau pun juga karena tarjadinya kekerasan keluarga, termasuk fisik, atau penyalahgunaan seks. Banyak faktor yang melatarbelakangi kasus ini, yang membuatnya semakin ‘digemari’ di masyarakat.

Ketika seseorang mencoba menyudahi kehidupan ini dengan disengaja ataupun dipaksa (bunuh diri) maka semakin teranglah bahwa mereka (korban bunuh diri) sebelumnya tidak mengetahui bagaimana kehidupan setelah mati. Pengetahuan setelah mati bukankah diperoleh dengan mempelajari agama dan kepercayaan yang dianut. Untuk daerah Sumbar, pengetahuan ini diajarkan tidak hanya di bangku sekolah, namun juga di tempat-tempat nonformal lainnya. Dan itu pun tidak hanya diajarkan pada anak-anak yang sedang menempuh pendidikan. Di lembaga lainnya juga seperti itu. Katakanlah di sebuah departemen, instansi, lembaga publik baik swasta maupun negeri, walupun porsinya tidak sebanding pada dunia pendidikan.

Kasus bunuh diri akan berbeda jika pada negara atau daerahnya tidak diajarkan tentang kehidupan setelah mati. Indonesia yang terkenal dengan negara religius, hampir pada setiap lembaga mempunyai badan atau semacam bidang yang menangani tentang keagamaan. Berbeda jika kasus ini dibandingkan dengan Korea, di sekolah anak-anak, remaja, maupun dewasa tidak belajar agama. Mereka hanya diajarkan tentang moral, baik dan buruk bukan tentang kehidupan lain setelah dunia dan mati. Mereka tidak mengenal akan ada balasan tentang apa yang telah diperbuat sewaktu hidup di dunia. Mereka tidak tahu tentang surga dan neraka. Hal ini sangat bertolak belakang dengan Indonesia. Walaupun demikian, tetap saja kasus bunuh diri semakin menonjol di negara ini. Alasannya, mungkin saja agama dan kepercayaan sudah tidak dipelajari dan tidak dipahami lagi maka wajarlah seseorang tidak mengetahui betapa hinanya mati dengan cara seperti ini.

Indonesia, salah satu negara yang sedang berkembang, masalah ekonomi, sosial, kebudayaan, kesehatan, kependudukan maupun keagamaan tentu tidak begitu stabil jika dibanding dengan negara maju lainnya. Ketidakstabilan ini salah satu pemicu yang menyebabkan depresi, strees, dan kehilangan kontrol diri ketika menghadapi permasalahan diri. Walaupun demikian, bukan berarti bunuh diri dianggap jalan utama untuk menyelesaikan masalah. Apalagi jika bunuh diri dianggap salah satu cara untuk mengurangi kepadatan dan perkembangan penduduk, tentu cara ini sangat tidak elegan, tidak bijak, dan tidak pantas.

hari yang seksi

Cinta Ala Beli Sepatu

Oleh Adek Risma Dedees

Banyak fenomena sekarang dalam kehidupan kita yang semakin bergeser kepada hal-hal yang sebenarnya tidak ditemukan oleh leluhur kita zaman tempo dulu. Sebut saja cara berpacaran anak muda. Justru sekarang lebih berani dengan mengatakan cara bercinta. Dasyat dan terlalu berani dengan kata-kata dan kalimat seperti ini. Tulisan ini adalah refleksi pengalaman dari proses pembelajaran penulis di bangku perkuliahan.

Salah satu dosen begitu berani ‘menelanjangi’ hobi mahasiswanya tentang kegiatan cinta-cintaan baik di kampus, di kos, di pasar, di bus kota, ataupun di jalan raya. Sang dosen dengan gamblang mengatakan kalau anak muda sekarang tidak kenal dengan kata malu lagi. Malu telah bergeser menjadi kesenangan sendiri-sendiri antar individu. Ya, itulah malu. Malu tidak seperti waktu sang dosen muda dan belum mengarungi bahtera rumah tangga. Malu itu hanya symbol pada waktu ini. Malu ya si malu yang tidak tahu-menahu dengan si pemberani. Main hantam, main cuekin orang lain, main mainan yang aneh dan main lainnya.

Menyinggung masalah pacaran dan cinta-cintaan, sang dosen memulai ceritanya dari cara seorang lelaki membeli sepatu di toko ataupun di pasar loak. Biasanya sebelum membeli, sudah menjadi kebiasaan bahkan sebuah kewajiban bagi si pembeli untuk mencoba sepatu tersebut. Sepatu disorong dan dipaskan pada kaki dengan berbagai pertimbangan. Di bawa berjalan-jalan di tempat yang tidak begitu jauh dari kedai sepatu, kadang kalanya sepatu dihentak-hentakkan pada lantai, hal ini untuk membuktikan kalau sepatu tersebut kuat, tahan atau tidak.

Setelah puas mencoba sepatu yang sedang dijual tersebut, kalau si pembeli tertarik dan berminat, maka sepatu akan menjadi hak milik si pembeli dangan perasaan senang dan puas. Bagaimana kalau sepatu ternyata ada yang sedikit lecet, sobek belahan kirinya yang memungkinkan semut menyelundup masuk ke dalam sepatu, warna sepatu yang telah mulai memudar karena terlalu sering dipajang dan disorong calon pembeli. Belum lagi harga yang tak kunjung turun dari harga semula, ukuran sepatu yang sedikit kebesaran yang tentunya akan mempengaruhi penampilan si pembeli, serta tetek bengek alasan lainnya. Ujung-ujungnya sepatu tak jadi dimiliki tanpa sedikit pun penyesalan dari si pembeli.

Nah, bagaimana dengan cara berpacaran anak muda sekarang? Manurut sang dosen fenomena beli sepatu adalah salah satu dari sekian perwakilan cara dan bentuk pengungkapan cinta generasi muda sekarang. Pengungkapan cinta yang tidak sehat, tidak tulus, tidak kasih, dan tidak beradab. Pahit dan kejam mungkin pernyataan ini. Namun inilah yang terjadi di lingkungan kita (saya dan pembaca yang budiman). Lingkungan kita yang katanya lebih maju dan lebih canggih. Maju dan kecanggihan kita mungkin perlu dipertanyakan lebih dalam lagi. Maju itu seperti apa kita? Canggih bagaimana sih bentuknya kita beserta kebudayaan? Semuanya hanya sebuah kamuflase yang jika kita tak cepat-cepat sadar maka tunggulah si kamuflase menyeret kita pada kedudukan yang justru setan-setan ‘berpolitik’ di sana.

Cara bercinta anak muda sekarang, demikian kata sang dosen, sebelum ‘dicoba’ pantang berpaling. Si jantan tidak akan kemana-mana, tidak akan beranjak pada posisi semula dengan berbagai tujuan dan target-terget yang ingin cepat-cepat dicapai. Jika semua tujuan dan target terlaksana dengan sukses, ada-ada saja yang membuat ‘sepatu’ tak jadi dipakai lebih lama lagi. Dengan lebih murni lagi sang dosen mengungkapkan, si betina ‘dicoba’ dulu baru dipikir-pikir jadi atau tidak. Si jantan pun pada era kini tak segan-segan lagi untuk ‘mencicipi’ si bunga. Tak ada basa-basi apalagi rasa malu diantara mereka. Kalimat ini bukanlah untuk semua pejantan dan si betina secara universal, namun hanya untuk sebagian.

Apa yang menyebabkan mereka seperti ini? Moral dari dalam diri yang semakin memudar dan lama-kelamaan akan habis terkikis oleh waktu. Moral akan semakin sedikit menempel pada diri kita, jika tidak berusaha untuk lebih menebalkan dan memupuknya. Moral berasal dari dalam jiwa (internal), ternyata mereka menganggap justru dari luar diri (eksternal). Ketika moral bercampur dan langsung masuk ke dalam diri seperti pengetahuan dan wawasan yang di peroleh dari lingkungan, maka susahlah berkembang kebaikan dan kebenaran itu.

Untuk itu, pesan dosen saya, mulailah membenahi hidup kepada yang lebih baik. Jika anda sehat dan normal, maka anda akan bisa membedakan mana yang baik dan pantas, dan mana yang hina dan tidak pantas. Kita dididik bukan untuk hanya pandai namun juga cerdas, cerdas terhadap lingkungan, masyarakat, diri sendiri, bahkan pada si tambatan hati.